Tenunan Batik Rongkong Go Internasional – Palopo Pos
Luwu Utara

Tenunan Batik Rongkong Go Internasional

MASAMBA — Tenunan batik asal Luwu Utara go Internasional. Bagaimana tidak, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Luwu Utara akan ikut serta dalam pameran batik internasional, di Kota Milan, Italia, 5-10 Oktober 2017 mendatang.

Pemkab Luwu Utara akan membawa batik Rongkong ke Kota Pizza tersebut untuk dipamerkan. Sesuai dengan namanya, batik Rongkong berasal dari Kecamatan Rongkong, salah satu kecamatan yang eksotik dengan pemandangan alam yang indah dan sejuk.

Karena kesejukannya, daerah ini dikenal dengan sebutan negeri berselimut awan.
Batik Rongkong adalah salah satu jenis batik klasik di Indonesia yang kental dengan unsur tradisional dan punya ciri khas tersendiri.

“Salah satu motifnya adalah motif Barambaran dipagari motif Bunga Bau dan motif Sora serta motif Lampa-Lampa yang dibuat oleh para leluhur Rongkong,” ujar Kasubid Pemerintahan dan Sosial Budaya, Bappeda Luwu Utara, juga salah satu warga Rongkong, Bulan Masagena, Senin 11 September 2017.
Dia menambahkan, motif Barambaran bermakna kepedulian dan kasih sayang. Motif ini biasanya berbentuk ayam, kerbau, kuda, dan hewan-hewan lainnya.
“Maknanya kita wajib menjaga lingkungan sekitar beserta isinya karena dalam kehidupan kita sehari-hari pasti saling membutuhkan,” ujarnya.

Motif Bunga Bau yg terdapat dipinggir tenunan bagaikan pagar yang mengapit dan menghiasi motif-motif yang lain sehingga nampak lebih indah.
Motif ini menggambarkan tentang kehidupan yg saling melengkapi dan mengisi kekurangan.
Untuk Motif Sora, tempatnya selalu diujung kain tenunan dengan berbagai macam bentuk, ada yang besar dan ada yang kecil, runcing seperti ujung tombak.

“Motif ini bermakna sebagai benteng pertahanan masyarakat rongkong dan masyarakat di wilayah rongkong pada umumnya selalu dijaga keamanannya dari segala penjuru,” bebernya.
Dibagian luar kain, terdapat motif Lampa-Lampa. Bentuknya lurus memanjang. Lampa-lampa merupakan wadah untuk mengambil air, yang harus selalu dijaga.
Lampa-lampa terbuat dari bambu besar yang terdiri dari tiga sampai empat ruas dan panjangnya kurang lebih dua meter.

Dahulu, Lampa-lampa sangat dibutuhkan oleh masyarakat rongkong sebagai wadah untuk mengambil air. Lampa tersebut diisi air pancuran dan dipikul menuju rumah.
“Semua itu bermakna pentingnya mafaat dari air, tanpa air kita mahluk hidup tidak dapat tumbuh dan berkembang,” tandasnya. (mah/rhm)

Click to comment

Most Popular

To Top