Gempa Mamasa Berimbas ke Luwu Raya – Palopo Pos
Utama

Gempa Mamasa Berimbas ke Luwu Raya

* Hanya Berjarak 97 Km

PALOPO — Gempa bumi kembali terjadi di Sulawesi. Kali ini di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Kekuatannya masih di bawah 6 SR, tapi cukup dirasakan hingga ke beberapa daerah di Sulsel. Bahkan sampai ke Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Wajo, dan Parepare. Jaraknya pun 97 km dari pusat gempa.

Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 171 kali gempa yang mengguncang wilayah Mamassa, Sulawesi Barat hingga Kamis 8 Movember 2018, kemarin.

Prakirawan BMKG wilayah IV Makassar dalam rilisnya menyebutkan gempa ini berlangsung selama enam hari terakhir mulai 3 November sampai 8 November 2018.
Sementara khusus untuk hari ini Rabu hingga 12.17 Wita wilayah Mamasa dinguncang gempa sebanyak 41 kali secara berturut turut hampir secara bersamaan.

Terakhir gempa pada pukul 11:52 Wita dengan kekuatan 3,4 SR. Setelah Mamasa lalu disusul gempa pada pukul 11.45.31 Wita dengan kekuatan 2,6 SR di wilayah Tana Toraja.
Pusat lokasi gempa berada pada titik 3.03 LS – 119.53 BT atau 24 km Barat laut Tana Toraja- Sulsel di kedalaman 10 Km.

Patahan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Region IV Makassar mengingatkan warga Sulawesi agar tetap waspada karena wilayah ini juga berpotensi gempa yang dilintasi oleh dua patahan, yakni Palu Koro dan Saddang.

Hal tersebut diungkapkan petugas gempa region IV Makassar, Made Widiada, di Jalan Racing Center, Makassar. “Potensi gempa ada, terutama di Mamuju, Majene dan Selat Makassar,” katanya.

Patahan Palu Koro, kata Made, melintas dari Sulawesi Utara melalui Sulawesi Tengah ke arah Sulawesi Tenggara. Sementara patahan Saddang melintas di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan bagian tengah, sampai Kepulauan Selayar.

Beberapa gempa yang merusak Sulawesi Selatan, yakni gempa di Bulukumba 29 Desember 1828, gempa Majene 23 Februari 1969, gempa Mamuju 6 September 1972, gempa Ulaweng 8 April 1993, gempa Pinrang 28 September 1997, dan gempa Mamuju 5 Februari 2008 5,8 skala Richter dengan kedalaman 30 kilometer.

Menurut Made, belum ada teknologi yang bisa memprediksi waktu terjadinya gempa. Saat ini, katanya, dengan menggunakan siesmograf sudah bisa diketahui lokasi gempa hanya dalam waktu 5 menit. Peralatan ini juga bisa menentukan apakah gempa ini berpotensi tsunami.

Informasi potensi tsunami itu selanjutnya diberitahukan ke instansi terkait, kemudian disampaikan ke masyarakat sehingga ada waktu untuk mencari tempat aman selama masa travel time atau waktu perjalanan gelombang.

Petugas BMKG Region VI Makassar, Imran Tahir, menambahkan bahwa kerusakan akibat gempa ini selain tergantung pada skalanya, juga tergantung pada posisi episenter dan kedalamannya.

Menurut Imran, posisi Sulawesi relatif rawan karena selain dilintasi oleh dua patahan, juga dipengaruhi oleh pergerakan lempeng Pasifik dengan pergerakan 110 mm/tahun, pergerakan lempeng Eurasia 71 mm/tahun, dan lempeng Indo-Australia.

Wilayah pemantauan BMKG Region IV Makassar ini meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara. Catatan tsunami di wilayah ini, yaitu Majene 1969, Sulawesi Tengah 1968, Mamuju 1984 dan Toli-Toli 1996.(int/idr)

Click to comment

Most Popular

To Top