Utama

Kampanye ‘Komandan’ Begitu Jantan

* Visi Misi Caketum Golkar

SURABAYA — Konstalasi pemilihan ketua umum Partai Golkar makin panas. Masing-masing calon ketum memiliki konsep untuk membawa partainya kembali eksis. Calon Ketua Umum Partai Golkar Syahrul Yasin Limpo tak terlalu bernafsu menjadi orang nomor satu di partai berlambang pohon beringin.
Dia menegaskan, maju sebagai caketum karena ingin membuktikan bahwa Golkar merupakan partai besar. Syahrul yang merupakan satu-satunya caketum dari DPD Golkar itu menegaskan, tidak ingin partainya kembali tercabik-cabik seperti yang dialami selama kurang lebih dua tahun terakhir ini.
“Membiarkan partai dan negara begitu saja, bukan pilihan jantan,” kata Syahrul, saat menyampaikan visi misi dalam kampanye zona II caketum Golkar di Surabaya, Jawa Timur, Rabu 11 Mei 2016.
Karenanya, ia menegaskan, sudah saatnya sekarang Golkar kembali bangkit. Munaslub di Bali, tegas komandan-sapaan akrab gubernur Sulsel dua periode ini, harus menjadi jawaban akan permasalahan yang selama ini terjadi di beringin. “Setelah munas, maka tidak ada lagu konflik,” tegasnya.
Selain partai, Syahrul juga mengingatkan kader-kader Golkar menjaga negara dari tekanan luar. Dia mengingatkan, jangan sampai sumber daya alam yang ada dikuras orang lain, sementara rakyat semakin sengsara. “Jangan biarkan negeri ini diobok-obok orang, kekayaan diambil, kemudian rakyat sengsara,” tegas gubernur Sulawesi Selatan itu.
Ia menambahkan, visi misinya menegaskan munaslub bukan hanya persoalan memilih ketum saja. Tapi, terpenting adalah melakukan rekonsiliasi memperbaiki segala yang tidak sempurna. Dia menegaskan, cukup sudah hampir dua tahun harga diri partai tercabik-cabik dengan persoalan di internal maupun eksternal. “Jadi, segala yang tidak sempurna ayo kita selesaikan di Bali,” ujar Syahrul di kesempatan itu.
Sementara itu, Ade Komarudin alias Akom, caketum Golkar yang kini menjabat Ketua DPR ini tidak ingin membawa partainya terbebani dengan kepentingan pribadinya di kala mendapat amanah menjadi Beringin I.
“Jika terpilih saya akan bersihkan hati saya, ikhlas mengabdikan diri kepada partai dengan baik supaya partai tidak terbebani dengan keinginan pribadi saya,” kata Akom, saat menyampaikan visi misi dalam kampanye caketum Golkar zona II di Surabaya, Jawa Timur.
Ia menginginkan Golkar baik dalam segala hal. Menurutnya, hal itu harus dimulai dengan memilih ketum yang baik berdasarkan prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela (PDLT).
Dia menegaskan, ukuran PDLT bukan hanya dari sudut pandang hukum positif saja. Melainkan dari persepsi publik. Nah, jika ada kader yang bermasalah tentu Golkar harus berhati-hati karena pasti akan kena getahnya.
“PDLT bukan hukum positif saja, tapi juga persepsi publik. Itu berpengaruh kepada Golkar. Hati-hati, bisa kena getahnya. Dan ini tidak bisa ditawar-tawar,” katanya.
Ade berjanji akan merangkul semua caketum jika dirinya terpilih pada Musyawarah Luar Biasa (Munaslub) yang akan berlangsung di Bali, pekan depan. Sebab, kata Akom, kebersamaan dan persatuan sangat dibutuhkan untuk membangun Golkar ke depan.
Akom yakin masalah akan selesai dengan kebersamaan dan gotong-rotong. Ia pun berharap penderitaan yang dialami selama 1,5 tahun saat elite partai berkonflik tak terulang lagi.
Menurutnya, semangat meritokrasi harus dikedepankan. Orang berprestasi harus dihargai. Memilih pemimpin yang akan datang harus dengan melaksanakan asas prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela (PDLT).
“Ini untuk meneruskan legacy (warisan, red) Pak Harto. Kita jaga dengan baik agar partai ini cepat besar,” kata Akom saat menyampaikan visi dan misi pada kampanye caketum Golkar zona II di Surabaya.
Saat kampanye Kang Akom disambut antusias para pendukungnya.
Menurutnya, Bapak Pembangunan Indonesia yang juga Presiden ke-2 RI Soeharto, telah mewariskan karya kekaryaan sampai dengan saat Golkar dipimpin Aburizal Bakrie.
Karenanya, Akom mengajak agar warisan atau legacy yang sudah ditanamkan Soeharto, itu diteruskan.
“Itu harus dijaga dan dipelihara oleh kita semua,” tegas pria kelahiran Kampung Benteng, Purwakarta 20 Mei 1965 ini.
Akom mengingatkan untuk memaksimalkan berkarya membangun partai modern, terbuka dan partisipatif. Menurut dia, dibutuhkan kreativitas untuk membangun Golkar ke depan menjadi lebih baik.
Pada kesempatan itu, Akom mengajak kembali kepada cita-cita awal pendirian partai untuk membawa Golkar sebagai partai moderat, bersih berjiwa karya dan kekaryaan.
Ketua DPR itu mengingatkan pendiri partai selama ini terus menjalankan Golkar dengan karya dan kekaryaan bukan menjadi oposisi. Karenanya, Akom menegaskan harus memenangkan partai dan mengelola rakyat untuk berpartisipasi bersama-sama dengan pemerintah.
“Partai ini belum terbiasa menjadi oposisi karena terlalu lama diberikan kesempatan mengelola pemerintahan bukan melawan pemerintah,” katanya.
Calon Ketua Umum Partai Golkar Priyo Budi Santoso tidak ikhlas jika ada tangan-tangan kekuasaan mencampuri urusan musyawarah nasional luar biasa PG di Bali.
Apalagi kalau tangan-tangan kekuasaan itu mengintervensi dan mendukung salah satu caketum. “Saya dan banyak teman lain tetap bertekad untuk kawal munaslub yang baik, demokratis dan bersih,” tegas Priyo di sela-sela kampanye zona II caketum Golkar di Surabaya, Rabu 11 Mei 2016.
Bukan tanpa alasan Priyo menyebut tidak ikhlas jika ada campur tangan kekuasaan dalam pemilihan ketum Golkar. Sebab, mantan Wakil Ketua DPR ini mengaku sudah mendengar kabar ada caketum yang disebut-sebut mendapatkan dukungan penguasa. “Ada kabar yang satunya yang mengatasnamakan Istana Presiden, pihak satunya lagi seolah sinyal dari Istana Wapres,” kata Priyo.
Menurut dia, hal itu patut disayangkan. Hal itu tidak baik di saat Golkar ingin berbenah dan memulai tradisi baru yang demokratis dalam memilih ketua umum. “Kasihan pimpinan Golkar dari daerah digiring ke sana-sini,” imbuh Priyo.
Jika terpilih sebagai ketum, Priyo tidak ragu sedikitpun membawa Golkar bekerjasama dan mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Tapi, pemberitaan seminggu ini membuat semua tidak nyaman. Ia mohon agar itu dihentikan. “Calon Ketum Golkar itu ada delapan, tidak hanya dua orang. Dan kami berdelapan adalah kader unggulan Partai Golkar,” katanya.
Ia mengatakan, biarkanlah Golkar berbenah dengan tradisi baru yang demokratis dan bersih. “Tidak mudah memang, karena disana-sini masih ada pemberitaan terkait jor-joran politik uang,” kata dia.
Status musyawarah nasional luar biasa (munaslub) Partai Golkar 2016 masih dalam kondisi bahaya. Sebab, forum yang diadakan untuk mengakhiri konflik tersebut masih rawan digugat karena diduga akan diikuti ratusan peserta ilegal.
Hal itu terjadi karena dari total 500 lebih pemilik suara untuk memilih calon ketua umum Partai Golkar yang baru, di dalamnya terdapat 138 Ketua DPD yang berstatus pelaksana tugas atau Plt. Menariknya, ada informasi bahwa semua Ketua Plt itu, sudah dibaiat untuk mendukung Setya Novanto agar melenggang mulus jadi Ketua Umum.
Wakil sekretaris demisioner DPD Partai Golkar Jawa Timur, Yusuf Wibisono, mengatakan Munaslub di Bali nanti bisa bermasalah karena panitia mengizinkan ketua dengan status Plt untuk menjadi peserta dan pemilik hak suara di Munaslub.
“Ketua Plt seharusnya tidak boleh mengikuti Munaslub, apalagi diberi hak suara. Itu jelas melanggar AD/ART partai dan peraturan organisasi tentang penyelenggaraan Munas,” kata Yusuf, Rabu (11/5).
Bila hal itu dipaksakan, kata Yusuf, hanya akan membuat produk Munaslub ini cacat hukum dan rawan gugatan di kemudian hari.
“Plt itu kan diisi pengurus satu tingkat di atasnya, faktanya ada empat Ketua Plt DPD Provinsi termasuk Nurdin Halid, dan ada 134 Ketua Plt di DPD II se Indonesia. Ketua Plt di tingkat II itu adalah orang-orang pengurus provinsi,” ungkap Yusuf.
Ia mencontohkan, di Jawa Timur ada sembilan Ketua Plt yang akan menjadi peserta. Antara lain, Ketua Plt DPD Golkar Bojonegoro Fredy Purnomo, Ketua Plt DPD Sampang diisi Zainal Arifien, Ketua Plt Kabupaten Blitar Sabron Pasaribu.(jpnn/ary



Most Popular

To Top