Utama

Pihak Sekolah Mengaku Kecolongan

WALMAS — Pengamanan di SMAN Bosso patut dipertanyakan. Sebab, saat aksi pengeroyokan terjadi di lingkunan sekolah yang sepertinya belum memiliki tenaga satpam, tak satupun guru yang turun tangan melerainya. Jadi wajar kalau pihak SMAN Bosso dibilangi kecolongan dan bupati Luwu diminta mengevaluasi kepala sekolahnya.
”Apa memang di sekolah yang besar itu belum memiliki satpam,” terang salah seorang warga, sore kemarin.
Apa tanggapan pihak sekolah? Melalui Kepala
SMAN Bosso, Haeruddin, SPd, tidak mengelak kalau peristiwa naas itu, terjadi pada saat jam belajar atau mid semester berlangsung, Sabtu 28 Mei 2016. Kasus pengeroyokan hingga berujung maut pada salah satu siswanya tersebut, diakui Haeruddin, pihaknya kecolongan. SMAN Bosso, lanjut dia, dari dulu dikenal sebagai sekolah yang rawan tawuran dan perkelahian antar sesama siswa dengan motif balas dendam. Olehnya itu, jauh hari sebelumnya, sejak dia (Haeruddin) ditempatkan di SMAN Bosso sebagai pelakasana tugas sementara, sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan sekolah tersebut dibenahi.
“Bahkan, pengantisipasian kami terhadap tawuran dan perkelahian antar siswa sudah kami redam. Adapun kejadian yang menewaskan almarhum Akbar, betul-betul kami kecolongan, namun apapun bentuknya, kasus ini menjadi pukulan berat bagi kami terkhusus pihak sekolah,” beber Haeruddin, di ruang kerjanya, Senin 30 Mei 2016.
Masih, kata kepsek, ketika insiden pengeroyokan, telah usai jam mata pelajaran pertama. Karena, ada keributan dirinya mengambil inisiatif untuk menghentikan mid semester dengan alasan, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Mid semesternya kami lanjutkan dan alhamdulillah berjalan dengan sukses,” papar Haeruddin.
Ditanya soal insiden tewasnya Akbar, Haeruddin, mengaku pihak sekolah kecolongan dan persoalan tersebut diakuinya menjadi pukulan berat bagi pihak sekolah. “Biar bagaimanapun juga ini masih tanggungjawab kami,” imbuhnya.
Dua pelaku yang diduga ikut terlibat, masing-masing, RS alias BL 17 tahun, dan PL 17 tahun. Hanya sembilan jam dikurung di sel Polsek Walenrang, setelah itu digiring ke Mapolres Luwu di Belopa. Artinya, kasus pengeroyokan hingga menewaskan korban, diambil alih penyidik Mapolres Luwu. Saat ini, penyidik masih melakukan pengembangan kasus karena kemungkinan besar masih ada pelaku tambahan.
Kapolsek Walenrang, AKP Amos Bijak SH, mengatakan, kedua terduga pengeroyokan telah dibawa ke Polres Luwu. Keduanya sudah dibawa Minggu 29 Mei 2016, setelah penyidik Polres Luwu, mengambil keterangan para saksi dan terduga.
Seperti diberitakan sebelumnya, Akbar menghembuskan napas terakhir setelah 20 jam dirawat di RSS Rampoang Kota Palopo, akibat luka-luka yang dialami di sekujur tubuhnya. Luka paling parah terdapat di bagian belakang layaknya terkena benda tumpul.
Ihwal bahwa pelakunya diduga melebihi dari satu orang dan merupakan teman sekelas korban, hal itu berdasarkan keterangan beberapa saksi yang telah dimintai pernyataannya di Mapolsek Walenrang.
“Almarhum masih sempat dirawat semalam di RSU Rampoang. Subuhnya, nyawa almarhum tidak lagi tertolong,” kata sejumlah teman almarhum di Mapolsek Walenrang.(ded/ary/t)

Most Popular

To Top