Suami Tumpul di Ranjang, Honorer Gugat Cerai – Palopo Pos
Kriminal

Suami Tumpul di Ranjang, Honorer Gugat Cerai

Gara-gara suami tumpul di ranjang, seorang istri yang berprofesi sebagai pegawai honorer di Provinsi Sulsel, menggugat cerai suaminya, juga seorang honorer di Luwu. Perkaranya kini bergulir di Pengadilan Agama (PA) Palopo.

Si suami yang malamma katarrungnya (lemah terongnya) berinisial Sn (40). Sedang istri berisinial EA (36). Selain persoalan nafkah batin, tidak terpenuhi nafkah lahir menjadi akumulasi pemicu keretakan rumah tangga.

Dalam fakta persidangan terungkap alasan-alasan yang memicu keretakan rumah tangga kedua pasangan yang dijodohkan oleh orang tuanya ini. Yang pertama yaitu awalnya karena penggugat yang bekerja honorer di Mamuju mengajak tergugat untuk ikut. Namun tergugat tidak mau sehingga mereka berpisah jarak dan waktu.

Pernikahan mereka yang baru berjalan sekitar kurang lebih 8 bulan ini menjadi renggang karena jarak dan komunikasi yang jarang terjalin. Selama itu pula tergugat tidak memberikan nafkah secara lahir. Kemudian nafkah batin pun tidak pernah diberikan selama mereka bersama.

BACA JUGA:  Cipkon, Dua Polsek Sisir Perumahan

Ungkapan dari penggugat saat melakukan sidang mengungkapkan bahwa suaminya itu seperti tidak bernafsu. Karena saat mereka masih tinggal bersama dulu sebelum pisah jarak karena penggugat atau EA yang bekerja di Mamuju sebagai honor. Tergugat (Sn), juga katanya tidak bisa memperlihatkan kejantanannya di ranjang.

Itulah yang menyebabkan juga sering terjadi pertengkaran mulut diantara keduanya. Sementara itu, dari pihak tergugat juga memberikan alasan bahwa istrinya itu setelah menikah saat akan melakukan hubungan layaknya suami istri tidak mau disentuh.

Perlu diketahui, yang dimaksud nafkah lahir dalam berbagai literatur dan tradisi masyarakat merupakan pemenuhan kebutuhan fisiologis yang diwujudkan dalam bentuk sandang, papan dan pangan. Serta keperluan sehari-hari lainnya seperti biaya perawatan kesehatan dan kecantikan istri.

Sementara nafkah batin merupakan pemenuhan kebutuhan terutama biologis dan psikologis, seperti cinta dan kasih sayang, perhatian, perlindungan dan lain sebagainya, yang bentuk konkretnya berupa persetubuhan (sexual intercourse). Sehingga dalam keseharian ketika disebut nafkah batin, maka yang dimaksud justru hubungan sex.

BACA JUGA:  Simpan Busur di Tas, Pelajar SMA Diciduk

Kebutuhan biologis sebagai bentuk paling nyata dari nafkah batin kepada istri tidak kurang pentingnya untuk dipenuhi. Dibandingkan dengan nafkah lahir yang bersifat pemenuhan kebutuhan fisiologis seperti sandang, papan dan pangan. (udy/ikh)

Click to comment

Most Popular

To Top