Rokok Ancaman Serius Bangsa Menyongsong Bonus Demografi – Palopo Pos
Kesehatan

Rokok Ancaman Serius Bangsa Menyongsong Bonus Demografi

Diskusi dan peluncuran buku "Health and Economic Costs of Tobacco in Indonesia", Rabu 22 November 2017 di Kantor Kemenkes, Jakarta. IDRIS PRASETIAWAN/FAJAR.CO.ID

JAKARTA — Peringatan bahaya rokok yang dipasang dikemasan ataupun disetiap sudut jalan sudah tidak mempan lagi. Padahal diketahui, rokok sangat berbahaya bagi tubuh. Bahkan sampai menyebabkan kematian. Tetapi justru kenapa semakin banyak orang yang mau menikmatinya?.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes merilis sejumlah data tentang dampak rokok terhadap kesehatan dan ekonomi. Melalui buku berjudul “Health and Economic Costs of Tobacco in Indonesia” yang diluncurkan, Rabu 22 November 2017 di Kantor Kemenkes, Jakarta, dengan dihadiri langsung Menteri Kesehatan Prof Nila F Moeloek.

PENELITIAN. Menteri Kesehatan Prof Nila F Moeloek saat menghadiri peluncuran buku “Health and Economic Costs of Tobacco in Indonesia”, Rabu 22 November 2017 di Kantor Kemenkes, Jakarta. IDRIS PRASETIAWAN/FAJAR.CO.ID

Buku tersebut karya dari 4 peneliti, yakni Hasbullah Tabrani (FKM-UI), Nunik Kusumawardani (Balitbangkes Kemenkes), Soewarta Kosen (Balitbangkes Kemenkes), dan Santi Martini (Universitas Airlangga).

Dalam buku tersebut terungkap, kalau beban ekonomi karena rokok mencapai Rp596,5 triliun per tahun. Sementara, penerimaan negara dari cukai rokok hanya Rp139 Triliun rupiah.

“lni artinya kerugian akibat konsumsi rokok empat kali Iebih besar dari penerimaan negara dari cukai,” kata peneliti dari Balitbangkes Kemenkes Soewarta Kosen dalam persentasenya.

Selain itu, dari segi biaya kesehatan untuk penyakit akibat rokok membebani masyarakat. Pada tahun 2015 saja, biaya pengobatan untuk penyakit akibat rokok berkisar Rp13,7 triliun.

Hal ini menjadi beban biaya kesehatan yang kemudian harus ditanggung BPJS Kesehatan yang mengalami defisit triliunan rupiah setiap tahunnya.

Rokok seperti kita tahu adaIah faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular yang bersifat kronik membutuhkan biaya tinggi. Penyakit jantung, stroke dan kanker adaIah beberapa penyakit terkait rokok yang membebani BPJS Kesehatan. Pada tahun 2015, BPJS Kesheatan harus mengeluarkan Rp6,6 triliun hanya untuk penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Beban ekonomi sebenarnya masih Iebih rendah dari kenyataannya karena belum memperhitungan biaya tidak langsung selama pengobatan, misalnya biaya transportasi dan kehilangan waktu produktif keluarga,” tambah dia.

Menurut Soewarta Kosen, tingginya beban ekonomi karena rokok sewajarnya mematahkan keraguan pemerintah untuk memperkuat upaya pengendalian tembakau.

Dia pun memberikan beberapa rekomendasi untuk menetapkan kebijakan mengenai rokok antara lain melakukan intensifikasi upaya pengendalian pemasaran rokok dan produk tembakau lainnya hingga meningkatkan cukai tembakau hingga maksimum 57 persen.

Padahal sama-sama diketahui dalam sebatang rokok mengandung 7.357 bahan kimia, 400 jenis racun, dan 40 diantaranya penyebab kanker. Selain itu rokok dapat menyebakan adiksi, kerusakan organ fisik atau mental.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan Prof Nila F Moeloek menjelaskan, masalah tembakau atau rokok tidak akan pernah selesai karena ada dua sisi yang saling bertentangan, yaitu kesehatan dan ekonomi.

“Kita juga menghadapi masalah ‘stunting’ yang lintas sektor dan saat ini dikoordinasikan langsung di bawah Wakil Presiden. Barangkali permasalahan tembakau juga perlu dikoordinasikan langsung oleh Wakil Presiden,” sebutnya.

Meski dengan adanya kebijakan pemerintah menaikkan cukai tembakau dari 12 sampai 22 persen, bukan menjadi solusi menurunkan angka perokok di Indonesia.

Menurut catatan WHO, rokok telah membunuh sebanyak 7 juta orang dan telah membebani negara di dunia hingga US$1,4 triliun jika dilihat dari pengeluaran kesehatan dan kehilangan produktivitas.

Di Indonesia jumlah perokok tiap tahun meningkat, pada tahun 2014 rokok yang di produksi di Indonesia mencapai 344 miliar batang dan tahun 2015 mencapai 370 milliar batang.

Berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar 2013, perokok aktif mulai dari usia 10 tahun ke atas berjumlah 58.750.592 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 56.860.457 perokok laki-laki dan 1.890.135 perokok perempuan. Hal ini tentunya sangat mengancam bonus demografi yang akan terjadi pada tahun 2030. (idr/fmc)

Click to comment

Most Popular

To Top