Masyarakat Dusun Cintai Damai Hidup tanpa Listrik – Palopo Pos
Luwu Timur

Masyarakat Dusun Cintai Damai Hidup tanpa Listrik

WASUPONDA — Sebanyak 200 Kepala Keluarga (KK) Warga Dusun Cintai Damai, Desa Balambano Kecamatan Wasuponda Luwu Timur, hidup tanpa menikmati aliran listrik.

Kondisi yang dirasakan masyarakat Dusun Cintai Damai itu sudah terhitung selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Semenjak itu mereka hanya menggunakan penerangan seadanya. Sedangkan masyakarat yang terbilang mampu menggunakan alat mesin genset.

“Sudah 20 tahun Pak, aliran listrik belum dirasakan. Itu kalau sudah malam hari, sepi seperti tidak berpenghuni, karena selain gelap, suara orang kampung juga sudah tidak kedengaran lagi,” kata salah seorang warga transmigran yang enggan disebut namanya, Ia mengaku baru tahun 2016 kemarin aliran listrik sudah masuk, bahkan aliran listrik itu baru dirasakan sebagian warga.

“Aliran listrik sudah masuk, tapi baru sebagian warga yang meraskan. Itupun bantuan dari pemeritah desa yang menganggarkan pengadaan kabel dan travo melalui Dana Desa (DD),” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Balambano, Khaerullah yang dikonfirmasi Palopo Pos, Sabtu 19 Agustus 2017 membenarkan masih ada sekitar 200 KK warga di desanya belum menikmati aliran listrik.
“Iya dek, ada sekitar 200 KK lagi yang berada di Dusun Cintai Damai. Tapi sebagian rumah sudah ada yang teraliri listrik PLN,” kata Khaerullah.

BACA JUGA:  LSS-UKS, Dua Sekolah Lolos ke Tingkat Nasional

Diakui Khaerullah, sebagian yang teraliri listrik itu adalah aset pemerintah desa. Sebab tahun lalu, pemerintah desa mengalokasikan Dana Desa (DD) untuk pengadaan kabel, tiang dan travo untuk jaringan listrik warga.
“Kita anggarkan melalui dana desa untuk jaringan listriknya sebanyak 50 tiang,” sebut Khaerullah.

Melihat kondisi warganya itu, ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. Karena di wilayah itu punya dua DAM terbesar.
“Ini yang menjadi proritas kami, di dusun itu ada tiga gereja, 1 masjid, dan Sekolah Dasar (SD) 253 Amasi yang termasuk kelas jauh,” jelasnya.

Ditambahkanya, sejak dibukanya daerah transmigrasi warga selalu hidup dalam kegelapan di malam hari. Sementara, saat ini ini warga hanya menggunakan mesin genset sebagai alat penerangan. Sementara warga di dalam itu merupakan penduduk yang rata-rata berasal dari warga transmigrasi. Sebagian mata pencaharian mereka sebagai petani dengan jumlah 200 kepala keluarga (KK). (krm/rhm)

Click to comment

Most Popular

To Top