Dekopinda Telorkan Lima Program Unggulan – Palopo Pos
Ekonomi

Dekopinda Telorkan Lima Program Unggulan

PALOPO— Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Palopo telah menyelesaikan rapat kerja (raker) di Mega Plaza Palopo pada 10 Februari 2018. Hasilnya, pengurus menetapkan lima program unggulan yang dilaksanakan pada tahun 2018.

Menurut Ketua Dekopinda Palopo, H Zirmayanto Zainal di Enzyme Cafe, Jl. Andi Djemma Palopo, Senin, 12 Februari 2018 sore kemarin, lima proker (program kerja) unggulan Dekopinda Palopo 2018 yakni pertama, semua koperasi berbadan hukum harus mendapatkan Nomor Induk Koperasi,. Kedua, gerakan koperasi harus melakukan inovasi usaha.

Tiga, menambah jumlah anggota koperasi. Empat, kerjasama Bank Indonesia untuk melindungi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) dari kredit macet. Dan kelima, memanfaatkan dana koperasi untuk Sumber Daya Manusia (SDM) koperasi.

Lebih jauh dijelaskan Zirmayanto, mulai sekarang, semua Koperasi berbadan hukum sudah harus memiliki NIK dari Kementerian Koperasi. Tanpa NIK, maka pemerintah tidak mengakui legalitas koperasi tersebut. Resiko bagi koperasi tanpa NIK, yakni putus hubungan dengan pemerintah.

”Sebab ke depan, kalau ada bantuan pemerintah untuk koperasi, maka hanya diberikan kepada koperasi yang memiliki NIK. Koperasi yang akan mengajukan kredit ke lambaga keuangan, juga tidak akan dilayani jika tidak memiliki NIK. Jadi peran NIK ke depan sangat penting. Sama pentingnya dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) e-KTP,” terangnya.

Koperasi di Palopo juga harus melakukan inovasi usaha. Terus terang, hampir semua koperasi di kota ini hanya bergerak di usaha Simpan Pinjam. Tidak sampai 10 persen yang bergerak di bidang usaha produksi atau dagang.

Beruntung, saat ini ada koperasi sekolah yang sedang mengembangkan bisnis kapling dan perumahan. Ini adalah sebuah terobosan besar. Ke depan juga diharapkan ada koperasi yang bergerak di usaha ritel, atau jasa distribusi barang.

Salah satu penyebab sehingga perkembangan koperasi di Palopo lambat, bahkan nyaris tenggelam dibanding badan usaha lainnya, karena kurang memperhatikan penambahan anggota. Perlu dipahami bahwa kekuatan koperasi itu ada pada anggota.

Semakin banyak anggota, akan semakin banyak tambahan modal. Walau simpanan pokoknya sedikit, tapi kalau anggota banyak, maka modal yang kecil ini bisa besar.

Zirmayanto lalu mencontohkan sebuah kampus. Jika kampus itu memiliki mahasiswa 5.000 orang dan semua menjadi anggota Koperasi dengan simpanan pokok Rp120 ribu. Maka jumlah modal usaha koperasi tersebut Rp600 juta. ”Luar biasa kalau potensi ini dikelola dengan baik,” terangnya.

Permasalahan yang banyak dihadapi Koperasi Simpan Pinjam adalah kredit macet yang diakibatkan, satu nasabah mengambil kredit pada lebih dari satu koperasi. Dan pengambil kredit seperti rata-rata bermasalah. Untuk itu, ke depan Koperasi perlu melakukan kerjasama dengan Bank Indonesia untuk cek data nasabah seperti yang telah dilakukan bank umum.

”Dengan cara ini, kita akan melindungi koperasi dari kredit macet,” kata Zirmayanto.

Dan yang terakhir, setiap koperasi memiliki dana pendidikan yang biasanya diberikan kepada Dekopinda untuk mengelolanya. Dana itu, kata Zirmayanto, tidak usah diberikan ke Dekopinda. Tapi dana itu sebaiknya digunakan koperasi untuk meningkatkan SDM semua anggota koperasi.

”Midset pelaku koperasi harus diset ulang. Koperasi diharapkan tidak lagi mencari sebanyak-banyaknya nasabah, tapi bagaimana koperasi mencari sebanyak-banyaknya anggota. Karena kekuatan koperasi itu pada anggota,” tandasnya. (ikh)

Click to comment

Most Popular

To Top