Mengenal Demam Tifoid dan Pencegahannya – Palopo Pos
Kesehatan

Mengenal Demam Tifoid dan Pencegahannya

DEMAM TIFOID atau yang biasa disebut dengan tipes atau typhus merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii. Bakteri ini terutama menyerang saluran pencernaan. Penyakit ini sering ditemukan di Indonesia dan merupakan masalah kesehatan masyarakat mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa, bahkan lanjut usia.

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2003, diperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun. Sedangkan prevalensi kasus demam tifoid di Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2007 adalah 1,6%.  Data di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2014, pasien dicurigai demam tifoid tercatat sebanyak 23.271 yaitu laki-laki sebanyak 11.723 dan perempuan sebanyak 11.548, sedangkan penderita demam typoid sebanyak 16.743 penderita. Insiden demam tifoid paling banyak ditemukan pada usia 3-19 tahun.

Bakteri Salmonella typhii menginfeksi ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi dengan kotoran manusia. Bakteri ini akan masuk ke dalam usus halus dan berkembang biak di kelenjar limfoid (Plak Peyer). Kemudian kuman masuk ke peredaran darah melalui pembuluh limfe. Tahap ini disebut bakteremia I dan berlangsung selama 7-14 hari tanpa ada gejala. Kuman dalam pembuluh darah tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh dan berkoloni di organ hati, limpa, dan sumsum tulang. Kuman ini kemudian akan menyebar kembali ke dalam peredaran darah dan mengeluarkan endotoksin (racun) dimana tahap ini disebut bakteremia II yang menimbulkan gejala pada manusia. Sedangkan kuman yang ada di dalam hati akan dikeluarkan kembali ke dalam usus halus dan terjadi infeksi seperti semula yang menetap jika tidak diobati dan menimbulkan kekambuhan.

Penyebaran penyakit ini dapat diakibatkan oleh tidak tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan dan kebersihan pribadi yang kurang baik, tidak menggunakan sabun saat mencuci tangan, menggunakan piring yang sama sewaktu makan, tidak tersedianya jamban yang sehat, dan tidak merebus air minum dengan baik.

Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi tergantung dengan jumlah kuman yang menginfeksi. Umumnya gejala yang timbul adalah demam terutama pada sore dan malam hari, dapat diikuti dengan mual, muntah, nyeri perut, nyeri otot, nafsu makan berkurang, diare, konstipasi, maupun gangguan kesadaran.  Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan peningkatan suhu badan, lidah tifoid (kotor di tengah, tepi dan ujung lidah merah serta tremor/bergetar), bradikardi relatif (peningkatan suhu tidak diikuti peningkatan denyut nadi), pembesaran hepar/hepatomegali, nyeri tekan perut, dan gangguan kesadaran.

Diagnosis demam tifoid ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium yang mendukung. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dapat berupa pemeriksaan darah tepi, uji serologis, dan kultur atau biakan. Diagnosis pasti untuk penyakit ini adalah biakan/kultur darah. Karena hasil pemeriksaan ini memerlukan waktu sekitar 1-2 minggu, maka jarang digunakan. Saat ini, pemeriksaan laboratorium yang biasa digunakan adalah Tes Widal dan Tes Tubex.

Sekitar 10-15% dari pasien yang tidak diobati akan mengalami komplikasi, terutama pada yang sudah sakit selama lebih dari 2 minggu. Komplikasi yang sering dijumpai adalah reaktif hepatitis, perdarahan gastrointestinal, perforasi usus, ensefalopati tifosa, dan syok septik.

Tujuan pengobatan pada demam tifoid adalah untuk eradikasi (membunuh) bakteri agar tidak terjadi kekambuhan, menghilangkan gejala, mencegah terjadinya komplikasi, dan menghindari kematian.  Pengobatan yang diberikan berupa antibiotik dan obat simptomatik (berdasarkan gejala). Selain itu, penderita demam tifoid  perlu istirahat total/tirah baring, nutrisi yang adekuat, dan cairan untuk mengkoreksi kehilangan cairan dan elektrolit.

Selain itu, yang paling penting adalah pencegahan agar tidak tertular dan terinfeksi bakteri Salmonella typhii. Strategi pencegahan yang dilakukan adalah menjaga higiene perorangan terutama menyangkut kebersihan tangan dan lingkungan, sanitasi yang baik, merebus air sebelum di minum, dan penyediaan air bersih sehari-hari. Saat ini telah tersedia vaksinasi untuk pencegahan demam tifoid terutama bagi yang berisiko terinfeksi demam tifoid.(*)

 

dr Alvian Wandy

(Puskesmas Maroangin Kota Palopo)

 

Click to comment

Most Popular

To Top