Pesona Bastem, Negeri Para Leluhur Tak Kalah dari Lolai, Kaya dengan Potensi – Palopo Pos
Luwu

Pesona Bastem, Negeri Para Leluhur Tak Kalah dari Lolai, Kaya dengan Potensi

Cerita tentang keindahan Kecamatan Basse Sangtempe (Bastem) seakan tidak pernah habisnya. Setelah sejumlah objek wisata dikupas habis dalam edisi Palopo Pos pekan lalu. Kini, Kecamatan tertinggi di Kabupaten Luwu ini ternyata memiliki potensi alam “Negeri Diatas Awan” sama yang dimiliki Toraja Utara.

Idris Prasetiawan, Bastem

Banyak desa di Bastem yang menyimpan potensi wisata panorama mirip Lolai, diantaranya Desa Sa’ku. Untuk menuju kesana cukup menguras tenaga sebab harus menempuh perjalanan melintasi jalan yang ekstrim dan cukup menantang.

Tempatnya dekat dengan perbatasan Lembang Sumalu, Toraja Utara. Nama daerah tersebut dikenal masyarakat setempat dengan nama “Le’ke Tongka”.

Dari sana kita akan melihat keindahan Bastem dari ketinggian. Bahkan, ketika pagi menjelang, maka gumpalan awan mirip ombak pun akan nampak indah tepat berada dibawah. Mirip Lolai di Toraja Utara.

Namun, sebelum sampai spot andalan diujung puncak gunung Le’ke Tongka, kita akan melewati padang rumput yang cukup luas. Oleh masyarakat setempat digunakan sebagai lahan menggembalakan ternak.

Anggota DPRD Sulsel Abdul Hafid Pasiangan yang juga Ketuam KKBS mengaku jika spot ini adalah yang terbaik di Bastem untuk bisa melihat keindahan “Negeri Diatas Awan”. Dari puncak ini pula, kata Hafid, kita akan bisa melihat pegunungan Latimojong, dan sejumlah daerah di Noling. Bahkan, jika beruntung, kita akan melihat matahari terbit (sunrise) dari sela-sela pegunungan.

Kecamatan Bastem selain terkenal dengan banyak panorama indahnya, juga merupakan tanah leluhur dari para pejuang kemerdekaan. Sebut saja ada Pong Tiku, dan Pong Simpin. Dari daerah ini mereka lahir untuk membantu perjuangan kemerdekaan melawan penjajahan Belanda.

Dari Bastem pula lahir perpaduan budaya Toraja dan Luwu. Dalam acara reuni Tongkonan Kaparennesan Sa’ku, dihadiri sejumlah marga keturunan dari asal mula leluhur mereka yakni, Puang Pakulla dari Toraja dan Datu Lullung dari Luwu.

“Dari pasangan inilah melahirkan banyak generasi yang beranak pinak. Ada yang ke Toraja dan ada yang di Bastem, semuanya menyebar,”kata Hafid.

Di Bastem pulalah asal mula tongkonan dibuat, yang bentuknya merupakan perpaduan Bugis dan Toraja. “Tongkonan ini mempersatukan keturunan Luwu dan Toraja. Inilah benderanya Bastem. Bentuknya mirip rumah Bugis panggung dan Alang-nya bentuk dari Toraja,” paparnya.

Meskipun sekarang ada buku yang bercerita soal Bastem, lanjut Hafid, namun ternyata masih didapat ada kekeliruan dalam penyusunan nama silsialh leluhur. Untuk itu, Hafid pun meminta maaf dan mengharapkan rumpun keluarga Bastem untuk memberikan kontribusi dalam penyusunan revisi buku Bastem dalam Perspektif Sejarah dan Budaya. (*)

Most Popular

To Top