Istri Paling Banyak Minta Cerai – Palopo Pos
Kriminal

Istri Paling Banyak Minta Cerai

*Triwulan Pertama Putus 172 Kasus

PALOPO — Diakui atau tidak ternyata istri paling dominan untuk bermohon menggugat cerai suaminya. Alasannya beragam, dari hubungan yang sudah tidak harmonis, faktor ekonomi hingga kehadiran orang ketiga dalam mahligai rumah tangga.

Pengadilan Agama (PN) Palopo menyebutkan dalam triwulan pertama tahun 2018 ini yang telah diputus secara keseluruhan adalah 172 kasus. Untuk cerai gugat sendiri sebanyak 128 kasus yang sudah putus. Sisanya untuk cerai talak sebanyak 44 sudah putus.

Melihat data tersebut berarti jumlah kasus cerai semakin meningkat setiap bulannya. Pada Maret lalu cerai talak putus 24, sementara cerai gugat putus 64 kasus dengan total 88 kasus. Untuk di bulan Pebruari sendiri jumlah cerai gugat yang sudah putus sebanyak 35 dan cerai talak sebanyak 11 perkara jadi jumlah keseluruhan sebanyak 46 kasus.

Di bulan Januari cerai gugat putus 29 kasus dan cerai talak putus 9 kasus. Jadi jumlah keseluruhan mencapai 38 kasus.

Panitera PA Palopo, Drs Muh. Tahir SH mengatakan tingkat permohonan cerai di Kota Palopo dalam triwulan pertama ini sudah mencapai 172 kasus. Baik itu cerai gugat maupun cerai talak mangalami peningkatan setiap bulannya.

“Memang perkara cerai saat ini marak sekali dengan berbagai penyebabnya. Saya sudah tidak heran dengan kondisi ini. Namum saya merasa prihatin dengan tingkat terceraian yang semakin tinggi tiap tahunnya,” ujar mantan Wakil Panitera Pengadilan Agama Sengkang ini, Rabu 11 April 2018 kemarin.

Menurutnya, faktor penyebab perceraian baik itu dari pihak istri ataupun suami ada beragam masalah. Namun di era saat ini yang sudah maju masalah istri gugat cerai suami karena didominasi faktor perselisihan.

Seperti kurangnya perhatian suami kepada istri karena ada wanita lain. “Itu beberapa contoh kecil hal-hal yang utama menyebabkan cerai dalam hubungan keluarga,” kata Muh Tahir.

Disebutkan bahwa tren peningkatan kasus didominasi oleh istri yang lebih banyak mengajukan cerai kepada suaminya. Penyebabnya karena suami tidak bertanggung jawab, faktor ekonomi, dan kehadiran orang ketiga.

“Nah, itu alasan mayoritas yang digunakan istri dalam menggugat cerai. Yang pasti, pada intinya mereka sudah sudah tidak harmonis lagi dengan pasangannya,” katanya.

Lanjut Tahir, di Kota Palopo dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, peningkatan kasus cerai semakin meningkat. Tren peningkatan ini didominasi oleh kaum hawa yang lebih banyak mengajukan cerai suaminya.

Di Pengadilan Agama Palopo usia pernikahan pada kasus-kasus cerai banyak yang masih berusia muda. Antara 20 tahun sampai dengan 35 tahun. Namun jika dipersentasekan maka bisa dihitung bahwa persentase Palopo 40 persen sementara Luwu 60 persen. (udy/him)

Click to comment

Most Popular

To Top