Hindari Amuk Massa, Polres Ambil Alih Kasus Duel Maut – Palopo Pos
Utama

Hindari Amuk Massa, Polres Ambil Alih Kasus Duel Maut

* Bunuh Kakak Kelas, Pelaku Diproses dengan UU Perlindungan Anak

MALILI — Kasus duel maut siswa SMA Wotu sungguh menyedihkan. Meninggalkan duka mendalam. Apalagi keluarga korban. Teganya menghabisi nyawa kakak kelas sendiri. Melihat gejala kalau tersangka anak di bawah umur tetap ditahan dan diproses di Polsek Wotu, demi menghindari amuk massa, Polres Lutim ambil alih kasus duel maut.

Karena usianya 15 tahun, penyidik Polres Lutim memproses pelaku dengan UU Perlindungan Anak. “Pelaku sudah kita tetapkan sebagai tersangka,” ujar Kasat Reskrim Polres Lutim, Iptu Andi Akbar Malloroang, kepada Palopo Pos, Selasa 13 Maret 2018.

Ia menyebut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undan-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. ”Ini mengingat pelaku masih kategori di bawah umur, sehingga dikenakan UU khusus perlindungan anak,” tambah kasat reskrim Andi Akbar.

Dikatakan Andi Akbar, untuk menghindari amuk massa dari keluarga korban, pelaku kini diamankan di Polres Luwu Timur. ”Sebenarya kasus ini dalam penanganan Polsek Wotu, untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan pelaku diamankan di Polres Lutim,” jelasnya lagi.

Untuk itu, ia minta kepada semua pihak untuk menahan diri dan menyerahkan sepenuhnya kasus ini ke kepolisian.
”Kami telah memproses kasus penikaman yang menewaskan Malik Jusriadi,” tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, duel maut melibatkan siswa SMA Wotu, Senin, dini hari. Korban bernama Malik tewas dengan dua luka tusukan. Warga Desa Cendana Hijau, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur ini masih sempat dilarikan ke RSU Wotu. Pelaku inisial SS, 15 tahun.

Apa motif di duel yang berujung maut tersebut? Kata kasat reskrim, motifnya dipicu persoalan sepele. “Gara-gara kaca helm,” katanya.
Korban hendak meminta kaca helm yang dipinjam pelaku. Obrolan mereka lewat WhatsApp. Ada kata kasar keluar. Tak terima dengan jawaban yang kasar, pelaku akhirnya mengajak korban berduel.

Pengamat Hukum Pidana, Harla Ratda, SH, MH, mengatakan, walau pelaku anak di bawah umur, yang bersangkutan tetap akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Tindak Pidana Pembunuhan sebagaimana Pasal 338 KUHP ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

”Walaupun pelaku pembunuhan tersebut adalah anak di bawah umur, maka yang bersangkutan terancam akan mendapatkan hukuman berat. Apalagi pelakunya telah berusia di atas 15 tahun,” ujar Harla Ratda, kepada Palopo Pos, kemarin.

Lanjut Harla, tersangka harus ditahan karena ancaman hukuman terhadap tindak pidana yang dilakukan adalah di atas tujuh tahun penjara sebagaimana Pasal 32 ayat (2) UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) No. 11 Tahun 2012. Kemudian pelakunya akan mendapatkan Sanksi Pidana Pokok Hukuman Penjara dan Pidana Tambahan sebagaimana Pasal 71 UU SPPA.

Intinya, lanjut Harla, dalam proses penyidikan kasus pembunuhan tersebut tetap dilakukan penahanan oleh karena anak tersebut telah berusia di atas 15 tahun. Apalagi tindak pidana yang dilakukan berupa pembunuhan ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Sementara itu, Sutati, ibu korban, mengaku sebelum terjadi duel yang menewaskan anak pertamanya dari dua bersaudara itu terdapat obrolan panas antar korban dan pelaku. Korban minta kaca helm yang dipinjam pelaku untuk dikembalikan.

Namun, permintaan tersebut ditanggapi dengan kepala panas sehingga pelaku mengajak korban untuk ketemu di area pekuburan dekat rumah pelaku pukul 22:00 Wita, Minggu 11 Maret 2018.

”Anak saya sempat pamit bilangnya mau keluar sebentar di rumah pelaku. Katanya ada barangnya yang dipinjam pelaku mau dia ambil. Saya pun bilang besok saja karena sudah malam karena posisi anak saya sudah di kamar.

Eh..tak sekitar setengah jam anak saya sudah diantar bersimbah darah katanya ditikam sama pelaku,” terang Sutati dengan isak tangis.

Di sisi lain, Rusdi, ayah Malik berharap dengan kejadian ini pihak kepolisian yang tengah menangani kasus yang menewaskan anaknya itu bisa menegakkan hukum dengan seadil-adilnya dan berharap pelaku mendapat hukuman yang setimpal.

“Saya pribadi dan pihak keluarga besar saya meminta agar pihak penegak hukum yang menangani kasus ini dapat menegakkan hukum keadilan dan memberikan hukuman yang setimpal terhadap pelaku,” terang Rusdi, yang berprofesi sebagai mekanik. (krm/ary)

Click to comment

Most Popular

To Top