Metro

Antisipasi Bencana, Pemkot Anggarkan Rp1,5 Miliar

PALOPO — Bencana yang menimpa wilayah Luwu Raya seperti banjir dan tanah longsor membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palopo terus siaga 24 jam. Masyarakat Kota Palopo diminta untuk mewaspadai terjadinya bencana utamanya di wilayah titik-titik yang terkena dampaknya di wilayah Kota Palopo.

Untuk tahun 2017 ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo telah menyediakan dana kontigensi sebesar Rp1,5 Miliar. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPAKD) Kota Palopo, Hamzah Jalante.

Kepada Palopo Pos, Hamzah menyebutkan setiap tahunnya Pemkot Palopo menganggarkan dana kontigensi berkisar miliaran rupiah. Dana kontigensi atau belanja tak terduga ini digunakan jika ada kejadian yang sifatnya tak terduga seperti bencana alam.

”Iya setiap tahunnya kami anggarkan. Dan tahun ini, Pemkot Palopo anggarkan sekitar Rp1,5 Miliar,” sebut Hamzah kemarin.

Sementara itu, BPBD Kota Palopo telah memetakan wilayah rawan bencana. Untuk wilayah rawan longsor di Kota Palopo terdapat di 3 (tiga) kecamatan, yakni Kecamatan Wara Barat, Kecamatan Sendana, dan juga Kecamatan Mungkajang, dimana wilayahnya berada di Latuppa, Kambo, Lebang, Battang, Sampoddo, dan Purangi.

Untuk wilayah rawan banjir terdapat di empat kecamatan yakni Kecamatan Wara, Kecamatan Wara Timur, Kecamatan Telluwanua, dan Kecamatan Wara Selatan. Semua wilayah rawan banjir tersebut terdapat di wilayah hilir. Yakni Marobo, Sumarambu, Padang Lambe, Dangerakko, Pajalesang, Surutanga, Pontap, dan Tompotikka.

Sementara untuk wilayah rawan terjadi angin puting beliung, berada di wilayah pesisir, seperti di Kecamatan Telluwanua, Kecamatan Wara Selatan, Kecamatan Wara Utara, dan Kecamatan Wara Timur, yakni Ponjalae, Surutanga, dan Pontap.

Demikian diungkapkan Kepala BPBD Kota Palopo, Hasan, S.Sos. Menurutnya, rawan longsor diakibatkan pergeseran tanah yang bisa saja terjadi jika curah hujan terus-menerus seperti saat ini.

Selain itu, sejumlah titik di daerah tersebut terindikasi rawan longsor akibat kontur tanah yang labil dan penggunaan lahan yang tak sesuai dengan jenis tanah di wilayah tersebut.

”Kemungkinan terjadinya longsor tak bisa diprediksi seperti sebelumnya, dikarenakan saat ini cuaca dan perubahan iklim yang tak menentu.

Untuk itu, wilayah yang tingkat kekeringan tinggi wajib diwaspadai, seperti di wilayah Battang Barat karena belum lama ini, lahan tersebut mengalami kebakaran sehingga tak ada tanaman yang menahannya dari atas, dan itu sangat rawan terjadinya longsor,” ungkap Hasan kemarin.

Hasan menjelaskan, ditempatkannya pos titik pantau bencana di wilayah tersebut dikarenakan tiga wilayah tersebut sudah merupakan zona longsor dan banjir. Dan penduduk di wilayah tersebut dan sekitarnya harus waspada terhadap bencana tersebut.

”Dengan prediksi dari Badan Metereologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ini, kami mengimbau kepada masyarakat Luwu Raya agar mewaspadai banjir yang sangat berpotensi banjir di bantaran sungai.

Masyarakat juga harus waspada, khususnya yang berada di pesisir pantai serta daerah rawan longsor. Pohon tumbang dan petir menyertai awan comulunimbus juga sangat patut diwaspadai karena sangat berpotensi terjadi,” imbaunya kemarin.

Ia mengungkapkan, BPBD telah menugaskan tiga orang yang melakukan pemantauan di wilayah tersebut. Tiga orang tersebut merupakan penduduk setempat yang ditunjuk berdasarkan rekomendasi dari pemerintah setempat. Mereka bertugas 1X24 jam melakukan pemantauan potensi bencana, dan melaporkannya ke BPBD.(rhm)



Most Popular

To Top