Bensin Cepat Habis di SPBU – Palopo Pos
Utama

Bensin Cepat Habis di SPBU

* Waktu Penjualan BBM Subsidi Dibatasi

PALOPO — BBM subsidi belum ditarik dari pasar. SPBU tetap diamanahkan menyediakan dan menjual barang ini ke konsumen. Apalagi, masyarakat yang memang berhak menggunakan premium masih tinggi. Tapi, rasa kecewa sering mereka rasa ketika ke SPBU. Tertulis bensin sudah habis.

”Ada apa kok hanya premium yang cepat habis di SPBU. Sementara masyarakat yang menggunakan BBM subsidi untuk kendaraan masih cukup tinggi di Palopo. Semua begitu saya lihat di SPBU,” ucap salah seorang pengendara motor Suzuki Shogun, kemarin sore.

Ia terlihat sangat kecewa. Biasanya bensin di SPBU tersebut, masih bisa didapatkan di atas pukul 20:30 Wita. Supaya sepeda motornya tetap melaju di jalan, ia terpaksa beralih ke Pertalite yang notabenenya non subsidi. ”Apa boleh buat. Daripada tidak jalan motor, saya terpaksa isi pertalite,” lanjut pria yang mengaku wiraswasta ini.

Begitu juga pengendara lain yang baru saja keluar dari SPBU yang beralamat di Jalan Andi Djemma dan Tandipau. Mereka mengaku sudah tidak dapat bensin di sore hari. ”Habismi katanya, pak,” ujarnya sambil melajukan sepeda motornya ke arah Latuppa.

Ketika hal ini ditelusuri ke berbagai pihak, ada kabar kalau Pertamina mengurangi kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sekitar 20-50 persen sesuai omzet di masing-masing stasiun pengisian bahan bakar minyak (SPBU). Namun, hal ini bukan menjadi kelangkaan terhadap BBM bersubsidi.

Kepala Dinas (Kadis) Perdagangan Palopo, Zulifli Halid, kepada Palopo Pos, mengatakan, tidak ada kelangkaan BMM, yang ada hanya pengurangan kuota terhadap BBM bersubsidi.
Dikatakan, selama ini kuota BBM masih aman khususnya jenis premium. Permintaan pengiriman ke masing-masing SPBU yang ada di Kota Palopo masih terpenuhi.

Memang, aku dia, waktu penjualan dibatasi hanya pukul 08:00 hingga 17:00 Wita. Namun dia mengatakan, sepekan terakhir ada pengurangan kuota premium. Dia mengatakan dari 16 ribu liter permintaan pengiriman, kini dikurangi menjadi delapan ribu liter untuk masing-masing SPBU. “Yang ada hanya pengurangan kuota, bukan kelangkaan,” jelasnya.

Dia mengatakan, sesuai surat edaran yang dikeluarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pengurangan kuota BBM bersubsidi. Aturan tersebut mulai berlaku. Dia menjelaskan, pembatasan kuota SPBU ditentukan oleh Pertamina.

“Pengurangan kuota kalau di sini SPBU di Palopo mencapai 50 persen. Hal ini karena permintaan 16 ribu liter hanya dikirim 8 ribu liter. Meski begitu, hingga saat ini pengurangan tersebut belum terlalu pengaruh karena beberapa di antara SPBU menyediakan cadangan BBM bersubsidi,’ ungkapnya, kepada Palopo Pos, di ruang kerjanya.
Dia mengutarakan, SPBU tidak dibatasi pengambilan stok BBM bersubisidi dari pertamina.

Hanya saja, dalam satu kapasitas mobil tangki hanya berisikan 8 ribu liter. Bisa juga SPBU bisa mengambil dua tangki BBM dengan kapasitas masing-masing tangki 8 ribu liter, tergantung kemampuan SPBU bisa membayar besarnya pesanan BBM itu. “Makanya akibat pengurangan kuota tersebut, kami harap SPBU juga membatasi penjualan yang menggunakan jerigen,” katanya.

Ia menambahkan, pengurangan kuota BBM bersubsidi ini didasarkan adanya keseimbangan dari konsumen atau masyarakat yang membutuhkan BBM bersubsidi. Karena itu, BBM bersubsidi ini hanya diperuntukan bagi masyarakat menengah bawah.

Terkait BBM non subsidi pemerintah mengharapkan untuk masyarakat menengah atas agar lebih mengutamakan BBM non subsidi itu. “Kan sudah ada namanya pertalite untuk BBM non subsidi yang tanpa batas bisa digunakan, meski terjadi perbedaan harga dari premium subsidi tetapi memberikan kualitas yang baik,” katanya.

Harga Pertalite naik Rp100. Kini harganya naik Rp7.700 per liter, pertamax Rp8.800 per liter.
Adapun harga premium masih dipatok sebesar Rp6.450 per liter. Sedangkan harga Solar sebesar Rp5.150 per liter.

Hal senada dikemukakan Ketua DPC Wilayah III Hiswana Migas Luwu Raya dan Toraja, Rahmad Kasjim. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan koordinasi dengan SPBU dan Pertamina di wilayah III memang sejak beberapa bulan terakhir kuota setiap SPBU dibatasi 8 kiloliter (KL) setiap harinya. Ini tidak hanya terjadi di Luwu Raya dan Toraja saja namun juga di seluruh Sulawesi.

“Jadi kalau dulunya masih bisa ambil premium hingga 16 KL, sekarang tidak lagi. Ini merupkakan kebijakan pusat. Tapi untuk Pertamax dan Pertalite, itu tidak dibatasi, alasannya kenapa, sejauh ini kami belum memahaminya,” terang Rahmad, kepada Palopo Pos, kemarin.

Dikatakannya, premium ini merupakan bahan bakar yang bersubsidi. Beda dengan yang lainnya. Menurutnya, seharusnya masyarakat yang merupakan golongan menengah ke atas sebaiknya gunakan yang non subsidi seperti Pertalite dan Pertamax. Biarlah premium ini digunakan oleh masyarakat ke bawah.

“Saya kira ini bisa mengurangi kelangkaan premium, masa sudah berduit masih juga gunakan yang subdsidi,” ujar Rahmad. (ich-rul/ary)

Click to comment

Most Popular

To Top