Pekan Antibiotik, Maura: Masyarakat harus Cermat Gunakan Obat – Palopo Pos
Kesehatan

Pekan Antibiotik, Maura: Masyarakat harus Cermat Gunakan Obat

Dirjen Farmalkes Kemenkes, Maura Linda Sitanggang memotong tumpeng memperingati 2 tahun GeMa CerMat diluncurkan, Selasa 14 November 2017. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS
Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

JAKARTA — Ketidakpahaman masyarakat tentang penggunaan obat antibiotik memicu tingginya angka resistensi antimikroba. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global menjadi tantangan bersama.

Dalam memperingati Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia yang mulai diselenggarakan 13-19 November 2017, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, Kemenkes, Maura Linda Sitanggang mengungkapkan, antibiotik diguanan hanya kepada penyakit yang disebabkan bakteri, bukan karena virus.

Sampai saat ini, lanjut Maura, masih ada kesalahan pemahaman dan kekeliruan terhadap penggunaan antibiotik. Secara umum, antibiotik digunakan pada infeksi selain bakteri, misalnya virus, jamur, atau penyakit lain yang non infeksi.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, Kemenkes, Maura Linda Sitanggang pada Pekan Kesadaran Antibiotik, Selasa 14 November 2017 di Jakarta. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat selain menjadi pemborosan secara ekonomi juga berbahaya secara klinis, yaitu resistensi bakteri terhadap antibiotik. Resistensi terjadi saat bakteri mengalami kekebalan dalam merespons antibiotik yang awalnya sensitif dalam pengobatan.

Bakteri resisten ini dapat menginfeksi manusia dan hewan. Hal yang sama menyebabkan infeksi lebih sulit diobati. Resistensi antibiotik menyebabkan biaya pengobatan lebih tinggi, pasien lebih lama tinggal di rumah sakit, serta meningkatkan angka kematian.

Berdasarkan data WHO (2015), bakteri resisten yaitu kondisi dimana bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang awalnya efektif untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut. Angka kematian akibat Resistensi Antimikroba sampai tahun 2014 sekitar 700.000 orang per tahun.

Dengan cepatnya perkembangan dan penyebaran infeksi akibat mikroorganisme resisten, pada tahun 2050 diperkirakan kematian akibat resistensi antimikroba lebih besar dibanding kematian akibat kanker.

Estimasinya penduduk yang resisten mencapai 10 juta jiwa per tahun dan total GDP yang hilang sekitar 100 triliun dolar. Bila hal ini tidak segera diantisipasi, akan mengakibatkan dampak negatif pada kesehatan, ekonomi, ketahanan pangan dan pembangunan global, termasuk membebani keuangan negara.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Click to comment

Most Popular

To Top