Cuaca Ekstrim, Nelayan tetap Pilih Melaut – Palopo Pos
Metro

Cuaca Ekstrim, Nelayan tetap Pilih Melaut

PALOPO — Cuaca ekstrim yakni angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda perairan di Luwu Raya beberapa hari belakangan ini tidak menyurutkan semangat nelayan di Kota Palopo untuk melaut.

Mereka tetap melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa. Pasalnya, nelayan di Kota Palopo menerapkan one day one fishing. Dimana mereka berangkat pada subuh pukul 05.00 Wita dan pulang menjelang maghrib pukul 17.00 Wita.

Demikian diungkapkan salah seorang nelayan, Makmur, Kamis 8 November 2018. Meskipun terjadi cuaca ekstrim nelayan tetap melaut. Pengetahuan kearifan lokal nelayan sudah bisa mempelajari bagaimana kondisi sebenarnya di laut.
“Kami itu tahu betul, bagaimana kondisi cuaca di tengah laut,” jelasnya pemilik Perahu Gae ini kepada Palopo Pos.

Menurutnya, Kalau tiba-tiba terjadi cuaca ekstrim dan gelombang tinggi di laut, mereka memilih mengalihkan perahu ke tempat yang dekat dengan daratan atau mencari bagang cicca milik nelayan yang diparkir di tengah laut.

Saat ditanya hasil tangkapan nelayan, Makmur menjelaskan hasil tangkapan di cuaca ekstrim seperti ini, tidak menentu, kadang banyak dan terkadang juga sedikit.

”Tangkapan hari ini (kemarin, Red) agak sedikit kurang lebih hasilnya Rp1 Juta hingga Rp1,5 Juta. Tidak menentu juga tergantung rejeki. Begitupun juga sebaliknya kalau cuaca normal,” katanya.

Ia menjelaskan sekali melaut kalau rejeki bagus terkadang hasil tangkapan mencapai Rp4 Juta hingga Rp5 Juta. Tapi kalau lagi rejeki tidak bagus Rp1 Juta hingga Rp1,5 Juta.
”Tidak bisa dikatakan hasil tangkapan tergantung cuaca tetapi tergantung rejeki,” tuturnya.

Kalau tidak melaut juga dalam sehari, Makmur menuturkan, kerugian kurang lebih Rp3,5 Juta. Itu hitungan kotor dari hasil tangkapan. Karena terhitung juga biaya operasional dalam 1 perahu dari 5-8 orang. Biaya operasional perahu gae dangkal sekitar Rp400 Ribu dan perahu gae kedalaman Rp1,2 Juta. Biaya operasional terdiri dari uang solar, sembako dan lain-lain.

”Jika melihat betul kondisi betul tidak memungkinkan untuk pergi melaut. Yah terpaksa tidak melaut dulu sampai cuaca kembali bagus. Berpenghasilan hanya sebagai nelayan, mengisi waktu kosong dengan memperbaiki jaring, memperbaiki perahu. Dan kadang juga ada yang pergi mengojek,” jelasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) akan memberikan asuransi kepada 1.000 nelayan di Kota Palopo. Asuransi nelayan ini melindungi nelayan dari kecelakaan akibat aktivitas penangkapan ikan, berupa uang pertanggungan untuk kematian senilai Rp 200 Juta, cacat tetap Rp100 Juta, dan biaya pengobatan sebesar Rp20 Juta.

Ini merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat atas keterpurukan nasib nelayan tradisional, maka dibuatnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan dan Pembudidaya Ikan melalui kartu asuransi nelayan.(rhm)

Click to comment

Most Popular

To Top