996 Pengungsi Palu Masuk Luwu Raya – Palopo Pos
Utama

996 Pengungsi Palu Masuk Luwu Raya

Prev1 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

*Lutra Terbanyak 565 Orang

PALOPO — Bencana gempa, dan tsunami di Palu-Donggala mendorong banyak warga memilih eksodus (meninggalkan tempat asal) ke daerah lain. Tana Luwu sebagai salah satu tempat tujuan.

Banyak warga Palu-Donggala juga berasal dari Luwu Raya. Mereka bekerja, dan menikah di sana. Saat ini jumlah pengungsi yang tersebar di beberapa daerah di Tana Luwu sudah mencapai ribuan orang.

Di Kota Palopo misalnya, menurut data Dinas Sosial Kota Palopo jumlah pengungsi hingga, Rabu 10 Oktober 2018, kemarin mencapai 291 jiwa. Jumlah ini tersebar di 12 kelurahan. Seperti di Kelurahan Boting sebanyak 48 orang, Kelurahan Songka 9 orang, Kelurahan Amassangan 14 orang, Kelurahan Jaya 29 orang, Kelurahan Mancani 13 orang, Kelurahan Pajalesang 5 orang, Kelurahan Murante 3 orang, Kelurahan Malatunrung 17 orang, Kelurahan Luminda 14 orang, Kelurahan Sampoddo 97 orang, Kelurahan Pattene 15 orang, dan Kelurahan Padang Lambe 27 orang.

Kadinsos Palopo, Muh Tahir mengatakan, jumlah ini terus bertambah setiap harinya. Dari data di atas, Kelurahan Sampoddo masih yang terbanyak di susul Kelurahan Jaya, Padang Lambe, dan Boting.

Hingga saat ini pun Dinas Sosial masih tetap melakukan distribusi kebutuhan pokok bagi para pengungsi. “Insyaa allah kalau sampai saat ini kebutuhan pokok bagi pengungsi ini masih cukup untuk seminggu ke depan,” katanya saat ditemui di kantornya di gabungan dinas Kota Palopo.

Lalu dijelaskan Kadinsos, dari jumlah 291 pengungsi, ada 38 diantaranya anak-anak yang usai sekolah. Ia pun bersama pihak kecamatan, dan kelurahan terus aktif mendata jika saja masih ada anak yang tak terdata untuk dilakukan pendampingan sampai bersekolah lagi.

Dijelaskan Kadinsos, kalau anak-anak korban bencana Sulteng ini dibebaskan dari semua beban biaya untuk sekolah. Bahkan, pihak sekolah dan dinas harus menyiapkan perlengkapan sekolah mereka. “Kalau yang SMA/SMK sesuai arahan Kadisdik Provinsi Sulsel tidak boleh meminta biaya kepada anak pengungsi. Bahkan pihak sekolah wajib menyiapkan perlengkapan sekolahnya,” kata Kadinsos Muh Tahir.

Sedangkan bagi anak pengungsi SMP, dan SD yang ingin lanjut sekolah, Dinas Pendidikan Kota Palopo dan Dinas Sosial telah melakukan komunikasi kalau perlengkapan sekolahnya juga disiapkan pihak sekolah.

“Sampai saat ini juga pihaknya belum mendapat keluhan akan hal ini,” ujarnya.
Yang jelas, kata Kadinsos semua anak pengungsi yang ingin bersekolah tidak boleh dibebani biaya masuk sekolah, termasuk perlengkapan sekolah. Mereka berhak memilih sekolah terdekat dari tempat tinggalnya sementara, dengan maksud mengurangi biaya transportasi.

Prev1 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Click to comment

Most Popular

To Top