Utama

Jadi Caleg karena Panggilan Jiwa

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

*Brigjen TNI (Purn) Muslimin Akib

Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI (Purn) Muslimin Akib SE MM (JMA) merupakan satu dari sekian banyak putra Tana Luwu yang maju sebagai caleg DPR-RI. Ia maju sebagai anggota dewan semata-mata panggilan jiwa membangun bangsa, khususnya dapil.

Ia mengendarai Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan nomor urut 4 pada Daerah Pemilihan (Dapil) Sulsel III meliputi Luwu Raya, Toraja, Enrekang, Sidrap, dan Pinrang.

Pria kelahiran 1960 ini, menamatkan pendidikan umum Sekolah Dasar di Belopa tahun 1973, SMP di Belopa tahun 1976, SMA di Belopa lulus tahun 1980. Dan masuk Akademi Militer (AKMIL) tahun 1985.

Selanjutnya bertugas di satuan Komando Pasukan Khusus dengan jabatan sebagai Komandan Peleton selama satu tahun, bertugas di Timor-Timur sebagai pelatih/instruktur. Dari pangkat letnan sampai kolonel, Muslimin berada di satuan tempur lintas udara Kostrad.

Jabatan terakhir, Wakil Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Darat.
Aktivitas JMA sekarang, memberikan bantuan bibit padi dan kopi kepada petani. Hasil produksi pertanian, dalam satu hektar dapat mencapai 9,3 sampai 9,5 ton per hektar. Untuk kopi, baru dalam tahun pertama berbuah dengan umur satu tahun. Jenis kopi arabika komesty.

”Saya masuk tentara karena pengabdian kepada negara. Setelah pensiun, maju sebagai Caleg karena juga panggilan jiwa. Terpanggil karena ada rasa keprihatinan terhadap kondisi saat ini, dan berikutnya adalah kondisi Tana Luwu saat ini,” terang Muslimin dalam sebuah wawancara dengan Palopo Pos, Selasa, 12 Februari 2019, kemarin.

Dimana, hasil produksi pertanian diimpor hanya karena hasil produksi pertanian kekurangan, misalnya beras, jagung, kedelai, gula, garam. Indonesia sangat subur, seharusnya tidak ada produksi pertanian yang diimpor. Justru sebaliknya Indonesia seharusnya mengekspor hasil produk pertaniannya.

Ada beberapa komoditi ekspor Indonesia khususnya Tana Luwu yang seharusnya ditingkatkan produksinya misalnya, kopi, kakao, kedelai, cengkeh, lada (merica), dan rumput laut. Semuanya ini di Tana Luwu.

Permasalahannya adalah yang dihadapi petani saat ini, ketersediaan bibit, ketersediaan pupuk, air, pembasmi hama dan Sumber Daya Manusia (SDM). Bagaimana mungkin produksi petani meningkat jika yang ditanam gabah, bukan bibit.

Kelangkaan pupuk yang sering terjadi di saat petani membutuhkan,
Oleh karena itu ke depan, pertanian dibangun dengan sistem terpadu. Yaitu, setiap daerah ada penangkaran bibit padi, ada penangkaran bibit kopi, coklat, yang bermutu, sehingga semua harus tersedia.

Ilmunya sudah ada, lahannya ada. Yang tidak ada, niat yang tulus, ikhlas, untuk kepentingan petani. Kapan bisa melihat petani senyum, ketawa karena hasil panennya berlimpah. Tapi justru di saat panen, impor beras. Takkala beras harga naik, buru-buru operasi pasar. ”Jadi kapan kita bisa melihat petani tersenyum menikmati hasil pertaniannya?,” kata JMA.

Tentang budaya dan pariwisata. Tana Luwu memiliki budaya yang sangat dikenal di luar negeri yaitu sastra I La Galigo. Ini merupakan daya tarik bagi wisatawan khususnya mancanegara. Untuk memajukan budaya Tana Luwu maka terlebih dahulu sebagai wija to Luwu harus memahami budayanya sebelum orang lain mengenal budaya kita. Kenali negerimu, sebelum mengenal negeri orang.

”Jika kita sudah mengenal negeri kita, asal usul nenek moyang kita, maka tentunya akan tertanam tatanan kehidupan yang bermartabat. Di Luwu dikenal dengan ale’biran (kemuliaan), bagaimana mewujudkan arti dan makna kemuliaan dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Pajung ri Luwu, somba ri Gowa, mangkau ri Bone. Ini kalimat sangat mengandung nilai-nilai luhur yang harus dihayati, dikenali, dan diwujudkan. Maka itu akan terpatri dalam jiwa pribadi dalam bersosialisasi dengan siapa pun. Jika budaya dilestarikan, maka dengan sendirinya akan melahirkan wisatawan, baik itu wisatawan lokal dalam negeri maupun wisatawan mancanegara.

Dalam pengembangan Tana Luwu ke depan, JMA telah memiliki konsep yang brilian yakni wisata Teluk Bone yang berpusat di Tana Luwu, Palopo. Potensinya sudah ada, dan sudah dikenal ilmuan sampai ke Eropa. Seperti sastra La Galigo yang dikenal berasal dari Tana Luwu.

Tana Luwu juga dikenal dalam sejarah dunia sebagai daerah penghasil besi utama. Kerajaan tertua di Sulawesi Selatan juga ada di Tana Luwu. Masjid tertua di Sulsel juga ada di Tana Luwu, Masjid Jami. Juga ada makan Datuk Sulaiman di Malangke. Apalagi orang Bugis terkenal sebagai pelaut ulung di dunia. Semua itu berada di kawasan Teluk Bone.

Potensi-potensi itu dikemas dalam paket perjalanan wisata Teluk Bone. Daerah-daerah yang memiliki keterkaitan dengan potensi yang mendunia itu, menjadi titik-titik pusat pengembagan budaya Tana Luwu.

Mulai dari Palopo, Bua, Belopa, Suli, Larompong, Bulukumba, Selayar. Baru nyeberang ke Tama Nasional Wakatobi, terus ke Kolaka Utara, Bulu Poloe (Malili), dan kembali ke Palopo. Itu konsep perjalanan wisata dengan kapal pesiar yang berputar terus menerus Teluk Bone.

Disamping wisata Teluk Bone, juga terkoneksi dengan wisata alam. Misalnya, air terjun di Desa Kaladi, Desa Tibussang, Desa Ulusalu, dan masih banyak wisata alam lainnya. Wisata alam dipadukan dengan wisata kopi yang ada di sepanjang gunung Latimojong sampai ke Seko (Luwu Utara).

Tidak ketinggalan wisata kulinernya. Tana Luwu punya sumber makanan diluar dari besar yaitu sagu. Bagi orang Luwu, sagu adalah makanan favorit saat ini. Sagu tumbuh dengan subur. Insya Allah sampai dengan sekarang hutan sagu tidak pernah dipupuk, tidak pernah kena hama dan sebagainya. Berkah Tuhan dipersembahkan kepada wija to Luwu.

”Kita harus bersyukur kepada Tuhan bahwa kita telah diberikan sumber kehidupan yang tiada hentinya. Pertanyaannya kemudian, mampukah kita generasi penerus menjaga dan melestarikan sagu tersebut?.

Tentu, sarana dan prasarana pariwisata juga harus siap dengan layanan sesuai dengan standar internasional. Kenapa demikian, tatkala wisatawan akan berkunjung ke Tana Luwu, maka yang dipertanyakan adalah adakah tempat menginap/hotel, bagaimana jenis makanannya, bagaimana hubungan sosial masyarakatnya.

Oleh karena itu, Luwu yang telah dikenal dengan ale’biran-nya atau kemuliaan, maka kita harus menyiapkan diri untuk menerima setiap orang yang berkunjung ke Tana Luwu. Baik dalam hubungan kekerabatan maupun hubungan sosial masyarakat.

Jadi semua lapisan masyarakat bisa mendapatkan manfaat. Mulai dari pengusaha hotel, restoran, pengusaha kuliner, sampai tukang ojek, dan masyarakat bisa jadi pemandu wisata.

Jika Allah Swt memberi amanah kepada Jenderal TNI (Purn) Muslimin Akib (JMA) duduk di Senayan, sudah disiapkan delapan program bina desa yang akan diperjuangkan melalui parlemen untuk dilaksanakan eksekutif.

Ke-8 program bina desa JMA tersebut yakni pendidikan, budaya dan pariwisata, pemberdayaan masyarakat desa, perbaikan jalan desa, bantuan penguatan BUMDes, pembinaan generasi muda, peningkatan produksi komoditi ekspor, dan peningkatan hasil produksi pertanian.

”Demikian secara singkat pemikiran saya dalam rangka mengemban amanah sebagai seorang putra Luwu yang memiliki kepedulian terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Tana Luwu.

Bagaimana konsep peningkatan hasil produksi pertanian, peningkatan produksi komoditi ekspor, dan lainnya, kita bahas di kesempatan lain,” ujar JMA. (ikh)

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Click to comment

Most Popular

To Top