Utama

”Tuhan Kabulkan Doa Kami”

* Hormati Ramadan, Pengadilan Tunda Eksekusi Sampoddo

HL-2

HALAU : Warga memblokade jalan Trans Sulawesi dengan batang pohon terkait dengan pelaksanaan eksekusi lahan 25 Hektar yang dihuni 48 KK, Rabu (25/5) di Kelurahan Sampoddo, Kota Palopo. Aksi tersebut melumpuhkan arus lalu lintas selama 10 jam. dan juga membuat aparat pelaksanaan eksekusi lahan tersebut. –ALDY/PALOPOPOS–

HL-3PALOPO — 48 kepala keluarga sujud syukur. Rasa syukur di tengah macet melanda jalan trans Sulawesi di Kelurahan Sampoddo tak henti-hentinya diucapkan. Doa mereka sepertinya terkabulkan. Eksekusi lahan 25,5 hektar ditunda untuk menghormati bulan Ramadan dan lebaran.

Dua moment ini jadi pertimbangan kemanusiaan dari pihak pengadilan dan keamanan. Saat yang bersamaan di sekitar obyek sengketa, ada warga yang meninggal dunia. Eksekusi rencananya digelar Rabu 25 Mei 2016. Ini sesuai jadwal yang ditetapkan Pengadilan Negeri dan disepakati pengamanan dari Polres dan TNI.
Penundaan dengan alasan kemanusiaan oleh aparat sifatnya sementara.
Kapolres Palopo, AKBP Dudung Adijono, SIk secara resmi mengajukan penundaan eksekusi terhadap lahan 25,5 hektare di Kelurahan Sampoddo, Kecamatan Wara Selatan.
Alasan kemanusiaan yang dimaksud kapolres Palopo yang diaminkan Ketua PN Palopo, Albertus Usada SH MH, itu karena salah seorang warga yang berdekatan dengan objek eksekusi berduka.
“Ada warga yang meninggal disekitar objek eksekusi, kita hormatilah,” kata kapolres. Selain alasan tersebut, pertimbangan lainnya, karena dalam waktu dekat ini, umat islam akan melaksanakan bulan suci Ramadan dan lanjut lebaran. ”Kita hormati juga kedatangan bulan suci Ramadan ini,” kata kapolres.
Kendati demikian, kapolres pun berjanji kepada pemohon eksekusi akan mengawal proses eksekusi setelah hari Raya Idul Fitri. ”Saya janji. Pegang janji saya. Eksekusi akan dilaksanakan usai lebaran,” tegasnya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pengacara pemohon eksekusi.
Sejak pukul 06:00 Wita, personil sudah berkumpul di halaman Islamic Center. Sebanyak 700 personil gabungan TNI, brimob, Polres Palopo, Satpol PP, Damkar dan PLN, bersiap bergeser ke Kelurahan Sampoddo.
Tiba-tiba, laporan terkait adanya warga yang meninggal di sekitar objek eksekusi diterima kapolres. Itu kemudian dikoordinasikan dengan kapolda. Sesuai perintah kapolda, untuk menghormati keluarga yang berduka dan menghormati masuknya bulan suci, kapolda memerintahkan kapolres untuk menunda eksekusi hingga usai lebaran.
Tentu saja hal itu ditolak oleh pengacara pemohon, namun untuk meyakinkan pemohon, kapolres pun berjanji akan mengawal proses eksekusi hingga selesai lebaran.
Warga yang mendengarnya langsung menyambut gembira penundaan tersebut. ”Alhmadulillah, Tuhan menjawab doa kami,” ujar Ny. Neni, salah seorang ibu rumah tangga yang mendiami wilayah disengketakan sejak 1994.
Hal senada juga dikemukakan Ramlah, warga Sampoddo. Ia yang bermukim sejak 2005 mengaku sangat bersyukur eksekusi ditunda…”alhamdulillah…”.
Saat pernyataan eksekusi ditunda, blokade jalan bukannya dibuka. Namun, aksi penutupan jalan makin rapat. Warga belum bersedia membuka pohon kayu yang di tengah jalan.
Sejak pagi pukul 05:30 Wita, dini hari, ratusan warga korban eksekusi mulai memenuhi jalan. Mereka menebang pohon sepanjang jalan kurang lebih 500 meter dengan maksud menghalau baracuda, water canon, dan pergerakan aparat masuk ke dalam wilayah yang mereka pertahankan. Akibat aksi warga ini, membuat arus lalulintas terganggu. Lumpuh selama kurang lebih 10 jam.
”Ini adalah bentuk kemarahan kami untuk mempertahankan tanah kami,” ujar warga.
Segala upaya terus ditunjukkan warga dalam usaha mereka bertahan. Hanya saja, situasi sulit terkontrol hingga massa mudah terpancing, teriakan kata “lawan” terus didengungkan. Berdasarkan jadwal pembacaan eksekusi dibacakan sekitar pukul 08:00 Wita, namun hingga siang hari belum ada kejadian. Namun upaya negosiasi terus dilakukan aparat yang terus ditolak hingga membuat aksi saling lempar antar aparat dan warga, namun hal tersebut tidak berlangsung lama.
Trans sulawesi di Kelurahan Sampoddo macet total. Lamanya bikin ampun. Truk-truk terpaksa diparkir di atas bahu jalan sambil menunggu pohon kayu yang digunakan menutup jalan dibuka kembali. Kendaraan dari Palopo menuju Luwu dan sebaliknya tidak bisa melintas. Semua akses jalan ditutup rapat oleh warga.
Jalan lingkar barat yang melintasi Mungkajang tak bisa menolong banyak masyarakat. Sebab, ujung jalan yang tembus samping Masjid Sampoddo, ikut pula diblokir warga.
”Kita mau apalagi. Kita serahkan sepenuhnya ini kepada kepolisian untuk bisa membuka jalur yang ditutup warga,” ujar Rasidin, salah seorang sopir truk yang parkir sejak 07:00 Wita.
Selain truk-truk pengangkut barang yang hendak kembali ke Makassar, kondisi ini dirasakan pula mobil angkutan umum, anak sekolah, pegawai kantoran, dan mobil dinas dan kendaraan pribadi pejabat yang hendak ke kantor. Kendaraan besar dan yang diparkir seperti ular sampai ke depan Islamic Centre.
Mobil terjebak dalam kemacetan yang panjang berlangsung pukul 07:00 Wita. Kondisi baru normal kembali pukul 15:00 Wita. Aparat gabungan dari Polres Palopo, TNI, brimob berupaya merayu warga supaya membuka alat yang digunakan untuk memblokir jalan. Namun, warga tak mengindahkan permintaan tersebut. Kapolres Palopo AKBP Dudung Adijono, Dandim 1403 Sawerigading Letkol Kav Cecep Tendi Sutandi, Ketua DPRD Luwu Harisal A Latief, Camat Wara Selatan, Suriani Andi Kaso, para lurah terlihat di lokasi sedang membujuk warga supaya membuka kembali jalur yang mereka tutup. Sayang, bujuk rayu petinggi polri dan TNI di Palopo tak membuahkan hasil. Malah, mereka sempat dihujani batu dari arah yang berlawanan. Saat itu, mereka hendak mendatangi warga. Belum sampai di lokasi warga yang mau dieksekusi, hujan batu sudah menyambutnya. Tak mau ambil risiko, kapolres, dandim, ketua DPRD menghindar dari gempuran batu. Camat Wara Selatan menghindar ke rumah warga mengamankan diri. Dalam insiden tersebut, satu anggota TNI dan kepolisian kena lemparan batu dan mendapat jahitan.
”Pak kapolres mau memperlihatkan surat jaminan bahwa eksekusi ditunda. Tapi, sayang, belum lagi surat diperlihatkan pak kapolres, kami langsung disambut dengan hujan batu,” ujar camat Wara Selatan.
Ia sendiri saat kejadian tidak tahu lagi posisi kapolres, dandim, dan ketua DPRD. Ia yang jalan dengan ketua DPRD tidak bisa lagi melihat keadaan pimpinan DPRD tersebut. ”Saya langsung menghindar dan masuk rumah warga. Saya mengamankan diri di dapur, samping kulkas,” kata camat, saat berada di kantor Lurah Songka.
Hasna, lurah Sampoddo mengatakan berdasarkan daftar nama dari pengadilan sebanyak 48 kepala keluarga yang rumahnya akan dieksekusi. Ada beberapa rumah yang memiliki 2 kepala keluarga. “Ini berdasarkan daftar dari pengadilan,” ujarnya.
Ia memperkirakan sekitar 30 rumah yang berada di wilayah tersebut. Ada beberapa yang sudah permanen dan ada juga dibuat dari kayu. Bahkan di antara mereka ada yang sementara membangun.(ald-ara/ary/L)

Most Popular

To Top