Utama

ABK Asal Luwu Bebas

* Keluarga Sandera di Bastem Bersyukur

LUWU — ABK asal Luwu sudah bebas dari penyanderaan kelompok Abu Sayyaf. Samsir, 35 tahun, dan tiga ABK lainnya, kini dalam penguasaan pemerintah Filipina. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo dalam jumpa pers di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu 11 Mei 2016.
”Alhamdulillah, puji syukur pada Allah SWT. Samsir, ABK asal Bastem sudah bebas. Berikut tiga ABK lainnya,” ujar Presiden Jokowi.
Dalam jumpa pers tersebut, Jokowi didampingi Menteri Luar Negeri Retno LP. Marsudi dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
Menurut Jokowi, keempat WNI saat ini dalam kondisi baik. Saat ini mereka telah berada di dalam perlindungan pemerintah Filipina.
“Pembebasan sandera ini berhasil dilakukan melalui kerjasama yang baaik antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Filipina,” imbuhnya.
Jokowi tidak merinci proses dan bentuk kerja sama untuk pembebasan keempat WNI tersebut.
Samsir sendiri disandera pada Jumat 15 April 2016, pukul 18:30 WIB. Samsir saat itu berada di kapal TB Henry yang menarik tongkang Christy. Ia saat ini masih bersama dengan tiga ABK lainnya, yakni, Moch Ariyanto Misnan (master), Loren Marinus Petrus Rumawi (chief officer), Dede Irfan Hilmin (second officer).
Mendengar kabar pembebasan anak mereka, keluarga sander di Bastem langsung bersyukur. Mereka sangat gembira.
Gazali Nursalam, kerabat korban sandera, kepada Palopo Pos, malam tadi, baru mengetahui kabar pembebasan Samsir dan temannya dari media.
“Alhamdulillah. Kami sangat berterima kasih,” ujarnya.
Samsir adalah warga Desa Kanna Utara, Kecamatan Bastem, Kabupaten Luwu. Ia dibajak ketika kapal dalam perjalanan dari Kota Cebu, Filipina, kembali menuju Tarakan, Kalimantan Utara. Sekitar 15 mil dari Tawau, Malaysia. Dari 10 awak kapal, Abu Sayyaf membawa 4 orang. Enam lainnya berhasil diselamatkan.
Samsir adalah anak keenam dari tujuh bersaudara. Ia merupakan tulang punggung di keluarganya. Samsir sendiri di lingkungan keluarga dikenal sebagai anak yang sabar. ”Sepupu saya itu orangnya sabar pak,” ujar Gazali Nursalam.
Di keluarga Samsir merupakan salah seorang tulang punggung. Ayahnya sudah meninggal. ”Jadi saat ini yang menfkahi keluarganya adalah samsir,” tambah kades Kanna Utara lagi.
Sebelumnya, 10 ABK sudah dibebaskan pemerintah bersama pemerintah Filipina. Dua di antaranya adalah warga asal Malili, Luwu Timur. Mereka adalah Wawan Saputra, lahir di Palopo, 30 Desember 1993 dan bertempat tinggal di Jalan Ahmad Yani RT 01 Kelurahan Puncak Indah, Kecamatan Malili. Sementara satu orang lainnya adalah Rinaldi, kelahiran Wotu, 26 April 1991. Tempat tinggal terakhir di Jalan Tinumbu Lorong 132 2/12 RT 03/06 Makassar.

ADA TEBUSAN

Dilansir dari Inquirer, Rabu 11 Mei 2016, , keempat WNI yang diculik pada 15 April di perairan Tawi tawi itu dibebaskan di Sulu.
Inspektur Junpikar Sittin, kepala polisi Kota Jolo, Sulu mengungkap, keempat WNI itu di-drop ke rumah Gubernur Sulu, Abdusakur Tan II sekitar pukul 15.00. Mereka kemudian dibawa ke rumah sakit Teodulfo Bautista untuk medical check up.
Tidak ada penjelasan dari Sittin soal siapa atau bagaimana proses empat WNI itu bisa sampai di rumah Gubernur Sulu, ‘lokasi’ yang sama dengan saat sepuluh WNI yang pernah disandera Abu Sayyaf juga dibebaskan.
Namun Sittin mengungkap bahwa kepala urusan politik Moro National Liberation Front (MNLF), Samsula Adju, menjadi negosiator bebasnya empat WNI. Sittin juga mengatakan bahwa P50 juta (sekitar Rp 14,2 miliar) telah dibayarkan sebagai tebusan.(jpnn-ary)



Most Popular

To Top