29 Pasutri Cerai di Bulan Ramadan – Palopo Pos
Utama

29 Pasutri Cerai di Bulan Ramadan

* Anak-anaknya Tak Saksikan Lagi Ibu Bapaknya Bersama di Hari Lebaran

PALOPO — Lebaran sebentar lagi. Umat muslim akan merayakan idulfitri yang identik dengan hari kemenangan. Namun, tidak semua bisa merasakan kebersamaan tersebut. Bisa jadi.

Tengok saja 29 pasang suami istri dari Palopo dan Luwu ini. Mereka memilih mengakhiri bahtera rumah tangga. Sehingga, nikmatnya merayakan lebaran seperti tahun sebelumnya, kini tinggal kenangan. Ya, rayakan lebaran tanpa pasangan.

Idulfitri 1438 hijriah diperkirakan jatuh tanggal 25 Juni 2017. Tersisa delapan hari lagi. ”Padahal, alangkah bagusnya kalau dalam bulan ramadan, jangan dulu putuskan untuk cerai.

Siapa tahu bisa rujuk lagi setelah dimediasi, syukur alhamdulillah. Mereka bisa berlebaran bersama-sama,” ujar Nurul Haq, dosen hukum perkawinan islam pada Universitas Andi Djemma (Unanda), kepada Palopo Pos, Jumat 16 Juni 2017, kemarin.

Ia mengatakan, perceraian walaupun dalam bulan ramadan memang tetap berjalan. Itu sudah menjadi tugas dari PA untuk lakukan sidang. Hanya saja, ia memberikan masukan kalau bisa bulan Ramadan ini dijadikan bahan untuk introspeksi diri dan bisa saling menahan emosinya.

”Hormatilah bulan suci ini. Kalau pun tidak bisa lagi dipertahankan, nanti setelah puasa baru lanjutkan kasusnya lagi,” terang Nurul Haq, yang juga kasi urusan haji dan umrah kemenag Palopo.

Namun demikian, lanjutnya, itu kembali lagi kepada diri pribadi tiap orang. Mana yang mereka anggap baik bagi kehidupan keluarganya. Mereka sendiri yang menjalaninya. ”Sekali lagi saya hanya berikan masukan,” katanya.

BACA JUGA:  Waspada Paham Radikal Masuk Sekolah

Di PA Palopo, 29 perkara yang ditangani di bulan Juni 2017. Perkara ini terdiri dari gugat cerai dan gugat talak. 29 perkara cerai ini sudah ‘incracht’. ”Perkara lain yang masih berproses sebaiknya ditahan dulu sampai lebaran usai,” imbuhnya.

Menurutnya, cerai sebenarnya tidak apa-apa di bulan ramadan. Cuma, itu dibenci oleh Allah. Mereka harusnya bersatu di bulan puasa, makan bareng, sahur bareng, kemudian bersama-sama merayakan hari kemenangan yang tinggal delapan hari lagi. ”Tapi, ini malah pisah. Kasihan juga nanti kalau pas idulfitri tidak ada yang siapkan menu-menu lebaran,” ujarnya.

Ketua Pengadilan Agama Palopo, Drs H Asri, MH, melalui Panitera PA Palopo, Drs Muh Tahir, SH, membenarkan, 29 perkara perceraian putus dalam bulan ramadan ini. ”Otomatis pihak yang telah mengajukan cerai tidak akan melaksanakan lebaran bersama tahun ini. Baik itu dari pihak perempuan ataupun laki-laki yang telah ajukan cerai,” ujar panitera pengadilan, kemarin.

29 perkara yang disebutkan panitera merupakan jumlah keseluruhan sejak bulan Juni 2017 ini. Hanya saja, ia belum bisa merinci berapa cerai gugat dan berapa cerai talak. ”Karena ini masih bulan berjalan. Jadi, nanti akhir bulan baru bisa ketahuan semua berapa cerai talak dan gugat. Itu dari hasil laporan hakim yang menangani masing-masing perkara,” paparnya.

Dijelaskannya, kasus cerai gugat atau istri yang ajukan cerai masih tetap lebih banyak dari pada kasus cerai talak atau suami yang ajukan cerai. “Memang sudah menjadi siklus tahunan. Paling banyak itu istri yang ajukan cerai dari pada suami. Dengan berbagai faktor penyebab,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Bocah Perempuan Tewas Terseret Arus

Adapun faktor dominan sang istri ajukan cerai karena faktor ekonomi. “Bukan karena suami tidak punya uang. Tapi salah satunya memang sang suami yang tidak memberikan nafkah kepada istrinya,” katanya.

Sebenarnya, kata panitera, hakim yang menangani 29 perkara cerai tersebut selalu menawarkan win-win solution. Ada namanya mediasi. Pasutri diingatkan supaya kembali rujuk. Mumpung di bulan suci Ramadan. Kemudian lebaran tinggal menghitung hari lagi. ”Kasihan nanti sendiri merayakan lebaran. Pas lebaran tidak ada siapkan makanan,” ucapnya.

Sementara itu, Umar Kaso, SH, salah seorang pengacara di PA Palopo, saat dimintai komentarnya soal kasus cerai di bulan ramadan, ia mengatakan bahwa tetap ada proses sidang. Namun, kata dia, yang sidang itu kasus yang dari bulan sebelumnya. “Untuk kasus yang saya tangani tidak ada perkara baru di bulan puasa ini. Biasanya setelah lebaran baru mulai lagi banyak terima perkara baru,” tutur Umar Kaso.

Ditambahkannya, proses cerai masih tetap didominasi istri ajukan cerai. Dengan alasan karena faktor ekonomi juga karena orang ketiga.

Menurut Umar Kaso, momen bulan ramadan tak membuat surut keinginan warga dari Palopo dan Luwu yang ingin mengakhiri bahtera rumah tangganya.

Sedangkan pihak Pengadilan Agama tak mampu menunda sidang lantaran tak ingin menunda pekerjaan. Nanti dianggap tidak bekerja. ”Jadi biar ramadan, tetap melaksaakan tugasnya,” ucapnya.

BACA JUGA:  Balapan di Jalan Andi Djemma Senggolan, Pengendara Revo Jatuh, Tewas...

Dari 29 perkara yang diputus lewat PA Palopo, beberapa rumor mencuat penyebab istri gugat cerai suaminya.
Persoalannya cukup sepeleh. Kekerasan dalam rumah tangga.

Kekerasan dalam rumah tangga ini diungkapkan oleh Ri (inisial, red). Warga Palopo ini mengaku faktor seringnya terjadi KDRT dalam rumah tangga. ”Karena sudah tak tahan, ya terpaksa pilih jalur cerai,” katanya. Ada juga faktor orang ketiga, ekonomi dan sosial.

Lain lagi wanita berusia 28 tahun berinisial KK asal Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu. Ia menggugat cerai suaminya berinisial AB usia 30 tahun. Itu karena dalam pernikahannya sering terjadi perselisihan. Karena disebabkan sang suami sering pulang malam, cemburuan, ringan tangan hingga memecahkan perabot rumah tangga.

Ia dan AB sudah membangun rumah tangga sejak 2007
silam. Tapi, harus berakhir di meja hijau Pengadilan Agama Palopo. Saat ini mereka sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki yang berusia 10 tahun dan 4 tahun. Sejak Desember 2016 lalu keduanya sudah tidak lagi berkomunikasi hingga saat ini.

Awal pernikahannya dulu keduanya tinggal bersama orang tua KK selama kurang lebih setahun. Namun, karena tidak punya kerjaan tetap, AB akhirnya memutuskan untuk merantau keluar. Akan tetapi, hanya beberapa bulan AK kembali lagi. Mungkin karena tidak tahan bekerja. (udy/ary)

Click to comment

Most Popular

To Top