Arahkan Dakwah ke Nuansa Mendidik – Palopo Pos
Metro

Arahkan Dakwah ke Nuansa Mendidik

* Dai Diimbau tak Bahas Politik saat Ceramah Ramadan

PALOPO –— Bulan suci Ramadan segera datang. Tinggal dua hari lagi. Di bulan yang penuh berkah ini, salat tarawih biasanya diisi dengan ceramah agama. Di sini, Ikatan Muballigh Kota Palopo (IMKOP) mengajak para dai supaya isi ceramahnya tak menyinggung politik. Lebih baik dakwah digiring ke nuansa mendidik yang dapat meningkatkan kapasitas diri dan ibadah.

Para dai akan disebar ke sejumlah masjid untuk mengisi ceramah bulan suci Ramadan. Dai ini berada di bawah naungan IMKOP yang diketuai oleh Dr Abdul Pirol, MA.

Kepada Palopo Pos, rektor IAIN Palopo ini, mengajak untuk saling memperingatkan dalam menghadapi bulan suci Ramadan agar muballigh tidak membahas masalah politik.

”Dengan kehadiran teknologi komunikasi dan informasi ini harus disikapi oleh para muballigh dengan bijak karena hal tersebut bisa saja membawa pengaruh negatif, namun juga punya manfaat yang baik,” ujarnya.

Bisa dibayangkan, lanjutnya, dengan sebuah smartphone saja dai bisa menyimpan beribu-ribu buku dan informasi apa saja dari seluruh dunia bahkan Alquran pun di masa kekinian ini sudah disimpan di dalam smartphone dan dapat dibawa kemana-mana.

Fenomena perkembangan tersebut, sebutnya, sebagai dampak modernisasi di era kekinian yang perlu menjadi perhatian para dai atau muballigh dalam materi dakwahnya agar masyarakat tidak mudah terjerumus, terpengaruh dan terperangkap oleh informasi-informasi yang menyesatkan bahkan informasi yang mengarah kepada ujaran kebencian yang dapat melahirkan konflik antar kelompok dan golongan.

Pirol menegaskan, IMKOP sebagai salah satu lembaga yang mempersatukan muballigh di Kota Palopo ini berperan sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, beragama dan di semua sendi kehidupan. Pirol sekali lagi mengingatkan para dai supaya tidak menyinggung politik di ceramah ramadannya.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Palopo, Drs H Usman, M.Ag, menjelaskan, dalam menyampaikan dakwahnya para muballigh tidak meresahkan masyarakat. “Kita harus punya konsep yang baik, berkualitas agar kita dapat terhindar dari polemik yang tak berujung,” tutur H Usman.

Ia juga menekankan kepada para muballigh bahwa dalam menyampaikan dakwah tidak membuat masyarakat terkotak-kotak. Untuk itu, dalam dakwah harus mengutamakan esensi dakwah itu sendiri.

”Dalam dakwah harus disampaikan santun dengan bahasa yang baik, hindari ucapan-ucapan yang bisa diartikan sebagai ujaran kebencian, giringlah materi dakwah kita ke arah nuansa yang mendidik yang dapat meningkatkan kapasitas diri dan ibadah,” harapnya.

Dirinya juga menegaskan, materi juga tidak boleh mempertentangkan unsur SARA, tidak bermuatan unsur penghinaan terhadap golongan atau kelompok tertentu, tidak bermuatan kampanye (politik praktis) atau promosi produk dan yang terakhir harus tunduk kepada peraturan hukum.(rhm/ary)

Click to comment

Most Popular

To Top