2019, Kedatuan Luwu Tuan Rumah Festival Keraton Nusantara – Palopo Pos
LUWU RAYA

2019, Kedatuan Luwu Tuan Rumah Festival Keraton Nusantara

Yang Mulia Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu To Bau. ist

*Perlu Hotel Berbintang dan Perluasan Bandara

JAKARTA — Festival Keraton se-Nusantara (FKN) 2017 sudah berakhir di Cirebon, Jawa Barat. Selanjutnya akan digelar lagi 2019 mendatang. Dan Kedatuan Luwu menjadi tuan rumahnya.

Namun, untuk menyambut event akbar dua tahunan keraton se-Nusantara ini masih banyak hal yang perlu disiapkan.

Yang Mulia Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu To Bau kepada Palopo Pos mengungkapkan, Kedatuan Luwu akan menjadi tuan rumah FKN 2019. Tetapi masih banyak hal yang harus dibenahi dan dipersiapkan.

Yakni meliputi fasilitas bandara Lagaligo di Bua. “Sejatinya bandara 2019 nanti harus bisa didarati pesawat berbadan besar yang memuat rombongan raja-raja se-Nusantara,” ujarnya, Selasa 19 September 2017.

Selanjutnya hal yang harus dibenanhi adalah fasilitas hotel berbintang. “Di Palopo masih sangat kekurangan kamar menyambut tamu kerajaan. Yang datang nanti ini ribuan orang seluruh Indonesia, bahkan rencananya Presiden juga akan hadir,” jelasnya.

Untuk itu, perlunya pemda se-Luwu Raya mempersiapkan event akbar tersebut. “Kapan lagi event seperti ini hadir di Tanah Luwu,” sebutnya.

Pada penutupan FKN 2017 ditutup Presiden Joko Widodo. Dalam arahannya dihadapan raja-raja se-Nusantara, berharap keraton-keraton se-nusantara terlibat dalam pembangunan karakter bangsa.

“Sehingga kita memiliki manusia-manusia yang berbudi luhur, dan tangguh serta inovatif dan kreatif,” ucap Presiden pada Penutupan Festival Keraton Nusantara ke-11 yang diselenggarakan di Taman Gua Sunyaragi, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Senin malam, 18 September 2017.

Selain itu, Presiden mengharapkan agar aset-aset budaya keraton mulai dari naskah-naskah kuno, benda-benda pusaka, karya-karya arsitektur sampai karya-karya seni dijaga dan dirawat dengan baik. “Jangan sampai kita justru datang ke luar negeri untuk mengapresiasi karya-karya adiluhung tersebut. Ini aset budaya yang harus kita lindungi, jaga, rawat, dan kita kembangkan lagi,” katanya.

Lebih lanjut, Presiden mengingatkan bahwa banyak negara yang sektor pariwisatanya berkembang pesat hanya dengan mengangkat kekayaan tradisinya, narasi atau cerita yang menarik tentang daerah itu.

“Peninggalan kita jauh lebih bagus tapi kita kurang merawatnya, mengemasnya, antara keraton dan pemerintah sehingga aset-aset keraton nusantara bisa memberikan kesejahteraan bukan hanya bagi para sultan tetapi juga bagi masyarakat di sekitar keraton dari Sabang sampai Merauke,” ujar Presiden.

Di awal sambutannya, Presiden mengatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan jejak sejarah peradaban yang besar dan gemilang. “Dulu, kapal-kapal pinisi kita, pelaut-pelaut kita mengarungi laut. Menjelajahi samudera dan bahkan sampai Benua Australia, sampai Benua Afrika,” ucap Kepala Negara.

Sejarah mencatat, kebesaran Kerajaan Sriwijaya yang berhasil membangun kekuasaan dan kekuatan maritimnya, sehingga sangat disegani pada saat itu. Sejarah juga mencatat kebesaran dari Kerajaan Majapahit yang mempersatukan Nusantara. Kebesaran Samudera Pasai, kebesaran Demak, Mataram, kebesaran Maluku, Gerahada dan banyak lagi yang lain.

“Semuanya mewariskan kepada kita bukan hanya nilai adiluhung, tetapi juga mewariskan cipta dan karya seni budaya. Naskah-naskah kuno, benda-benda pusaka, dan juga aset-aset budaya lainnya yang tidak ternilai harganya,” kata Presiden.

Selain itu, keraton dijadikan sebagai pusat pelestarian budaya. Oleh sebab itu seluruh keluarga besar dan kerabat keraton, berperan penting dalam menjaga tradisi, menjaga nilai-nilai luhur sejarah dan nilai-nilai yang ada di dalam keraton.

“Peran historis ini masih harus kita jaga bersama-sama. Dan untuk memainkan peran tersebut, keraton bersama pemerintah harus bersama-sama menata diri. Menyesuaikan dengan perkembangan zaman, tetapi tetap memegang nilai-nilai tradisi dan budaya,” ucapnya.

Lebih jauh Presiden mengatakan bahwa para sultan, raja, pangeran, permaisuri, warisan peradaban Nusantara bisa menjadi modal budaya untuk menghadapi tantangan bangsa ini, baik saat ini maupun di masa mendatang.

“Kekayaan budaya keraton Nusantara harus kita lihat untuk meraih kemajuan sebagai bekal kita untuk melangkah maju. Sebagai modal penyemangat persaingan global yang semakin sengit,” tuturnya.

Untuk itu Presiden berharap Festival Keraton Nusantara ini bukan semata-mata dimaksudkan sebagai ajang pariwisata daerah atau mengapresiasi kekayaan keraton se-Nusantara. “Tetapi juga digunakan untuk mengukuhkan kontribusi keraton-keraton Nusantara bagi kemajuan bangsa dan negara,” ujarnya.

Kepala Negara juga menitipkan pesan kepada pada para sultan, raja, pangeran, permaisuri, serta pemangku adat keraton untuk menggalang persatuan, menjaga kerukunan, menjadi perekat kebhinnekaan serta memperkokoh NKRI.

Tampak hadir mendampingi Presiden, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat

Festival Keraton Nusantara digelar di Kota Cirebon mulai 15 – 19 September 2017 dan diikuti oleh sultan dan raja se-Nusantara.

Tujuh Rekomendasi

Pada penutupan Festival Keraton Nusantara ada tujuh (7) rekomendasi yang disepekati, selanjutnya disampaikan kepada pemerintah. Apa saja itu? Yakni:

Pertama, Keraton se-Nusantara bertekad untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan melestarikan dan memasyarakatkan nilai-nilai luhur Pancasila yang terdapat dalam pembukaan UUD RI 1945.

Kedua, Kebudayaan Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk dilestarikan dan dimajukan. Maka, perlu ditingkatkan anggaran kebudayaan minimal sebesar dua persen dari APBN dan APBD.

Ketiga, Sebagai sumber-sumber kebudayaan, revitalisasi pelestarian dan pengembangan keraton-keraton se-Nusantara perlu ditingkatkan agar bisa meningkatkan peran serta pembangunan pariwisata nasional yang terbukti bisa menjadi sumber pendapatan negara, mengurangi kemiskinan dan meningkatkan ekonomi.

Keempat. Dua per tiga luas Indonesia adalah lautan yang belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Keraton se-Nusantara bersama pemerintah perlu meningkatkan budaya maritim sebagai jati diri bangsa Indonesia yang berwawasan Nusantara.

Kelima, Indonesia merupakan masyarakat agraris, terdiri dari nelayan dan petani yang perlu ditingkatkan kesejahteraaannya melalui reformasi agraris dengan pengoptimalan tanah keraton dan lahan untuk mencapai swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional.

Keenam, Sultan dan raja sebagai pemimpin kebudayaan dan penjaga keutuhan peesatuan RI di daerah perlu peran aktif masuk ke dalam forum komunikasi pimpinan daerah.

Ketujuh, Festival Keraton Nusantara yang pertama kali diselenggarakan tahun 1995 di Solo bersama keraton se-Nusantara perlu terus dilanjutkan dan dioptimalkan karena bisa menjalin silaturahmi menjaga kebhinekaan dan persatuan antar keraton, serta dapat melestarikan dan memajukan kebudayan nasional dan pariwisata Indonesia.(idr/fmc)

Click to comment

Most Popular

To Top