Pasutri Lansia Itu Ikuti Itsbat Nikah  – Palopo Pos
Luwu

Pasutri Lansia Itu Ikuti Itsbat Nikah 

Dengah pakaian seadanya dan sedikit tergopoh-gopoh, Mardi (73) menggandeng istri tercinta Nurhidayah (70) menuju kantor Camat Belopa Senin (4/12). Kedua pasangan suami istri (Pasutri) dari keluarga kurang mampu asal Desa Salubua Kecamatan Suli Barat ingin mengikuti Itsbat Nikah Massal yang menjadi program spsesial Bupati Luwu HA Mudzakkar

Laporan : Andrie Islamuddin 

Salah seorang pegawai kecamatan Belopa yang melihat Mardi menggunakan celana pendek, memintanya untuk menggunakan celana panjang. Namun apa daya, ia hanyalah warga kurang mampu yang berusaha untuk mengikuti kegiatan itsbat nikah massal. Sang istripun langsung bergerak dan berusaha mencarikan sarung untuk digunakan sang suami tercinta untuk mengikuti sidang mengesahkan pernikahan mereka yang sudah puluhan tahu lalu mereka langsungkan

Mardi dan Nurhidayah adalah dua orang sejoli dari Desa Salu Bua, (dahulu masih bernama Desa Buntu Barana) Mereka menikah dijodohkan, dan melangsungkan pesta pernikahan pada tahun 1972. Nurhidayah mengaku,sebelum menikah mereka mendatangi kantor urusan agama (KUA) untuk mendapatkan restu dari negara lewat terbitnya buku nikah.

Tetapi sangat disayangkan, hingga pernikahan mereka sudah berusia 45 tahun, dimana kedua Pasutri ini sudah dikaruniai 9 orang anak, 13 cucu  dan 2 orang cicit ini, buku nikah yang mereka urus sebelum mempersatukan kasih sayang dalam mahligai rumah tangga, tak kunjung mereka terima

” Saya tidak tahu mau bagaiman lagi mengurusnya pak, pegawai KUA yang saya datangi sudah meninggal dunia. Saat ini ternyata buku nikah sangat penting dan dibutuhkan anak cucu saya. Makanya saya ikut isbat nikah ini, ” Kata Nurhidayah seraya mengatakan ia sangat berterima kasih kepada Bupati Luwu HA Mudzakkar melaksanakan program ini dan sangat membantu mereka mendapatkan buku nikah

Hal serupa juga dialami dua Pasutri lansia asal Desa Rumaju Kecamatan Bajo, Jafar (55) dan sang istri Hanira (56). Kepada harian Palopo Pos, keduanya menceritakan bahwa mereka juga menikah resmi, bahkan dengan memilih tanggal yang bagus.

” Saya menikah pada tanggal 7 bulan 7 tahun 1977 nak. Saya pesta, dengan uang panai waktu itu sebesar Rp 50 ribu. Waktu itu harga beras satu liter masih Rp50. Tetapi, saya ikut isbath nikah ini karena tidak punya buku nikah. Saya bersyukur program isbath nikah ini dilakukan Bupati Luwu Andi Mudzakkar, karena kami bisa mendapat buku nikah. Buku nikah ini sangat penting disaat ini nak, ” tutur Jafar yang sudah dikarunia 12 anak dan 10 cucu hasil pernikahannya dengan Hanira. (and)

Click to comment

Most Popular

To Top