Utama

Bikin Ricuh, Ditembak

* Kapolres Palopo Ingatkan Masyarakat Tertib Pemilu

PALOPO — Kapolres Palopo AKBP Ardiansyah mengeluarkan ancaman. Siapa saja yang membuat kericuhan terkait pemilu, langsung ditembak.

“Kami tak segan-segan tembak siapa saja yang membuat huru-hara terkait Pemilu, Rabu (17/4) besok,” kata Kapolres Palopo saat diwawancarai Palopo Pos usai teleconference dengan Polda Sulsel, dan Polri, kemarin di Mabes Polres Palopo.

Perwira tertinggi polisi di Kota Palopo ini menegaskan, Pemilu Presiden dan Pileg sudah di depan mata. Diharapkan seluruh masyarakat terkhusus masing-masing tim pemenangan calon untuk tetap menjaga situasi kamtibmas jelang Pemilu hingga akhir berjalan tertiba, aman, damai dan sukses.

Namun, kata Kapolres, jika nantinya ada oknum-oknum yang mencoba melakukan kericuhan selama berlangsungnya Pemilu, maka Polres Palopo, akan melakukan tindakan tegas.

“Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti membuat rusuh pastinya akan ditindak tegas,” kata Kapolres.

Ditanya soal penindakan yang dilakukan terhadap perusuh, perwira dua bunga melati itu menjawab, penindakan tegas dan terukur akan dilakukan. “Penembakan dilakukan sesuai prosedur menggunakan peluru karet dan apabila mengancam jiwa maka kita lumpuhkan,” tegasnya.

Kapolres menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan Pemilu yang damai dan bermartabat.
“Sebab, peran masyarakat sangat penting untuk mengsukseka n pesta demokrasi nanti,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polda Sulsel mewajibkan anggotanya menembak bagi yang menganggu jalannya pemilu dan pileg (provokator pemilu).
Hal itu ditegaskan Karo Ops Polda Sulsel, Kombes Pol Stephen Napiun saat gelar pasukan di halaman Mapolda Sulsel Minggu, 14 April, lalu.

Menurutnya, indeks kerawanan Sulsel rangking 20, bahkan hampir Panglima TNI, dan Kapolri melaksanakan apel gelar di Sulsel. Itu merupakan sinyal bahwa harus ada kewaspadaan yang tinggi.

Bahkan, semua personel yang memiliki senjata diharuskan dibawa. Baik itu tongkat, borgol, termasuk senjata api. Penggunaan senjata api menunggu perintah dari polres atau yang dituakan. “Apabila ada yang mengancam nyawa, boleh ditembak. Itu perintah tertinggi dari Kapolri,” katanya.

Kewenangan itu (menembak) harus dipertanggungjawabkan. Itu adalah diskresi kepolisian. Sesuai dengan UU nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian negara Republik Indonesia bahwa, seorang anggota polri berhak memutuskan di lapangan sesuai perkembangan situasi dan kondisi walaupun tanpa perintah komandannya.

“Kalau itu mengancam nyawa orang banyak, menganggu jalannya penyelenggaraan lakukan tembakan. Wajib. Wajib ketika ada ancaman kepada masyarakat atau petugas, tembak,” tegas perwira berpangkat tiga melati itu.(ded/idr)

Click to comment

Most Popular

To Top