Bawaslu Bentuk Tim Dakwah – Palopo Pos
Utama

Bawaslu Bentuk Tim Dakwah

*Pantau Ceramah Berbau Politik Selama Ramadan

PALOPO — Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Palopo selain memantau kegiatan kampanye dari kedua paslon wali kota dan wakil wali kota Palopo, juga ternyata punya program religi dalam mengisi dakwah atau ceramah selama Ramadan.

Dinamakan “Bawaslu Berdakwah”. Untuk Kota Palopo, dikatakan Ketua Bawaslu Kota Palopo Syafruddin Djalal, ia menyiapkan sejumlah muballigh yang akan terjun ke masyarakat memberikan siraman rohani dan pemahaman turut serta berperan mengawasi jalannya pilkada di Kota Palopo.

“Ada 8 yang mendaftar di program ini, dan kalau diberi kesempatan akan kita terjunkan,” kata Syafruddin Djalal ditemui di kantornya, Selasa 15 Mei 2018, lalu.

Program Bawaslu Berdakwah digagas Syafruddin Djalal jauh hari, bahkan sebelum Bawaslu RI membuat hal yang sama. Dari Bawaslu Kota Palopo lebih dahulu membuat program tersebut.

Sebelumnya, Bawaslu mewacanakan akan memantau konten ceramah menjelang Pilkada serentak 27 Juni 2018.

Menurut Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulsel, Azry Yusuf bahwa, Bawaslu RI masih mempelajari rencana memantau konten ceramah dan menunggu masukan dari tokoh kelompok agama.

Menurut dia, penting atau tidaknya memantau konten ceramah, tergantung dari prinsipnya. Ia berujar, maksud dari wacana memantau konten ceramah adalah bagaimana mengajak masyarakat, agar tidak terjebak dalam kegiatan-kegiatan kampanye politisasi SARA.

“Ini kan tujuannya untuk kemaslahatan ummat juga, jadi kita anggap penting,” katanya.

Sementara, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar, Masykur Yusuf menanggapi wacana pemantauan ceramah dan atau khutbah oleh Bawaslu.

Masykur Yusuf menjelaskan penceramah atau khatib diikat oleh etika. Menurut dia, tanpa imbauan dari Bawaslu, para penceramah dan khatib senantiasa harus memperhatikan etika.

“Jadi memang bukan hanya ada Pilkada, karena sudah etikanya. Jadi makruh khutbahnya orang atau ceramah kalau ada yang menjelek jelekkan orang lain,” tutur Masykur Yusuf.

Masykur berpendapat, himbauan Bawaslu untuk memantau dan atau mencermati konten ceramah dan isi khutbah, bukan hal yang penting.

“Tapi bagi kami itu tidak terlalu urgen, karena bagi kami tanpa ada pilkada memang penceramah dan khatib ada etikanya,”

“Intinya khutbah itu mengajak orang untuk berbuat baik, jadi kalau ada orang yang mencaci dan menghina orang lain, maka makruh itu khutbah,” tandas dia. (idr)

Click to comment

Most Popular

To Top