”Anak Saya ke Makassar Mau Cari Tempat Kuliah” – Palopo Pos
Utama

”Anak Saya ke Makassar Mau Cari Tempat Kuliah”

* Kisah Sedih Korban Laka Tunggal Bintang Prima di Maros

AULIA Mardiah Rizky Amaliah, 19 tahun. Ia anak pertama dari lima bersaudara hasil perkawinan Akmal Amnur Yusuf, 40 tahun dan Muliati Basir, 39 tahun. Aulia adalah salah seorang korban lakalantas di Kabupaten Maros. Ia terlempar keluar dari mobil bus tersebut.

LIPUTAN: Rusdy

Korban menerobos kaca depan. Aulia (almarhumah) jatuh ke sungai. Tubuhnya langsung hilang terseret arus sungai. Korban diperkirakan terseret sejauh 1 km dari lokasi mobil yang menabrak jembatan. Ia dinyatakan hilang dua hari, satu malam. Nanti hari Senin 12 Maret 2018 baru ditemukan oleh nelayan setempat. Kejadian hari Minggu pukul 4 subuh, Aulia yang rencananya mau kuliah di IPP Makassar ditemukan dalam kondisi tak bernyawa hari Senin pukul 4 sore.

Ke Makassar, korban menumpangi mobil bus bernomor polisi DD7256 RP. Di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, mobil menabrak pembatas jalan.
Sopir bus bernama Theo, 37 tahun, warga Desa Buanging, Kecamatan Sabbang, Luwu Utara. Hingga saat ini, sopirnya dilaporkan menghilang.

“Ada dua hari, satu malam menghilang. Kondisinya cukup memprihatinkan. “Sudah bengkak semua badan anak saya,” ujar Akmal Amnur Yusuf, ayah korban, kepada Palopo Pos, Selasa 13 Maret 2018, kemarin.

Mata pria ini tampak sembab. Ia tampak bersedih atas kepergian anak pertamanya. Walau demikian, ia dan keluarga berupaya tetap tegar menghadapi cobaan yang diberikan. Ia mengaku baru saja mengikuti pemakaman anaknya di pekuburan keluarga Salobulo. Dari pemakaman sang anak, ia dan keluarga lainnya berjalan kaki.

Sambil jalan ke rumah tempat tinggal anak dan ibunya, bapak lima anak ini tampak menggendong seorang perempuan kecil. Anak dalam gndongannya tidak lain adalah anaknya sendiri. Adik dari almarhumah. Rumah permanen tersebut pas depan taman makam pahlawan (TMP) Palopo. Hanya diantarai jalan poros trans Sulawesi.

Di bawah tenda, pelayat duduk sambil cerita. Ceritanya soal lakalantas maut yang merenggut nyawa gadis berusia 19 tahun. Mereka sebelum kembali, meminta kepada keluarga korban supaya tabah menghadapi cobaan ini. Akmal yang ditemani anaknya menyambut dan mengucapkan banyak terima kasih.

“Kami sudah ikhlaskan kepergiannya. Kita sebenarnya tak inginkan kejadian ini, tapi ya ini sudah menjadi kehendak yang kuasa,” ujar PNS Satpol Lutra ini sambil menghela napasnya dalam-dalam.
Ia tampak menyeruput sebatang rokok di tangan. “Sehari mau kejadian, ia sempat menelepon.

Minta uang. Saya waktu itu sedang di Mamuju,” katanya.
Teleponnya pas Jumat 9 Maret 2018. Sabtu, malam, ia ke Makassar naik Bintang Prima. “Terakhir saya komunikasi dengan anak saya itu,” ucapnya dengan nada terbata-bata.

Ke Makassar, lanjutnya, ia hendak melihat tempat untuk mau kuliah. Salah lembaga pendidikan yang disebut waktu itu, mau kuliah di IPP Makassar. “Inimi ke Makassar mau lihat-lihat perguruan untuk kuliah,” katanya.
Bus yang ditumpangi berangkat dari dari Sukamaju. Aulia naik depan rumahnya, Salobulo.

Takdir telah berkehendak lain. Sebelum impian dan cita-cita anaknya terkabul mau kuliah, Aulia lebih dulu dipanggil Allah SWT.

Di awal tadi sudah diceritakan, Aulia anak pertama dari lima bersaudara. Ia alumni SMAN 2 Palopo. Tamat satu tahun lalu. Tinggi korban disebutkan 165 cm.

Ia lahir bulan Desember, tahun 1999. Ia mahir bahasa Inggris karena pernah kursus di kampung Pare, Kediri.
Kepribadian korban dikenal ramah dan sangat rajin. Ke adik-adiknya, ia sangat perhatian.
Adik keduanya bernama Muhammad Gasi Andi Pari Akmali, kemudian Muhammaf Gaza Andi Pari Akmali, Muhammad Yeisi Islamai Al Harid Akmali, dan Atiqah Farha Naila Amali.

Selama ini, korban dan empat adiknya ikut ibu. Kenapa? Rupanya, kedua orangtuanya resmi cerai setahun lalu.
Ayahnya kalau mau ketemu anaknya ke Palopo. Maklum, Akmali seorang PNS di Satpol Lutra. Sedangkan Muliati Basir, juga PNS dinas pertanian Luwu Utara. “Benar kami sudah cerai setahun lalu. Anak-anak ikut sama ibunya di sini,” ucap Akmali.

Lakalantas yang merenggut nyawa warga Palopo di Maros langsung mendapat perhatian dari Perwakilan Jasa Raharja Palopo. Korban karena meninggal dunia, mendapat santunan kematian dari Jasa Raharja sebesar Rp50 juta. “Bersih masuk tanpa ada potongan,” terang Ardin, staf administrasi Jasa Raharja Palopo ke ayah korban.
Yang sempat alot di internal Jasa Raharja, aku Ardin, ahli waris korban. Soalnya, kedua orangtuanya sudah cerai.

Makanya, terganjal sedikit di sini. Santunan kematian harus diterima oleh yang berhak. Ya, tentu kedua orangtuanya. Ganjalan akhirnya terlewati. Akmali, ayah dari korban menyerahkan sepenuhnya santunan kepada ibunya. “Saya serahkan sepenuhnya ke ibunya,” terangnya. Jasa Raharja harus pegang pengakuan tertulis soal itu. Maka, dibuatkan surat pernyataan yang langsung ditandatangani Akmali. Santunan Rp50 juta jatuh ke istri telah diserahkan Perwakilan Jasa Raharja, kemarin.

Korban sudah dikebumikan di atas pemakaman keluarganya, Salobulo. Jenazah korban tiba pukul 8 pagi. Star dari Rumah Sakit Maros jam 12 malam.
Pelepasan pemakaman dihadiri sejumlah pejabat Pemkot Palopo dan anggota DPRD. Juga dihadiri Judas Amir, calon walikota Palopo, Dahri Suli, Camat Wara Utara, dan lurah Salobulo.

Kanit Laka Polres Maros, Ipda Muh Arsyad, menyebutkan bahwa ada dua korban yang meninggal dunia dalam laka tunggal tersebut. Satunya warga asal Jawa Timur. Namanya, Moeljo Fetri Wismadianita, 43 tahun, warga Ketinting Timur, Desa Ketinting, Kecamatan Gayungan, Surabaya Jawa Timur. Jenazah korban telah berangkat ke Surabaya sekitar pukul 06:00 Wita, kemarin. (*/ary)

Click to comment

Most Popular

To Top