Peserta KB Capai 15.579 Orang – Palopo Pos
Metro

Peserta KB Capai 15.579 Orang

-Penyuluh KB Sosialisasi Door to Door

PALOPO — Jumlah peserta Keluarga Berencana (KB) di Kota Palopo mencapai 15.579 orang. Dimana angka ini terus meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat Kota Palopo mengenai pentingnya merencanakan kelahiran.

Namun, meski demikian Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PP dan KB) Kota Palopo masih memiliki banyak Pekerjaan Rumah (PR) dalam menekan angka kelahiran melalui program KB. Namun dibalik itu semua, kerja keras para penyuluh KB telah memperlihatkan hasil yang signifikan bahkan bisa dikatakan berhasil dalam program KB.

Kepala Dinas PP dan KB Kota Palopo, Hj Suriani A. Kaso, SE.,M.Si kepada Palopo Pos, Rabu 10 Januari 2018 menjelaskan, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Kota Palopo sebanyak 20.671, dan peserta KB 15.579. Dan bukan peserta KB 5.092 PUS, yang belum ber-KB ini terdiri dari
anmeednet yaitu tidak ingin anak lagi tapi tidak mau ikut KB, ingin anak, dan ibu hamil.

”Pendataan ini dilakukan petugas penyuluh KB (PPKB) mendatangi rumah-rumah warga secara ‘door to door’,” jelas Suriani Kaso kemarin.

Penjaringan akseptor KB baru dengan door to door, ungkapnya, sangat efektif karena bisa langsung bertemu dengan warga yang menjadi target.

Dalam melaksanakan tugasnya, sebut mantan Camat Wara Selatan ini, para penyuluh KB dibantu oleh pembantu pembina KB tingkat RW dengan melakukan komunikasi informasi dan edukasi (KIE). Di mana petugas mendatangi rumah-rumah warga, baik mereka yang telah menjadi akseptor KB maupun yang belum. Bagi yang telah menjadi akseptor diminta menjadi peserta KB aktif atau lestari. Sedangkan PUS yang belum ikut KB, diharapkan menjadi akseptor baru.

“Selain secara door to door, melalui pelayanan terpadu malam hari juga cukup efektif,” katanya.
Berdasarkan data tersebut, peserta KB terbanyak berada di Kecamatan Wara Timur sebanyak 3.140, menyusul Kecamatan Wara, 2.043, Kecamatan Bara sebanyak 1.888, Kecamatan Telluwanua 1.444, Kecamatan Wara Utara, 1.080, Kecamatan Wara Selatan 955, Kecamatan Sendana 704, Kecamatan Wara Barat 695, dan Kecamatan Mungkajang 599.

KB aktif itu meliputi IUD, MOW, MOP, Kondom, Implant, Suntik dan Pil. Sedangkan Kecamatan yang terkecil jumlah PUS-nya berada di Kecamatan Mungkajang.
Alat kontrasepsi yang paling dominan digunakan PUS Kota Palopo yakni suntik, sedangkan yang paling sedikit digunakan PUS Kota Palopo yakni MOP.

Sementara itu, Suriani juga membeberkan saat ini pihaknya tengah fokus pada Generasi Berencana (Genre). Pasalnya, dengan memfokuskan program Genre maka akan mengendalikan jumlah penduduk di Kota Palopo.

Menurut Suriani, Genre adalah sebuah program yang bertujuan untuk memberikan edukasi yang komprehensif tentang kesehatan reproduksi kepada generasi muda guna mendewasakan usia kawin pertama dan menurunkan angka kelahiran remaja.

Kenapa harus generasi muda? Karena dengan adanya generasi muda diharapkan mampu menjadi mediator dalam memberikan solusi mengenai masalah kesehatan reproduksinya, dengan tujuan dapat lebih aktif lagi dalam mensosialisasikan dan memberikan pemahaman mengenai pentingnya program ini, baik kepada sesama generasi muda di lingkungan sekitar maupun kalangan remaja lainnya yang berada di daerah perkotaan maupun pedesaan.

Mantan Kepala BPMP-KB Kota Palopo ini menyebutkan, tujuan program Genre adalah memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar dalam merencanakan keluarga, mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan keluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta dalam menentukan jumlah dan jarak kelahiran.

Dengan adanya Genre, generasi muda dapat mengaplikasikan secara langsung kerangka dari program pendewasaan usia perkawinan dan perencanaan keluarga. Seperti, menunda usia perkawinan dan kehamilan.

Generasi muda memberikan informasi kepada remaja lainnya atau teman sebayanya agar dapat menunda usia perkawinannya sampai pada usia 20 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria, dengan cara menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu sebelum menikah. Mengapa? Karena kelahiran anak dari seorang ibu yang berusia dibawah 20 tahun akan mempengaruhi kesehatan keduanya.

Selain itu, menjarangkan kehamilan. Untuk patokannya adalah jangan terjadi dua balita dalam periode 5 tahun, dengan cara menganjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi berupa IUD.

Juga, sebutnya, memberikan pengetahuan reproduksi dan seks kepada remaja. ”Karena saat ini pelajaran seks harus diberikan secara transparan tidaklah tabu lagi,” tandasnya.(rhm)

Click to comment

Most Popular

To Top