Depot Telur Anggrek Omset Ratusan Juta per Bulan – Palopo Pos
Ekonomi

Depot Telur Anggrek Omset Ratusan Juta per Bulan

PALOPO— Perlahan tapi pasti, usaha Depot Telur Anggrek mulai menunjukkan eksistensinya. Sekira 15 persen kebutuhan telur Kota Palopo sudah mampu disuplay oleh UKM yang berlokasi di Jl. Anggrek Blok J/5 (dekat jembatan putih). Sebelumnya, hampir 100 persen kebutuhan masyarakat disuplay dari Sidrap.

Hal tersebut diungkapkan Owner Depot Telur Anggrek Palopo, Andri Ramli ST yang dihubungi Palopo Pos, Senin, 11 September 2017 kemarin. Rahasia suksesnya adalah telur ayam dijamin masih fresh karena baru keluar dari induknya sehingga tidak ditakutkan amporo alias busuk. Kemudian, punya peternakan sendiri.

Menurutnya, rata-rata penjualannya saat ini mencapai 300 rak (9.000 butir) per hari. Dalam sebulan omset rata-rata mencapai ratusan juta atau mencapai angka miliar per tahun. Sebuah pendapatan yang tergolong besar untuk ukuran masyarakat Luwu Raya.

Pelanggan Depot Telur Anggrek saat ini sudah banyak. Saking banyaknya, ia kewalahan memenuhi permintaan pelanggan. Sampai-sampai permintaan telur di tempatnya sudah inden. ”Artinya, belum keluar dari (maaf) pantat ayam, sudah dipesan orang,” terangnya.

BACA JUGA:  Harga Kebutuhan Pokok Naik di PNP

Pelanggan telur dari Andri mayoritas dari pedagang di Pusat Niaga Palopo (PNP) alias pasar sentral Palopo, Pasar Andi Tadda, sejumlah kafe, hotel. Bahkan RSUD Rampoang pernah menjadi pelanggannya. Termasuk pedagang telur mobile di PNP, sebagian disuplai dari Depot Telur Anggrek.
Tantangan yang dihadapi Depot Telur Anggrek (DTA) yakni, kewalahan memenuhi permintaan konsumen. Makanya, ia membuka peluang kepada masyarakat, khususnya pemuda penangguran untuk dibina menjadi peternak ayam petelur. ”Dari pada anak muda itu nongkrong di pinggir jalan, mending jadi pengusaha telur,” terang Andri.

Saat ini, DTA memiliki tujuh peternak binaan. Ada yang namanya Pak Rahim, dulu tukang batu. Ia memulai usaha dengan 300 ekor ayam dengan penghasilan pertama Rp400 ribu. Sekarang sudah memiliki 300 ekor ayam dengan omset Rp7 juta per bulan. ”Penghasilan bersihnya Rp4 juta per bulan,” terang Andri.

Ada juga binaannya bernama Hasbi di Pabarassang Kec. Bua. Tukang ojek ini memulai usaha dengan 200 ekor ayam dengan omset Rp4,5 juta per bulan. Sekarang memiliki 1.500 ayam dengan omset Rp35 juta per bulan. (ikh)

BACA JUGA:  H-5, Harga Sapi Masih Normal

Click to comment

Most Popular

To Top