Empat Terduga Peretas Asal Malangke Diserahkan ke Polda – Palopo Pos
Utama

Empat Terduga Peretas Asal Malangke Diserahkan ke Polda

Kombes Dicky: Proses Hukumnya Kami Lanjutkan

PALOPO — Empat terduga pelaku peretasan akun WA perwira TNI, saat ini telah diserahkan ke Polda Sulsel. Kini, keempatnya mendekam di rutan Polda dengan pengawalan ketat.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani, yang dikonfirmasi, membenarkan jika empat pemuda yang diduga terlibat kasus penipuan online di lingkup internal pejabat TNI, telah diserahkan Kodam XIV Hasanuddin ke Polda Sulsel, Kamis, kemarin.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, empat pelaku berasal dari Malangke Barat, Kabupaten Luwu Utara (Lutra). Masing-masing adalah IG (20) asal Desa Pao, AS (30) dan AL (29) (Lettekan) dan AF (31) Desa Waetuwo (Pengkajoang), yang sebelum diserahkan ke Polda terlebih dahulu ditahan di Kodam XIV Hasanuddin.

Keempat warga Malangke itu, ditangkap dalam operasi Intelijen Kodam lantaran diduga telah meng-hack nomor WhatsApp (WA) pejabat TNI dengan cara menyadap.
Setelah melalui pengembangan mendalam oleh Kodam XIV Hasanuddin, kini keempat pelaku, akan mendapatkan kepastian hukum.

“Proses hukumnya akan kita lanjutkan. Tetap masih akan dilakukan pengembangan karena bisa saja masih ada jaringannya diluar,” terang Dicky Sondani.

Karena rata-rata korban dari internal TNI, maka penyidik Polda akan terus berkoordinasi dengan para korban dan lebih khususnya terhadap Tim Intelijen Kodam XIV Hasanuddin.

“Penipuan dengan menghacker akun WA maupun akun lainnya di dunia maya, memang akhir-akhir ini sangat meresahkan kita semua. Untuk itu, kepada seluruh masyarakat yang ada di Sulsel pada umumnya, jika ada permintaan, atau semacam pinjam uang dan sebagainya yang masuk di WA, terlebih dulu dikroscek kebenarannya,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, para pelaku membajak nomor WA korban dengan cara mengacak nomor.

Setelah terhubung, pelaku meminta uang dengan dalih meminjam.

“Rata-rata seperti itu. Nantilah, setelah ada pengembangan dari empat pelaku ini, kita akan kasi info,” tutup perwira tiga bunga melati.
Sementara itu menurut pakar IT, yang juga dosen UNCP, Nahrun Hartono, hacker dilakukan lewat banyak teknik.

Dijelaskannya, dalam pengambilan paksa akun FB, twitter dan Media sosial lainnya, salah satunya yang paling berbahaya adalah sosial engineering teknik ini menggunakan pendekatan sosial kepada korban. Yakni, mengumpulkan informasi korban sehingga yang kemudi akan dijadikan alat/bahan untuk mengambil alih akun korban.

“Bayangkan saja jika itu akun bank, bahkan kadang korban secara sadar memberikan password penting kepada penyerang, itu bisa saja dilakukan dengan teknik social engineering dan parahnya lagi tidak perlu orang yang ahli teknologi untuk melakukan teknik ini cukup dengan pengetahuan menggunakan komputer dan internet. Jika digabungkan dengan teknologi dan ahli IT tentu teknik ini sangat berbahaya,” sebutnya.

Misalnya, kata Nahrun, ia menelepon seseorang yang menjadi targetnya. Kemudian, ia mengaku karyawan salah satu bank dan terjadi masalah dengan akun internet banking target yang mewajibkan si target untuk melakukan reset password akun internet banking tersebut pada alamat (url) yang ia kirimkan ketika si target memasukkan username dan password-nya di halaman web yang dikirimkan.

Saat itu juga, ia bisa mengetahui dan dapat dengan bebas mengakses akun internet banking target. “Tentu saja saya sebagai penyerang (penipu,red) membutuhkan informasi pribadi target agar target lebih yakin, untuk mendapatkan informasi target tentu adalah dengan mencarinya di internet, melakukan pendekatan ke teman-teman target atau bahkan berkenalan lagsung dengan target,” ungkapnya.

Tapi tentu selalu ada cara agar terhindar dari penipuan tersebut, yang pertama adalah tentu amankan semua akun media anda baik itu email, facebook dan twitter atau akun lainnya. Jika perlu lakukan pengamanan dua autentifikasi dan juga jangan lupa mengamankan perangkatnya (HP, PC atau Laptop).

Kedua, tidak membagikan hal-hal yang privacy ke publik, seperti foto pribadi, kartu kredit, KTP, KK, no telepon atau nomor rekening. Ketiga, jangan mudah percaya dengan pesan atau telepon yang mengaku dari pihak terkait jika meminta anda untuk memberikan akun pribadi anda (NIK, No KK, No rekening, password, atau key kode).

“Pastikan dulu kebenarannya dengan langsung mendatangi atau menelpon kantor pihak yang menelpon tersebut walaupun hal ini tentu cukup menyusahkan kita tapi lebih baik kita waspada karena keamanan selalu berbanding terbalik dengan kenyamanan,” kuncinya. (ded/idr)

Click to comment

Most Popular

To Top