Perlu Penanganan Serius yang Berkelanjutan – Palopo Pos
Utama

Perlu Penanganan Serius yang Berkelanjutan

* Mengembalikan Kejayaan Kakao

PALOPO — Selama ini ketergantungan bibit kakao hasil introduksi hasil kultur jaringan somatic embryogenesis (SE) yang berasal dari Puslitkoka Jember.
Melalui program Gerakan Nasional (Gernas) Peningkatan Mutu dan Produksi Kakao sejak tahun 2009 terbukti gagal.

Hal tersebut dikarenakan pada fase pertumbuhan vegetatif tanaman mengalami etiolasi dengan ciri batang meninggi dan tidak membentuk sudut percabangan yang ideal, tanaman hasil SE tidak membentuk akar tunggang sehingga mudah rebah dan rentan terhadap serangan VSD.
Demikian dikatakan Dosen Fakultas Pertanian UNCP, Masluki, SP, MP, Selasa malam, 4 Desember 2018.

Untuk mengembalikan kejayaan kakao di Luwu Raya diperlukan penanganan serius multi aspek secara berkelanjutan.
Dijelaskan Masluki, dari aspek budidaya, teknologi pembibitan seharusnya melalui proses riset yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi bekerja sama dengan penangkar swasta dan petani.

Bibit yang akan dikembangkan harus memiliki keunggulan spesifik lokasi mengingat semakin endemiknya serangan hama dan penyakit, degradasi lahan dan perubahan iklim.

“Bibit klonal tanaman kakao dapat di peroleh dengan cara pembiakan secara vegetatif tanaman kakao melaui cara Sambung pucuk, okulasi, sambung dini, dan sambung samping samping pada tanaman yang sudah tidak produktif lagi,” jelasnya.

Adanya sifat tanaman kakao yang tidak kompatibel menyerbuk sendiri maka setiap kebun petani diharuskan menggunakan banyak klon dengan pola tanam berbaris secara berselang seling. Sumber klon untuk pembuatan bibit klonal dapat di peroleh dari kebun-kebun yang telah di sertifikasi oleh petugas yang kompeten dan memiliki kapabilitas sesuai bidangnya.

Begitupun dengan penggunaan entris yang digunakan dalam teknologi sambung pucuk dan sambung samping. Entris yang digunakan seluruhnya telah tersertifikasi baik klon, sumber dan metode pengambilannya.

Sehingga ada jaminan akan kualitas tanaman kakao yang akan dibudayakan. Faktor penyebab rendahnya produktivitas dan mutu kakao saat ini adalah bahan tanaman yang di gunakan sangat beragam dan tidak jelas sumbernya, umur tanaman yang sudah tua, penerapan teknis budidaya yang sangat rendah yang berdampak pada tingginya tingkat serangan hama dan penyakit tanaman. Serta kondisi ekosistem yang kurang mendapat perhatian seperti naungan, sanitasi kebun dranase dan penerapan konservasi kesuburan tanah.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kakao adalah peremajaan dan rehabilitasi tanaman dengan penggunaan bahan tanam unggul melalui pembangunan kebun kakao klonal, Intensifikasi tanaman yang masih produktif dan perbaikan sistem panen dan pasca panen.

Pembangunan Pusat Penelitian dan Pembangan Teknologi Kakao seharusnya dibangun di daerah yang dekat dengan sentra produksi sehingga adobsi teknologi mudah dan cepat dilakukan seperti di Tanah Luwu. Begitupun dengan Kebun Entris dan industri pengolahan pasca panen sebaiknya dibangun disentra produksi untuk mengurasi biaya transportasi dan mempercepat proses edukasi penanganan pasca panen kepada petani kakao.

Lanjut Masluki, dari aspek lahan, konversi lahan kakao yang beralih menjadi lahan pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan lainnya tidak karena kakao dianggap tidak memberikan keuntungan secara ekonomi. “Lahan – lahan kakao yang telah puluhan tahun terpapar bahan kimia yang berasal dari pupuk dan pestisida tentu mengalami degradasi.

Kerusakan lahan dan ekosistem menjadi salah satu penyebab hilangnya musuh alami hama dan penyakit, tanah menjadi marginal dan pencemaran air. Dampaknya, daya dukung lahan untuk proses budidaya kakao yang membutuhkan aspek agronomis yang spesifik sulit dikembangkan.

Untuk memperbaiki tata guna lahan perlu dilakukan konservasi tanah dan sumberdaya ekosistem penunjang seperti penggunaan amelioran, pemanfaatan limbah kulit kakao sebagai pupuk, pemanfaatan musuh alami biopestisida nabati dan agen konservasi lainnya,” sebutnya.

Lalu dari aspek petani, fenomena perubahan iklim perlu mendapatkan perhatian khusus melalui riset oleh pemerintah dan perguruan tinggi. Perubahan pola curah hujan dan intensitas cahaya pada akan berdampak secara simultan terhadap fenologi pembungaan kakao termasuk siklus hama penyakit yang tidak dapat diprediksi.

Peningkatan Kapasitas petani melalui pendekatan penyuluhan dalam menambah pengetahuan, sikap dan keterampilan serta cara adaptasi terhadap perubahan pola curah hujan. Penguatan kelompok tani kakao melalui penataan kelembagaan yang adaptif dan inovatif dapat mempercepat adobsi teknologi budidaya.

Diharapkan dengan berubahnya perilaku petani dan keluarganya, kelompok tani, institusi pengambil kebijakan, petani memiliki kapasitas untuk beradaptasi terhadap perubahan pola curah hujan dan mampu mempertahankan serta meningkatkan keberlanjutan usaha tani kakao dan kualitas hidupnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa penyuluh merupakan ujung tombak keberhasilan program pemerintah di masyarakat. Penyuluh pertanian yang hidup dan berinteraksi dengan masyarakat tentu mengetahui apa yang menjadi kendala petani kakao saat ini. Oleh karena itu penyuluh harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih mumpuni dibandingkan dengan petani.

Namun pada sisi lain, penyuluh pertanian masih kurang yang focus ke petani kakao lebih banyak ke tanaman pangan. Sehingga petani kakao seolah berjalan sendiri setelah program pemerintah telah berakhir. Akses perkebunan kakao yang tergolong berat menjadi salah kendala penyuluh untuk mengontrol pertanaman kakao secara menyeluruh.

Di era digital dimungkinkan untuk membangun sebuah system konektivitas berbagai stakeholder yang berbasis android. Melaui dashboard,petani dapat melaporkan kondisi pertanaman dan aktivitasnya.

Adanya teknologi berbasis android memungkinkan untuk melakukan penyuluhan dan pemantauan kondisi pertanaman kakao secara real time dan terukur seperti aspek hama penyakit, pemupukan, kondisi agronomist, panen, pasca panen dan pemasaran.

Pertanian presisi pada tanaman kakao diharapkan dapat dikembangkan sehingga meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan kebun kakao. (idr)

Click to comment

Most Popular

To Top