Dua Anaknya Ikut Disandera – Palopo Pos
Utama

Dua Anaknya Ikut Disandera

* Punya Utang Rp20 Juta, Pasutri Ngadu ke DPRD

PALOPO — Pasangan suami istri (pasutri) asal Kelurahan Benteng mengadu ke komisi I DPRD Palopo, Senin 27 Februari 2017. Pasutri ini mengaku dibelit utang sebesar Rp20 jutaan.

Seorang anak tampak menangis di pelukan bapaknya. Di ruangan komisi I, mereka juga curhat anaknya ikut disandera. Karena utang belum lunas.

Pemberi utang nekat menyandera dua anak kembali terdengar di Palopo. Katanya, bayar utang dulu, baru anak kembali. Ironisnya, yang melakukan dugaan penyanderaan itu adalah kerabatnya sendiri.

Ninin Aditia Maharani, 31 tahun, warga Benteng Raya, Kelurahan Benteng, Kecamatan Wara Timur, Senin 27 Februari 2017, kemarin, mendatangi kantor DPRD Kota Palopo. Dia menemui anggota komisi I DPRD Kota Palopo. Wanita ini diterima oleh Abdul Jawad Nurdin. Di DPRD, Ninin mengadukan permasalahan yang menderanya.

Ninin mengaku, dua orang anaknya, Kanaya yang masih 10 tahun dan Maheswa berusia 8 tahun dalam penguasaan anggota keluarganya yang lain. Mereka menyandera anak-anaknya, karena Ninin belum mampu melunasi utang kepada anggota keluarganya sebesar Rp20 jutaan.

“Empat anak saya diambil tanpa sepengetahuan saya. Ini penculikan. Mereka mau mengembalikan anak saya kalau sudah bayar utang. Untung saja, saya berhasil merebut dua orang anak saya. Sisa dua orang lagi masih disandera,” tutur Ninin.

Ninin sangat menyesalkan apa yang dilakukan oleh kerabatnya itu. Masalah utang piutang kok melibatkan anak yang tak berdosa.

Untuk permasalahan ini, Anggota Komisi I DPRD Palopo, Abdul Jawad Nurdin akan mengambil langkah pendekatan secara kekeluargaan. “Kita coba memediasi kedua belah pihak. Dinas Sosial juga akan kami libatkan dalam masalah ini,” sebutnya.

Jawad juga mengungkapkan, sebenarnya pertemuannya dengan Ninin bukan pertama kalinya. Sebelumnya, Jawad mendapati Ninin dan suaminya mencoba melakukan percobaan bunuh diri di salah satu tempat di Kota Palopo. Mungkin karena putus asa.

“Kemarin saya dapati mereka coba bunuh diri, beruntung kala itu saya melintas dan mendapati mereka, Alhamdulillah saya berhasil mencengah mereka bunuh diri, dan mengarahkan mereka untuk bertemu saya di kantor. Orang tua mana yang tidak bersedih kalau empat orang anaknya direbut orang,” tandasnya.

Sementara itu, Anggota DPRD Palopo, Abdul Jawad, membenarkan bahwa pihaknya menerima seorang ibu yang datang mengadu ke komisi I DPRD Palopo yang memang bertugas menangani masalah anak. “Iya memang ada,” sebut Jawad.

Jadi, kata dia, ibu ini bersama suaminya memiliki hutang sama orangtua dan saudaranya sekitar Rp20 jutaan. Karena tidak mampu membayar, anaknya disandera sampai empat orang. Ada yang umur sekitar dua tahun, lima tahun, 9 tahun, dan 10 tahun.

“Anaknya ini disandera. Nah ini yang buat suaminya stres dan pingsan, setelah dilaporkan ke polisi, dikembalikan dua orang, anak bungsu,” ujarnya.

Jadi, kata dia, memang agak rumit juga ini masalah. Di satu sisi orang ini tidak bayar hutangya, anaknya disandera oleh keluarga. ”Jadi, kami sarankan tadi agar kembali bertemu keluarganya, bicara baik-baik, jika memang anaknya disandera, nanti kami akan fasilitasi. Bisa saja menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat pemerhati anak, bagaiamana jalan keluarnya, karena persoalan orang tua, anak jadi korban,” ungkapnya.

Dilapor Gelapkan Mobil

Kasus sandera anak ini jadi menarik diikuti. Sebab, di kepolisian, justru Ninin dilapor atas dugaan pencurian mobil suzuki Splash Warna putih keluaran tahun 2013.

Ninin adalah oknum Pengawai Negeri Sipil (PNS) Pemkot Palopo. Awalnya, Ninin melapor dugaan penculikan dua anaknya ke Polres Palopo. Tapi, tidak digubris pihak kepolisian Polres Palopo.

Di polisi, Ninin dilapor oleh adik kandungnya sendiri, Fiky, yang bekerja di Jakarta. Namun, Ninin membantah jika dirinya mencuri barang milik saudaranya. “Mobil itu ada kok, bagaimana saya dilaporkan pencurian. Cuma mobilnya saya gadaikan kepada tetangga karena saya butuh uang Rp20 juta dan saya sudah janji kepada tetangga saya untuk mengembalikan uang itu pada bulan April nanti,” ucap Ninin.

Berangkat dari kasus tersebut, dua anak Ninin terpaksa jadi korban. Betapa tidak, kedua anaknya harus ikut dengan nenek dan adik yang melaporkannya ke polisi. Sedangkan dua anak lagi ikut bersamanya. “Ini yang membuat saya keberatan Pak, makanya saya ingin melapor penculikan tapi tidak disikapi polisi,” ketus Ninin.

Ninin juga mengakui hingga petang kemarin kedua anaknya belum kembali ke pangkuannya. “Sejak anak saya mereka ambil, keduanya tak mau lagi ikut bersama saya. Memang, kami sempat ketemu di Polres Palopo Palopo, tapi kedua anak saya lebih memilih nenek dan pamannya. Jadi saya keberatan Pak, karena dari awalnya anak saya memang mereka kuasai. Itu karena ada kaitannya laporan Fiky, adik saya,” aku Ninin.

Karena laporan dugaan penculikan anak tidak diterima, Ninin terpaksa mengadu ke DPRD agar kasusnya bisa kelar. Dirinya berharap agar polisi adil dan jeli melihat kasus yang dilaporkan adiknya atas dirinya. “Saya tidak punya niat menguasai mobil itu. Silakan diambil, tapi saya harus kembalikan dulu uang tetanggaku dimana saya menggadaikan mobil itu,” akunya.

Ninin sedikit mengisahkan, keberadaan mobil Suzuki itu setelah mobil Toyota Rush milik almarhum ayahnya dijual. Kemudian dari hasil penjualan mobil Rush digunakan membeli mobil Suzuki namun dengan cara dikredit. “Nah uang dari mana Fiky membeli mobil Suzuki kalau bukan dari hasil penjualan mobil orang tua kami.

Tentu saya masih punya hak disitu. Jadi apa salahnya kalau saya menggadaikan mobil itu. Memang saya akui di BPKB dan STNK tertulis nama Fiky, tapi atas kesepatkan bersama. Kalaupun saya dilaporkan pencurian karena di BPKB atas nama Fiky mungkin sudah begitu nasib saya. Tapi tolong penegak hukum bersikap adil, karena saya tidak mencuri apalagi berniat menggelapkan mobil itu,” terang Ninin.

Menyinggung soal laporan pencurian, Kasat Reskrim Polres Palopo AKP Andi Rahmat melalui Kanit Resum 1 Ipda Siliwady menjelaskan bahwa dari pelaporkan Fiky tidak ditemukan unsur pencurian tapi mengarah kepada penggelapan.

“Hasil penyelidikan awal BPKB dan STNK atas nama Fiky, adik terlapor. Nah, dari situ jelas bahwa mobil tersebut milik pelapor yang diduga digelapkan Ninin. Soal dari mana uang membeli mobil, itu lain ceritanya. Yang pasti berdasarkan dokumen tadi mobil tersebut milik Fiky. Kenapa? karena ini bukan harta warisan, karena ibu pelapor dan terlapor masih hidup. Saksi juga mengatakan itu mobil Fiky,” jelas Siliwady, kemarin.

Bagaimana cara digelapkan, Siliwady menjelasnya BPKB mobil sebenarnya masih di BRI, yang digelapkan adalah mobilnya bukan dokumennya. “Jadi pelapor menggadaikan Rp20 juta. Ketika mobil ingin diambil oleh Fiky, Ninin kalangkabut karena mobil sudah digadaikan.

Itu artinya, jika Ninin mengembalikan mobil itu, bagaimana dengan utangnya. Otomatis Ninin bisa dilaporkan lagi penipuan karena menggadaikan mobil yang bukan miliknya. Soal laporan penculikan anak yang akan dilaporkan Ninin namun tidak digubris, saya kira tidak ada penyanderaan apalagi penculikan, hanya saja kedua anaknya itu lebih memilih pergi bersama paman dan nenek,” jelas Siliwady.(ich-ara-him/ary)

Most Popular

To Top