Merinding, Kuburan Bayi di Toraja yang Jadi Wisata! – Palopo Pos
Toraja

Merinding, Kuburan Bayi di Toraja yang Jadi Wisata!

Keindahan alam dan budaya leluhur yang dimiliki orang Toraja menjadi daya pikat tersendiri. Memasuki pusat kota Toraja, kamu akan disuguhkan kemegahan rumah-rumah tongkonan yang menjadi simbol kekayaan tradisi leluhur ini.

Tidak berhenti sampai di situ. Kamu akan melihat berbagai hal unik dari upacara adat, kuburan batu, hingga kuburan khusus bayi. Ya, Toraja menjadi salah satu daerah di dunia yang menyakini kesakralan kematian bayi.
Dikenal dengan sebutan Passiliran, kuburan bayi yang berada di Kambira ini tidak boleh kamu lewatkan saat berlibur ke Toraja.

Bayi yang dimakamkan secara khusus ini adalah bayi-bayi yang meninggal dunia saat usianya belum enam bulan. Bayi yang berusia di bawah enam bulan masih dianggap suci dan tidak memiliki dosa sama sekali. Sehingga dia harus melalui proses pemakaman khusus untuk membuatnya seolah kembali ke rahim ibu.
Selain persayaratan usia, yang akan mengikuti prosesi passiliran adalah bayi yang belum tumbuh gigi. Sama halnya dengan usia, bayi yang belum tumbuh gigi berhak memperoleh hak pemakaman khusus untuk kembali ke Maha Pencipta.

Pohon tarra menjadi satu-satunya yang dipilih untuk passilliran. Pohon ini dianggap pilihan terbaik karena memiliki banyak getah dan dapat berdiri tegak. Panjangnya mencapai 100-300 centimeter.

Biasanya, jenazah akan dibungkus dengan kain kafan atau dikenakan pakaian yang baik. Namun, bayi yang dimakamkan di pohon tarra tidak menggunakan sehelai kain apa pun. Hal ini diyakini sebagai suatu simbolik bahwa para bayi tersebut kembali dalam keadaan suci layaknya di rahim ibunya.

Saat ini, tidak semua orang Toraja melakukan tradisi pemakaman bayi di pohon tarra. Hal ini hanya dilakukan oleh mereka yang masih memegang teguh ajaran leluhur atau biasanya disebut Aluk Todolo.

Prosesi pemakaman terbilang cukup sederhana. Pohon tarra dilubangi seukuran dengan mayat bayi. Kemudian bayi dimasukkan ke dalam lubang yang tersedia dan ditutup anau atau ijuk. Meski prosesinya sederhana, tapi upacara penguburan ini tidak boleh sembarangan. Masyarakat Toraja masih meyakini jenjang strata sosial. Sehingga, semakin tinggi strata sosial keluarga bayi, maka bayi akan mendapatkan tempat paling tinggi di pohon tarra. Begitu pun sebaliknya.

Selain strata sosial, hal berikutnya yang tidak dapat lepas dari prosesi penguburan ini adalah letak makamnya. Letak makam tidak sembarangan, melainkan harus diletakkan searah dengan rumah duka. Hal ini untuk menghargai para keluarga yang berkabung.

Prosesi ini senantiasa dilakukan sejak zaman leluhur hingga hari ini. Menariknya, meski banyak bayi yang dimakamkan dalam satu pohon tarra, tetapi pemakaman itu tidak pernah bau busuk. Masyarakat juga tidak pernah kehabisan pohon tarra untuk pemakaman. (alb/rhm)

Click to comment

Most Popular

To Top