Politik

Luthfy: Berpolitik Itu Perlu Etika

Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Nasional Demokrat (NasDem) Luthfy A Mutty. IST

JAKARTA — Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Nasional Demokrat (NasDem) Luthfy A Mutty mengakui jika arena dalam berpolitik praktis memang penuh dengan tipu daya.

Meskipun penuh tipu daya, tetapi dibatasi oleh etika. Demikian dikatakan Luthfy A Mutty dalam siaran pernya yang diterima Palopo Pos, Rabu 19 Juli 2017.

Menurut Luthfy, lanjutnya, tetap saja diperlukan etika didalam berpolitik. Maka, asas praduga tak bersalah yang selalu jadi alasan seseorang untuk menolak mundur, meskipun dia telah ditetapkan sebagai tersangka, adalah cermin bahwa tingkat etika kita (para politikus,red) dalam berpolitik, masih rendah.

Luthfy mencontohkan, Perdana Menteri Korsel Lee Hae Chan yang mundur dari jabatannya pada tahun 2006 silam. Mungkin dapat menjadi contoh betapa para pemimpin Korsel sangat menjunjung tinggi etika dalam berpolitik.

Lee mundur karena dua alasan, Pertama, Dia bermain golf ketika negara sedang menghadapi pemogokan karyawan kereta api nasional. Tindakannya itu diniai tidak peduli dengan masalah bangsa. Padahal dia main golf di hari libur.

Kedua, Lee ketahuan bermain golf dengan seorang pengusaha yang pernah dipenjara karena melakukan manipulasi harga. Untuk itu maka Lee meminta maaf atas tindakan yang seharusnya tidak dia lakukan.

“Rupanya bagi masyarakat yang beradab, etika sebagai acuan perilaku lebih dikedepankan dibanding hukum. Dan kita sepertinya masih jauh dari perilaku itu,” sebutnya.

Seperti Kita ketahui jika baru-baru ini, KPK telah menetapkan tersangka Ketua DPR Setya Novanto sebagai tersangka korupsi KTP elektronik. Namun, posisinya sebagai ketua DPR hingga saat ini masih tetap diembannya, meskipun berbagai kalangan masyarakat meminta agar Setya Novanto mundur dari jabatannya sebagai ketua DPR. (idr/fmc)

Click to comment

Most Popular

To Top