‘Bandara Bua Harus Didarati Boeing 737’ – Palopo Pos
Utama

‘Bandara Bua Harus Didarati Boeing 737’

* Utusan Menteri Luhut Saat Pertemuan dengan Cakka

PALOPO — Indonesia tahun 2018 akan kedatangan 18.000 turis mancanegara. Bandara Bua di Luwu diharapkan siap menyambut kedatangan mereka.

Untuk itu, Menko Kemaritiman Binsar Luhut Panjaitan, minta kepada Bupati Cakka dan pengelola bandara untuk menggenjot Bandara Bua. Pesan khusus ini disampaikan pejabat deputinya ke Cakka saat pertemuan. Katanya, Bandara Bua harus bisa didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 737.

Pekan lalu, Deputi IV Bidang Koordinasi SDM, Iptek dan Maritim Kemenko Bidang Maritim dan Sumber Daya, Dr Ir Safri Burhanuddin dan Asisten Deputi Budaya, Seni dan Olah Raga Kemenko Bidang Maritim, Kosmas Harefa ke Luwu.

Mereka diterima langsung oleh Bupati Cakka. Ia didampingi Kepala Bandara Bua, Ir H Syarifuddin MM, dan Kepala Dinas Perhubungan Luwu Drs M Aras Nursalam MH.

Di hadapan bupati Cakka, Burhanuddin berharap kiranya pengembangan bandara Bua dapat digenjot untuk menyambut sekitar 18 ribu turis yang akan berkunjung di Indonesia tahun 2018 mendatang.

”Bulan Oktober 2018 di Nusa Dua Bali akan digelar pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional Bank Dunia (IMF-WB),” ucap dia. Momentum ini oleh Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan harus dimanfaatkan.

Karena ada sekitar 18.000 orang yang akan bepergian menjadi turis di Indonesia, termasuk tujuan berwisata di Sulawesi Selatan dalam hal ini kunjungan ke Tana Toraja. Nah, terkait hal tersebut, infrastruktur pendukung seperti Bandara Bua ini harus siap menerima kehadiran turis-turis ini.

Safri Burhanuddin mengatakan, ribuan turis manca negara di tahun 2018 mendatang untuk melancong ke Tana Toraja dipastikan akan memanfaatkan jalur transportasi udara yang dinilai lebih efisien dan efektif.

“Untuk ke Tana Toraja tentu akan melewati Bandara Bua, karena Bandara di Tana Toraja butuh waktu lama untuk dapat didarati pesawat berbadan besar.

Untuk itu, Pak Luhut minta Bupati Luwu dan pihak pengelola Bandara bisa bekerja sama untuk menggenjot Bandara Bua sehingga bisa didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 737,” tandas Safri Burhanuddin, yang hadir bersama Direktur Operasional Maskapai Penerbangan PT Garuda Indonesia, Capt Novianto Heru Pratomo, Head-Strategy and Development PT Garuda Indonesia Puji Nur Handayani, serta Kepala Cabang PT Garuda Indonesia area Indonesia Timur, Sentot.

Bupati Luwu HA Mudzakkar kepada utusan Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan, Pemkab Luwu sangat berkomtimen mendukung pengembangan Bandara Bua untuk dapat didarati pesawat berbadan besar, termasuk apabila dibutuhkan program perluasan area Bandara Bua.

“Kami sangat siap membantu pengembangan Bandara Bua. Bahkan, jika ingin dilakukan perluasan area. Hanya saja, kami berharap ada kepastian dari pemerintah pusat untuk rencana tersebut.

Sehingga, kejadian beberapa waktu lalu tidak terulang, dimana kami sudah menyiapkan lahan 50 hektar tetapi ternyata program Sekolah penerbangan tak kunjung ada kepastian,” tutur Andi Mudzakkar.

Tagih Komitmen Garuda

Maskapai Garuda Indonesia sudah mendapat tempat di hati masyarakat dalam memilih bepergian menggunakan transportasi udara.

Hanya saja, pihak Garuda diharapkan dapat lebih berkomitmen dalam upaya memberikan pelayanan khususnya di Bandara Bua, yang sampai hari ini masih sebatas janji manis.

Ketua PP IPMIL, Paisal, kepada harian ini, Senin 20 Maret 2017, kemarin, mengungkapkan, pihaknya memberi apresiasi kepada Maskapai Garuda Indonesia yang lagi-lagi memberi janji untuk siap melayani penerbangan di Bandara Bua.

“Maskapai Garuda di hadapan Bupati Luwu lagi-lagi memberi janji untuk memberikan pelayanan penerbangan di Bandara Bua, kami berharap janji bukan sekedar janji manis.

Tetapi harus diwujudkan, karena pada manajemen Garuda juga pernah memberi janji yang sama dua tahun lalu, tetapi apa yang terjadi, justru Maskapai Wings Air yang lebih dahulu memberikan pembuktian dimana merekasaat ini sudah melayani Bandara Bua,” ungkap Paisal.

Direktur Operasional Maskapai Penerbangan PT Garuda Indonesia, Capt. Novianto Heru Pratomo, Head-Strategy and Development PT Garuda Indonesia Puji Nur Handayani, serta Kepala Cabang PT Garuda Indonesia area Indonesia Timur, Sentot melakukan kunjungan di Bandara Bua bersama Kemenko Bidang Maritim, dan bertemu langsung Bupati Luwu HA Mudzakkar yang didampingi Kepala Satker Bandara Bua H Syarifuddin.

“Kami datang kembali ke Bandara Bua untuk melakukan survei lokasi, karena pesawat ATR-72-500 dan 600 kami membutuhkan landasan yang lebih panjang,” Kata Novianto.

Novianto juga memberi syarat, perlunya penambahan sarana prasarana di Bandara Bua, utamanya pada aspek terminal penumpang, serta bundaran tempat berputar pesawat sebelum lepas landas.

“Kita juga mengharapkan Bandara Bua bisa dilengkapi dengan traktor. Fungsi traktor ini adalah untuk digunakan menarik pesawat jika sewaktu-waktu tidak mendarat mulus dilandasan,” kata Novianto.

Di hadapan Bupati Luwu HA Mudzakkar, bahkan pihak maskapai Garuda Indonesia menyatakan kesiapannya untuk memberikan pelayanan penerbangan pesawat ATR-72 di Bandara Bua.

“Kami siap untuk melakukan uji coba pelayanan penerbangan di Bandara Bua satu bulan dalam waktu dekat ini Pak Bupati,” kata Novianto saat makan siang di Aroma Malaja Kecamatan Bua, Kamis, pekan lalu.

Anggota Komisi V DPR RI asal Sulsel, Bahrum Daido, mengatakan, penawaran pengelolaan bandara dari Kemenhub ke pihak swasta atau BUMN hanyalah yang diharapkan memiliki prospek memberikan keuntungan.

“Dari dulu sejak dilantik keinginan Pak Menteri agar semua bandara bahkan pelabuhan itu dikelola BUMN atau swasta, agar tidak ada praktik monopoli,” sebut Bahrum saat dihubungi, Jumat 17 Maret 2017 di Jakarta.

Pasalnya, jika bandara dan pelabuhan tersebut dibawahi pemerintah, maka pemerintah di sini juga sebagai operator. Padahal, pemerintah sebagai regulator.
Saat ditanya tentang kemungkinan Bandara perintis seperti di Bua dan Toraja untuk bisa dikelola BUMN atau swasta, dikatakan Bahrum sangat bisa. Tetapi diperkirakan tidak dalam 1 atau 3 tahun mendatang.

“Harus juga dilihat prospek bandara tersebut. Kalau hanya ada penerbangan 1 atau 3 kali seminggu, tentunya BUMN atau swasta akan berpikir,” ungkapnya.

Namun, jika Bandara Bua dan Toraja sudah ramai dengan penerbangan tentunya akan dilirik untuk dikelola BUMN atau swasta.

Dengan ramainya penerbangan, lanjut Bahrum dari Komisi V DPR akan melakukan pengusulan penambahan panjang runway atau pembangunan terminal penumpang yang lebih besar lagi. (and-idr/ary)

Most Popular

To Top