Musim Panen, Harga Gabah Melorot – Palopo Pos
Ekonomi

Musim Panen, Harga Gabah Melorot

* Dari Rp4.700 ke Rp4.500, Lalu Rp4.200

PALOPO— Sebuah ironi kembali terjadi. Saat musim panen padi tiba, harga gabah bukannya stabil tapi terus melorot. Di awal panen awal April 2018, harga gabah masih Rp4.700 per kg. Sekira satu pekan kemudian, turun menjadi Rp4.500. Dan kini, tinggal Rp4.200 per kg.

Padahal pada Maret 2018 lalu, Presiden Jokowi telah mengeluarkan instruksi kepada Bulog untuk membeli gabah kering giling (GKG) yang awalnya ditetapkan melalui Instruksi Presiden (Inpres) nomor 5 tahun 2015 sebesar Rp4.650/kg menjadi Rp5.580/kg.

Melorotnya harga gabah di Kota Palopo diungkapkan Ibrahim, tuan tanah sekaligus petani di Kelurahan Takkalala, Kecamatan Wara Selatan, (11/4) lalu.

Menurut pria yang sudah berumur sekira 60 tahun ini, ia beruntung karena paling awal panen padi sehingga gabahnya masih dibeli oleh pedagang dengan harga Rp4.700 per kg. Namun setelah rata-rata petani panen, harganya turun jadi Rp4.500 per kg. ”Sekarang tinggal Rp4.200. Mungkin besok-besok turun sampai Rp4.000 per kg,” terangnya.

Ibrahim juga mengharapkan kepada Pemkot Palopo agar memperbaiki pintu irigasi di sekitar perbatasan Kelurahan Takkalala dengan Kel. Binturu. Pintu air irigasi sudah rusak sehingga air tidak bisa mengalir ke areal persawahan. Pompanisasi yang ada tidak berfungsi karena mesinnya dicuri orang.

Dua pompanisasi lainnya tidak ada airnya. ”Selama ini kami ambil air dari sungai dengan cara menariknya dengan mesin dinamo air,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Sub Divisi Regional Bulog Palopo, Lutfi Said M yang dimintai tanggapannya usai menghadiri rapat penyusunan program penyuluh pertanian di Auditorium SaokotaE, mengungkapkan, pihak membeli gabah dengan harga normal sesuai Inpres No. 5 tahun 2015 sebesar Rp4.650/kg.

Mengenai strategi Bulog menghadapi pedagang yang langsung membeli gabah ke petani dengan harga beli yang lebih tinggi, sudah ada kesepakatan dengan petani untuk menjual gabahnya ke Bulog sebanyak 10 persen dari total hasil panen. ”Ini merupakan win-win solusi bagi petani untuk menjual gabahnya pasca panen,” terang Lutfi.

Sebenarnya, Bulog bersama pemerintah bisa saja melakukan intervensi untuk membeli gabah petani. Karena pemerintah telah banyak membiayai kebutuhan petani. Mulai bantuan bibit, subsidi pupuk, bantuan alat pertanian, sampai melibatkan TNI melakukan penanaman benih padi.

”Kalau itu mau diuangkan, miliaran rupiah anggaran digelontorkan kepada petani untuk membantu proses produksi padi. Tapi kami bersama pemerintah juga memahani, bahwa petani juga ingin menjual gabahnya dengan harga tinggi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani. Makanya, kami Bulog bersama pemerintah hanya minta 10 persen gabah hasil penan petani untuk dibeli,” terang Lutfi.

Kalau tidak dilakukan intervensi 10 persen, maka semua gabah petani akan dijual ke pedagang. Hal ini sangat berbahaya dalam rangka stabilitas stok dan harga beras di pasaran. Makanya, perlu ada stok cadangan beras Bulog.

”Kalau tidak, nanti pedagang seenaknya permainkan harga beras. Yang rugi khan masyarakat juga. Apalagi beras ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Makanya perlu dikontrol oleh pemerintah bersama Bulog,” tandasnya. (ikh)

Click to comment

Most Popular

To Top