Enam OPD Belajar ke Banyuwangi – Palopo Pos
Luwu

Enam OPD Belajar ke Banyuwangi

*Melihat Langsung Pengelolaan Data Geospasial

BELOPA — Enam Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Luwu masing-masing, Bappeda, Bapenda, Dinas Kominfo, Dinas PU, Dinas Perkim, dan Gugus Tugas Geospasial Kabupaten Luwu studi banding ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Kepala Badan Perencanaan Pembangungan Daerah (Bappeda) Kabupaten Luwu, Muhammad Rudi, Selasa 10 Juli kemarin menuturkan, studi banding enam OPD lingkup Pemkab Luwu ke Kabupaten Banyuwangi untuk melihat perkembangan pengelolaan data Geospasial di Banyuwangi.

“Banyuwangi itu kan, satu satunya daerah terbaik pengelolaan data Geospasial se Indonesia. Di Luwu kita sedang genjot program satu data satu peta.

Jadi aplikasinya satu peta satu data, yang nantinya tidak ada beda-beda data dan petanya,” kata Muh Rudi, Selasa 11 Juli kemarin.

Menurutnya pemilihan kota Banyuwangi lokasi studi banding, karena karakter geografisnya serupa dengan wilayah daratan kabupaten Luwu.

Banyuwangi, kata Muhammad Rudi masuk enam besar daerah kompetisi Inovasi Pemanfaatan Geospasial pada tahun 02017 yang digelar Badan Informasi Geospasial (BIG) Nasional.

Banyuwangi dinilai berhasil mengoptimalkan pemanfaatan Geographic Information System (GIS) dalam tata kelola pemerintahannya.

Dimana Informasi Geospasial (IG) telah menjadi bagian penting dalam kegiatan pembangunan di Banyuwangi. Saat ini, kata dia, Banyuwangi telah memanfaatkan IG untuk membuat peta digital tentang kondisi geografis daerah.

Berdasar peta tersebut, berbagai program pembangunan mulai dari penanganan kemiskinan, pendidikan, layanan kesehatan, rencana tata ruang, dan monitoring pembangunan dipetakan secara digital dengan memanfaatkan teknologi ini.

“Sehingga itulah Pemkab Luwu mengunjungi Banyuwangi untuk melakukan Studi Banding soal tata kelola pemanfaatan IG, tentu implementasi IG pada program penanggulangan kemiskinan.

Jumlah warga miskin daerah dipetakan secara digital mulai titik koordinat wilayahnya, jumlah keluarga miskinnya, kategori kemiskinannya hingga jenis bantuan yang diberikan terpetakan secara detail by name dan by adress,” papar Rudi.

Sisi lain Informasi Geospasial adalah untuk program e-monitoring System (EMS) yang memuat pemetaan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan desa mulai sebelum, proses pengerjaan, hingga hasil akhirnya. “Dengan program ini membuat monitoring yang dilakukan oleh Pemkab pada desa lebih efisien dan hemat biaya,” ujarnya.

Sementara itu Sekertaris Dinas Perumahan Pemukiman (Perkim) Kabupaten Luwu Sofyan Thamrin ST menuturkan program satu data satu peta manfaatnya adalah di gunakan untuk penataan perumahan. Izin izin usaha dan beberapa program penataan kota.

IG juga bisa dimanfaatkan untuk memetakan pendidikan yang memuat mulai sebaran sekolah tingkat SD hingga SMA/SMK hingga jumlah rasio guru dan siswa perkelas. Di bidang kesehatan, puskesmas juga memanfaatkan IG untuk mengetahui persebaran tren masalah kesehatan.

“Puskesmas pun bisa juga memanfaatkan geospasial. Setiap ada kasus kesehatan, mereka akan menandai wilayah tersebut dan memetakannya. Berdasar peta-peta itu, puskesmas akan tahu wilayah persebaran hingga bisa membuat tren masalah kesehatan di wilayah sekitarnya sehingga bisa memudahkan intervensi,” kata Sofyan Thamrin ST.

Studi Banding pemanfaatan IG ke Pemkab Banyuwangi di Pimpin Kepala Bappeda Luwu Muhammad Rudi, dan diikuti Ketua DPRD Luwu Andi Muharir, Kepala Bapenda Luwu Moh Arsyad Arsal, Kadis Kominfo Anwar Usman, Sekertaris Dinas Perkim Sofyan Thamrin ST, dan perwakilan dari OPD lainnya termasuk rombongan Kepala Bidang (Kabid) baik dari kantor Bappeda maupun Bapenda, Dinas PU, Dinas Perkim dan Kominfo. (fan/him)

Click to comment

Most Popular

To Top