Kakao Fermentasi Lebih Tinggi Rp3 Ribu – Palopo Pos
Ekonomi

Kakao Fermentasi Lebih Tinggi Rp3 Ribu

PALOPO— Selisih harga biji kakao hasil fermentasi dengan biji tanpa melalui proses fermentasi berkisar antara Rp2.000 sampai Rp3.000 per kilogram. Untuk diketahui, harga kakao fermentasi Rp25 ribu per kg. Sedang kakao kering biasa harganya paling banter Rp20 ribu sampai Rp22 ribu pe kg.

Karena itu, Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (PPP) Kota Palopo, Harisman, SP yang dikonfiormasi Palopo Pos, Minggu kemarin, mengajak para petani kakao yang ada di Palopo agar mengolah biji kakao secara fermentasi. Pasalnya, karena cara fermentasi tersebut bisa meningkatkan kualitas biji kakao.

“Kalau kualitas biji kakao para petani bagus, maka akan berdampak pada membaiknya harga biji kakao di pasaran,” kata Harisman.

Menurutnya, kualitas biji kakao para petani Palopo saat ini rata-rata masih rendah atau di bawah standar karena tidak diolah melalui proses fermentasi sesuai anjuran.

Akibatnya kata dia, harga biji kakao yang diperoleh para petani dari para pedagang pengumpul juga masih rendah.

Oleh karena itu kata dia, Pemerintah Kota (Pemkot) terus berupaya mendorong petani untuk meningkatkan mutu biji kakao melalui cara fermentasi, sehingga biji kakao yang dihasilkan bisa bersaing di pasar global, terutama di Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
“Kita harapkan, saat memasuki MEA, mutu biji kakao para petani kita sudah bisa bersaing di pasar global,” katanya.

Dengan begitu, para petani kakao di Palopo ini bisa menikmati harga biji kakao sesuai standar harga di pasar dunia. “Kalau petani kakao sudah menikmati harga kakao sesuai standar, maka dapat dipastikan tingkat kesejahteraan keluarga petani kakao di daerah ini akan membaik,” katanya.

Sementara itu, menurut Forum Masyarakat Kakao Luwu Raya (Fomakara) mengatakan tiap tahun sebanyak 800 ribu ton kakao dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun sayangnya, kebutuhan tersebut hanya mampu dipasok oleh petani dalam negeri sebanyak 300 ribu ton, sementara sisanya terpaksa harus diekspor.

Olehnya itu ia berharap agar para petani dan stakeholder terkait mampu mengupayakan dan memastikan produksi kakao dalam negeri masih dikelolah dengan baik. Salah satu yang diharapkan untuk mewujudkan obsesi tersebut adalah para petani di Tana Luwu.

“Sentra kakao Sulawesi Selatan adalah Tana Luwu , sehingga predikat itu harus dipertahankan, dengan cara membangun industri hilirnya yang dapat membantu menggairahkan bisnis pertanian kakao,“ ungkapnya Ketua Fomakara, Sam Sumastono.

Saat ini, menurutnya peningkatan permintaan kebutuhan kakao setiap tahun mencapai 10 persen. Dirinya mengungkapkan meskipun terdapat 22 pabrik kakao yang ada di tanah air namun kenyataannya hal itu belum maksimal membantu percepatan pengolahan kakao.

Karena itu ia berharap agar masyarakat dan pemerintah mendukung pengembangan indutris hilir yang menjadikan kakao sebagai bahan baku utamanya. (rul/ikh)

Click to comment

Most Popular

To Top