Luwu Timur

Hutan Lindung Beralih Jadi Kebun Lada

MALILI–Ratusan hektare hutan lindung di Luwu Timur beralih jadi kebun lada. Banyak kepala desa mengeluhkan perambahan hutan lindung di daerah Kecamatan Towuti.

Kepala Desa Lohea, Hamka Tandioga mengadu ke DPRD Luwu Timur. Dia melaporkan maraknya perambahan hutan yang di duga dilakukan warga pendatang yang ada di desanya. ”Di desa saya itu lebih banyak warga luar yang masuk dari pada warga lokal dan rata-rata sudah punya perkebunan merica,”kata Hamka di DPRD Luwu Timur, Rabu 10 Agustus.

Laporan ini disampaikan kepada 0Komisi I DPRD Luwu Timur, Herdinang.
Menurut Hamka, telah melakukan pendataan penduduk di desanya.”Tiap ada penduduk baru masuk, saya buatkan surat pernyataan, bahkan pernah ada warga luar saya usir,”tegas Hamka.

Dia mengaku geram, karena perambahan hutan di desanya itu semakin meluas. “Dulu di desa saya itu sejuk ,sekarang panas dan warga sekarang mengunakan AC, di desa saya itu paling para prambahan hutanya, petani mengunakan alat berat.

Bahkan, ada orang Cina juga membuka lahan hingga ratusan hektar,yang dibuka untuk lahna perkebunan merica,”jelas Hamka. Parahanya, lokasi yang di garab itu sudah melanggar tata kelola lingkungan pinggiram danau. Hal ini yang perlu disikapi pemmrintah daerah,supaya tidak merugikan banyak orang.
Warga Luwu Timur, Saharuddin ikut menyoroti perambahan hutan yang semakin meluas.

”Bagi petani yang sudah terlanjur bercocok tanam agar tidak lagi melakukan penambahan lokasi. Paling tidak di sekeliling lahan dilakukan upaya penghijauan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti longsor,”tegas Saharuddin. Menurutnya, kalau mau dihitung jumlah masyarakat petani yang bercocok tanam dengan taraf kehidupan miskin hingga menengah. Lahan lahan yang mampu digarap dan ditaksir hanya mencapai dua hektar setiap orang.

Anggota Komisi I DPRD Luwu Timur, Herdinang mengaku sangat prihatin melihat hutan lindung yang dirambah menjadi kebun lada. ”Perambahan hutan ini mengakibatkan Towuti sering dilanda banjir,”kata Herdinang.

Legislator Partai Demokrat ini menyebut dampak dari perambah hutan lindung dengan adanya banjir dan longsor. Alumni IAIN Palopop ini menyebutkan Lutim telah darurat kawasan hutan.

“Luwu Timur ini sudah darurat kawasan hutan,
dari laporan dari Desa Tokalimbo, Desa Lohea, Desa Bantilang, ternyata banyak warga luar yang datang membabi buta merambah untuk perkebunan merica,”ujar Herdinang. Pria asal Bantilang menjelaskan semakin banyak penduduk pendatang di daerah seberang Danau Towuti.

Untuk itu, pemerintah harus mengambil langkah kongkrit. Ia juga berharapa agar kepala desa jangan sembarang memberikan rekomnedasi untuk terbitkan KTP dan KK di desa. Sebelum keluarkan KTP dan KK harus melakukan pendataan terlebih dahulu.

“Kami di DPRD itu akan mengangendakan pertemuan dengan mengudang pihak terkait dari Catatan Sipil (Capil) untuk membicarakan hal ini terkait penambahan jumlah penduduk yang masuk di wilayah itu.”tandasnya. (krm/shd)



Most Popular

To Top
.