Judas: Tak Ada Begitu di Palopo – Palopo Pos
Utama

Judas: Tak Ada Begitu di Palopo

* Kalau Dokter Tolak Pasien, Lapor ke IDI

PALOPO — Kasus bayi Debora murni manajemen rumah sakit. Bukan karena dokter. Kalau ada dokter di Palopo sampai hati tolak pasien, jangan sungkan lapor ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Palopo. Kasus yang cukup menyita perhatian publik sampai juga ke Wali Kota Palopo Judas Amir. Ia memastikan tak ada begitu di Palopo.

“Kalau kejadian seperti itu tidak ada yang begituan. Kecuali terjadi di masa akan datang, dan sudah kehendak Allah, mau diapa-lagi, tapi saya yakinkan itu tidak akan terjadi,” tandas Wali Kota Judas Amir, usai menghadiri pertemuan FKPD, kemarin.

Hingga hari ini, kata dia, dirinya terus melakukan pemantauan terhadap pelayanan rumah sakit daerah dan swasta yang ada di Kota Palopo. Pemantauan makin ditingkatkan lagi. Kenapa? ”Kan pemerintah kota sudah menggratiskan semua warganya untuk berobat. Jadi tidak ada lagi alasan RS menolak warga untuk berobat,” tambah wali kota lagi.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit AT-Medika Palopo, dr Anton Yahya, M.Kes langsung menggelar pertemuan internal dengan para karyawan, perawat, dan staf lainnya. Pertemuan ini untuk mengingatkan aturan-aturan yang ada seperti UU RS dalam hal pelayanan.

BACA JUGA:  Manusia Itu Harus Disiplin, Kerja Keras, dan Jujur

“Semua karyawan diingatkan jangan ada pasien yang ditolak lantaran karena biaya,” ujar dr Anton Yahya, melalui Humas RS At-Medika, Nyoman Ariyawan, kepada Palopo Pos, kemarin.Pertemuan ini juga mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginakn seperti yang terjadi di RS Mitra Keluarga, Jakarta.

Sementara itu, Ketua IDI Palopo, dr Hamzakir, Sp.B, M.Kes, merasa bersyukur karena seperti bayi Debora tidak pernah terjadi di Kota Palopo.
Menurutnya, kasus tersebut murni karena manajemen rumah sakit. ”Jadi bukan karena dokternya,” paparnya, kepada Palopo Pos, kemarin.

Padahal, lanjut dia, pada peraturan pemerintah seperti UU Pelayanan Kesehatan, UU RS No 44 tidak ada lagi RS yang menolak pasien yang sifatnya emergency, darurat. ”Secepatnya harus ditangani,” lanjut Hamzakir.

Harusnya, kata dia, pasien daurat ditangani lebih dulu tanpa harus melihat apakah BPJS atau tidak. ”Setelah penanganan barulah melihat seperti apa administrasinya. Karena ini masalah nyawa, RS tidak hanya mengejar untung saja namun juga haruslah menjalankan fungsi sosialnya,” imbuh ketua IDI.

BACA JUGA:  Kalau Sudah Jadi Aturan, Kenapa Tidak Majelis Hakim Dukung Hukuman Kebiri

Ia menambahkan, rumah sakit tidak bisa sewenang-wenang menolak pasien terutama dalam keadaan kritis, karena persoalan biaya.
Sebab, menurutnya, pemerintah dan undang-undang sudah menjamin orang yang tidak mampu harus ditangani oleh dokter dan rumah sakit.

“Yang perlu diperbaiki itu adalah tata kelola rumah sakit. Karena kalau tidak, akan terjadi dorong-mendorong kesalahan,” paparnya.
Ia menambahkan, seharusnya hal ini tidak terjadi. Baik rumah sakit sudah bekerja sama dengan BPJS atau belum. ”Kalau itu urusan kedua. Mau ada BPJS atau tidak, sudah jadi kewajiban dokter dan rumah sakit untuk memberikan perawatan dan pengelolaan,” tegasnya.

Menyikapi persoalan bayi Debora ini, dokter spesialis bedah ini mengatakan harus ada jalur khusus bagi pasien yang mengalami kondisi darurat. Dengan adanya jalur itu diharapkan tidak terulang lagi peristiwa yang menimpa bayi Debora.

Seharusnya, ucapnya, ada tata kelola rumah sakit yang terstandar dengan baik atau good governance. Di Kota Palopo, dr Hamzakir menyebutkan selama ini tak ada pasien yang ditolak dalam perawatan, khususnya pasien darurat. Apalagi sebagian masyarakat Kota Palopo sudah terdaftar BPJS Kesehatan.
Namun, ungkapnya jika ada dokter menolak melayani pasien, itu dapat diadukan pada Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

BACA JUGA:  Identitas Pelapor Pungli Dirahasiakan

“Sumpah dokter yang harus melayani, jika menolak adukan ke IDI. Dan kebijakan rumah sakit, jika menolak laporkan ke dinas kesehatan,” tegasnya.
Menurut dia, rumah sakit sudah seharusnya mempunyai standar yang sama dalam hal menangani pasien biasa dengan pasien darurat.

Khusus pasien darurat, dr Hamzakir mengatakan mestinya pasien darurat dilayani oleh jalur khusus atau tidak berbelit-belit. Tujuannya ialah untuk memberikan pertolongan dengan cepat.

“Kalau darurat harus perlakuan khusus yang perlu kecepatan. Karena kecepatan tentukan kehidupan,” tandasnya. (ich-rhm/ary)

Click to comment

Most Popular

To Top