Manila : Negara Jangan Mudah Diadu Domba – Palopo Pos
Walmas

Manila : Negara Jangan Mudah Diadu Domba

* Sekretaris Watimpres Pada Seminar Silatwil BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia Timur

PALOPO — Sekretaris Watimpres, Mayjend (Purn) Dr (HC) IGK Manila SIP menilai mahasiswa telah memahami bela negara dengan baik. Itu setelah menyimak pertanyaan maupun argumen yang dilontarkan peserta Seminar Bela Negara di gedung Muhammadiyah Convention Center (MCC) Km. 3 Binturu, Palopo, Kamis, 24 November 2016 kemarin.

Seminar bela negara dengan tema “Peran Pemuda Indonesia Timur Menuju Indonesia Berkemajuan” merupakan rangkaian kegiatan Silaturahim Wilayah (Silatwil) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se Indonesia Timur yang dipusatkan kampus STIEM Palopo pada 24-27 November 2016. Diikuti utusan BEM dari 36 PTM se Indonesia Timur.

Tampil sebagai narasumber adalah Sekretaris WatimPres dan Kapolres Palopo yang diwakili Kapolsek Wara AKP Drs Arsyad Kaonga. Jalannya seminar dipandu oleh Ketua III Bidang Kemahasiswaan STIEM Palopo, DR Muh Risal SE MSi.

Di hadapan sekira 400 mahasiswa Muhammadiyah, Sek-WatimPres memaparkan materi bela negara. Menurutnya, pertahanan negara adalah sumbu utama untuk menangkal hal-hal negatif yang mungkin terjadi dalam menggoncang kedaulatan negara. Landasan utama untuk menjaga kedaulatan negara tersebut diantaranya dapat melalui pendidikan.

Sekarang ini, radikalisme mulai mengancam anak bangsa, dimana anak bangsa merupakan masa depan Bangsa Indonesia. Pendidikan, terutama pendidikan tinggi dapat menangkal radikalisme yang dapat mengganggu keharmonisan, keberagaman, dan kedaulatan negara.
”Saya menghimbau kepada seluruh peserta seminar agar kita paham tentang bela negara dan melawan radikalisme. Supaya negeri kita ini tidak mudah diadu domba,” terangnya.

Dalam seminar ini sempat terjadi dialog antara narasumber dengan peserta. Pertama yaitu Edi Setiawan dari Barru. Ia mengungkapkan TNI adalah aset negara yang paling berharga. Ia memberi masukan agar TNI membangun hubungan secara khusus dengan para pemuda.
Kedua yaitu, Indra Abadi dari Sulawesi Tengah. Ia menanyakan mengapa hukum di negara ini tumpul ke atas tajam ke bawah. Serta menanyakan bagaimana tindakan pemerintah dalam menanggapi hal tersebut.

Setelah sempat terjadi dialog beberapa lama, narasumber menanggapi bahwa dari beberapa masukan tadi, maka ia menyatakan bahwa seminar ini telah berhasil dikarenakan semua peserta telah paham apa itu belanegara. ”Melalui masukan-masukan dan pertanyaan yang diberikan kepada narasumber dan membuat seminar ini telah mencapai apa yang diinginkan,” ungkap Manila. (mg1/ikh)

Most Popular

To Top