Terbongkar, Napi Pesan Dextro Melalui Hp – Palopo Pos
Kriminal

Terbongkar, Napi Pesan Dextro Melalui Hp

*Lanjutan, 110 Butir Dalam Inter Mie

PALOPO — Kasus penyelundupan obat daftar G yang berhasil digagalkan petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA, Kota Palopo, masih bergulir di Polres Palopo, Kamis 10 Januari 2019 kemarin.

Fakta mengejutkan peredaran pil ‘setan’ itu dikendalikan narapidana (napi) bernama Triagung Alias Topan. Dimana napi kasus penganiayaan tersebut pernah memesang obat jenis Dextro dari dalam Lapas pada tanggal 2 Januari 2019 lalu.

“Ini fakta bahwa hasil penyelidikan polisi, sejumlah saksi menyebutkan bahwa Triagung Alias Topan pernah memesang obat jenis itu. Namun ketika hendak memesang lagi kasusnya terungkap.

Sebanyak 110 butir yang diduga pesanannya yang diselipkan ke dalam bungkus Inter Mie sudah dijadilkan barang bukti,” kata Kasat Narkoba Polres Palopo AKP Zainuddin melalui KBO Sat Narkoba, Ipda Abdianto S.Sos, siang kemarin.

Didampingi Kanit Sidik Sat Narkoba, Aipda Asrulzani, Abdianto menjelaskan kronogis yang sebenarnya bermula saat Triagung Alias Topan mendapat telepon dari Syarul Alias Kadu (masih buron). Pembicaraan melalui handphone (Hp) itu, Kadu menawarkan Dextro kepada Topan seharga Rp300 ribu dimana satu sachet berisikan 10 butir dextro.

Selanjutnya uang Rp300 ribu itu diberikan kepada Ical, juga narapidana untuk diberikan kepada Kadu. “Sebelum kasus ini terungkao Kadu lebih dulu menerima uang itu di Lapas Palopo. Kadu kembali menelpon Topan pada tanggal 8 Januari untuk memastikan pesanannya dititip kepada siapa nantinya. Lalu Topon mengatakan titip saja kepada Awal, juga narapidana,” ungkap Abdianto.

Sebelum Dextro dikirim ke Lapas Palopo, terlebih dulu Kadu membeli 11 bungkus Inter Mie Rasa Kaldu Ayam kemudian diisi dengan obat Dextro. Setelah itu, Kadu meluncur ke tempat kos untuk menjemput Andi Rahman.

Tanpa curiga Andi Rahman mau saja diajak oleh Kadu ke Lapas mengendarai sepeda motor matic milik pacar Kadu. Kadu membonceng Andi Rahman menuju Lapas Palopo sedangkan Inter Mie berisi obat digantung dibawa stir motor.

Setibanya di parkiran Lapas, Kadu enggan masuk membawa bungkusan pesanan Topan. Itu karena asalan tidak punya KTP. Ia pun menyuruh Andi Rahman membawa masuk semua bungkus inter mie itu.

Namun belum lagi titipannya diterima oleh Topan, petugas Lapas berhasil menemukan satu bungkus inter mie berisi 11 sachet pil yang berjumlah 110 butir dextro.

“Dari sekian banyak inter mie, hanya satu bungkus diisi 11 sachet pil Penemuan ini dilakukan oleh petugas Lapas secara manual dengan cara merobek bungkusan inter mie. Sementara itu, Kadu langsung kabur meninggalkan Lapas setelah tahu rekannaya tertangkap,” kata Abdianto.

Hari itu juga, Andi Rahman yang kedapan menyelundupkan pil dextro ke dalam Lapas mulai terbit disejumlah media online. Namun fakta yang sebenarnya, bahwa Andi Rahman bukan pemilik pil itu, akan tetapi dijebak oleh Kadu yang belum lama ini ia kenal.

“Nah, seperti itu hasil penyelidikan polisi. Jika seandainya pesanan itu berisi sabu-sabu maka Andi Rahman akan dijerat, namun karena obat daftar G, sebagaimana dalam Undang-undang kesehatan tahun 2009 Andi Rahman sulit dijerat hukum. Sehingga, yang akan dijadikan tersangka yakni Triagung Alias Topan. Sementara itu, Kadu hingga saat ini masih buron,” tandas Abdianto.

Seperti diberitakan sebelumnnya penyelundupan 110 butir pil dextro (bukan 100 butir. Red) ke dalam Lapas Kelas IIA, Rampoang, Kota Palopo, berhasil digagalkan oleh petugas Lapas, Selasa 8 Januari lalu. Petugas terpaksa mengamankan Andi Rahman dengan barang bukti tersebut. (him)

Click to comment

Most Popular

To Top