Dikeroyok 7 Orang, 12 Tusukan – Palopo Pos
Utama

Dikeroyok 7 Orang, 12 Tusukan

* Buruh Bangunan di Jalan Poros Nyiur Tewas

PALOPO — Korbannya sudah tersungkur ke got, para terduga penganiayaan masih saja menyerang. Takdir, 32 tahun, warga Lorong Gotong Royong RT 02/RW 01 Kelurahan Malatunrung yang sudah bersimbah darah masih dilempari batu bata. Hingga akhirnya korban menghembuskan napasnya di Rumah Sakit.

Insiden maut itu terjadi Kamis 11 Januari 2018, pukul 02:30 Wita, dini hari, di jalan poros Perumahan Nyiur, masuk wilayah Salekoe, Kecamatan Wara Timur. Kelurahan tersebut berbatasan dengan Malatunrung.

Korban disebutkan dikeroyok tujuh pelaku. Di tubuhnya penuh dengan luka. Ada 12 luka seperti bekas tikaman dari benda tajam. Dari tujuh terduga yang melakukan pengeroyokan, lima di antaranya sudah dikantongi identitasnya.

Lokasi kejadian tepat di depan Lapangan Futsal Mahakam, Jalan Andi Mappanyompa (Poros Nyiur) Kota Palopo. Sebelah kiri kalau mau ke Perumahan Nyiur. Di sekitar lokasi, ada beberapa unit rumah. Ada juga warung yang menjual barang campuran. Saat insiden maut terjadi, suasana memang sepi.

Awalnya, korban dan pelaku inisial Y terlibat adu mulut. Kemudian berujung ke perkelahian. Duel pun terjadi. Seorang terduga yang baru saja beli rokok di sekitar lokasi kejadian melihat temannya sedang terlibat perkelahian. Dilihatnya temannya terdesak. Rasa simpati pun muncul. Bukannya melerai pertikaian tersebut, ia malah membantu. Tidak lama kemudian bantuannya datang. Hingga akhirnya terjadi pengeroyokan yang berujung maut.

Korban Takdir tersungkur dan jatuh ke dalam got. Pelaku menggunakan batu merah, gunting, dan badik. Kepala korban jadi sasaran empuk. Tak hanya itu, tubuh korban terlihat sejumlah luka tusukan. Berdasarkan penuturan keluarga korban, ada 12 luka tusukan di tubuh korban. Korban mengalami luka terbuka pada bagian perut, dada, punggung, dan kepala bagian belakang.

Kejadiannya cukup cepat. Para pelaku kemudian kabur meninggalkan korban. Warga yang melihat keributan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut. Mereka baru mendekati korban, saat pelaku meninggalkan korban yang tak berdaya. Korban kemudian dilarikan ke RS Mega Buana oleh warga. Namun, takdir berkehendak lain.

Saksi yang kebetulan penjual di sekitar lokasi kejadian tidak menyangka kalau terjadi pengeroyokan malam itu. Ia mengaku melihat anak muda muncul dari sebuah rumah kos. ”Salah seorang dari mereka baru saja beli rokok. Suara keributan sudah terdengar,” ujarnya. ”Saya perkirakan ada tujuh orang malam itu,” akunya.

Ia mengaku mencium aroma alkohol dari pelaku yang datang beli rokok. ”Saya juga tidak terlalu perhatikanmi karena sudah larut malam sekali,” lanjut saksi lainnya.

Di lokasi kejadian, warga sempat melihat batu merah yang berserakan. Ada juga batu yang berlumuran darah. Kemungkinan batu bata yang ada darah korban dipakai menganiaya.

Paginya, Kapolsek Wara AKP Arsyad Kaonga setelah mendapat informasi dari babinkamtibmas meluncur ke TKP. Polisi dari Polres Luwu juga sudah memasang police lain. Kasus ini sudah ditangani Polres Palopo.
Kasat Reskrim Polres Palopo, AKP Ardy Yusuf yang dihubungi Palopo Pos, membenarkan kasus pengeroyokan yang berujung maut tersebut. ”Terduga pelaku sudah kami tangkap. Satu orang. Ia dibekuk di Bua,” ujar kasat reskrim, kepada Palopo Pos, kemarin.

Kurang dari 24 jam, satreskrim Polres Palopo berhasil membekuk seorang terduga pelaku pembunuhan Takdir. Pelaku diidentifikasi berinisial IL alias CW, 23 tahun. Pelaku ditangkap Jatanras Satreskrim Polres Palopo di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, sekitar pukul 14:35 Wita.

Namun, satreskrim Polres Palopo baru mengidentifikasi pelaku pembunuhan Takdir alias Tara berjumlah 5 orang.

“Satu sudah ditangkap Kamis siang, dan yang 4 orang masih dalam pengejaran,” kata kasat Reskrim.
Lebih jauh dikatakan, Jatanras Satreskrim Polres Palopo masih terus memburu para pelaku berdasarkan pengembangan keterangan CW.

Versi kepolisian. Kronologis dari pembunuhan Takdir alias Tara. Dijelaskan kasat Reskrim, berdasarkan keterangan CW, awalnya Y mengalami perkelahian dengan korban pada saat akan membeli rokok disekitar TKP.

Ketika melihat Y berkelahi datanglah CW, AD, AR, HD membantu Y menganiaya korban. Katanya, pelaku inisial AD menganiaya menggunakan gunting, AR menganiaya menggunakan batako dan menghantamnya ke kepala korban. Sementara CW menikam sebanyak 3 kali di daerah punggung korban. Sementara 3 pelaku lainnya masih didalami perannya karena menurut keterangan CW mereka juga melakukan menggunakan batako untuk menganiaya.

“Setelah menganiaya para pelaku selanjutnya meninggalkan TKP,” jelas kasat Reskrim.
Kata dia, korban masih sempat dibawa warga ke rumah sakit. Pelaku masih bernapas hingga akhirnya menemui ajal di rumah sakit Mega Buana.

Tulang Punggung Keluarga

Almarhum Takdir adalah anak keenam dari 11 bersaudara. Bagi keluarga, almarhum adalah tulang punggung.

Sehari-harinya, Takdir bekerja sebagai buruh bangunan, rumput laut. Jika ada waktu luang bekerja sebagai tukang ojek.

“Baik sekali, orangnya pendiam, sabar, ” kata Erny, saudara keempat almarhum Takdir saat ditemui Palopo Pos dirumah duka di Lorong Gotong Royong RT 02/RW 01 Jalan Andi Mappanyompa, Kelurahan Malatunrung.

Firasat Erny, akan kepergian adiknya sungguh tidak terduka. “Keluarga sangat terpukul dan bersedih atas meninggalnya adik Kami,” ujarnya.

Kata keluarga korban, ada 12 luka bekas tikaman. Keluarga korban berharap, agar semua pelaku pembunuhan adiknya dapat segera ditemukan dan dihukum seberat-beratnya. “Kami serahkan semuanya kepada Bapak Kepolisian dan diproses,” sebutnya.

Almarhum dikebumikan keluarga di TPU Purangi sebelum waktu dhuhur, Kamis kemarin.(ded-idr/ary)

Click to comment

Most Popular

To Top