FEMALE

Jangan Malu Berbahasa Indonesia dan Daerah

Enhana Tarbiatunnisa
Terbaik III Duta Bahasa Sulsel

Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, saat ini perlahan ditinggalkan. Seringkali dicampur aduk dengan bahasa asing atau bahasa kekinian. Inilah tugas berat dari Duta Bahasa, dalam mensosialisasikan ke masyarakat.

Enhana Tarbiatunnisa, mahasiswi IAIN Palopo Prodi Bahasa Inggris semester 4, berhasil menorehkan prestasi bagi kampusnya dan Kota Palopo. Berhasil meraih predikat terbaik III Duta Bahasa Tingkat Provinsi Sulsel, baru-baru ini di Makassar.

Dalam kunjungannya ke Redaksi Palopo Pos, Jumat, kemarin, anak dari pasangan Hairil Anwar, S.Ag M.Pd.I dan Een Sarimaksih, berhasil menyisihkan puluhan kontestan lainnya dari pelbagai daerah di Sulsel.
“Totalnya itu ada sekira 50 peserta awalnya yang mendaftar online dan yang mengirimkan essai,” ujarnya didampingi dosennya, Devani Mardiana, M.Pd.

Tugas berat menantinya setahun ke depan. Bagaimana sebanyak dan efisien mungkin bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Karena saat ini, kata Enhana, penggunaan Bahasa Indonesia sudah tercampur baur dengan bahasa kekinian. Selain mensosialisasikan penggunaan Bahasa Indonesia, ia juga mengajak bagaimana melestarikan ‘Bahasa Ibu’, yakni bahasa daerah. Hal ini sesuai dengan semboyan “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing”, dengan menyesuaikan kondisi.

Di Palopo sendiri, dari hasil pengamatannya, kata Enhana, masih banyak penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak sesuai atau tepat. Misalnya, pada penggunaaan kata “I Love Palopo” di Taman Binturu. Menurutnya, itu salah satu penggunaan kata yang kurang pas.

Seharusnya, lebih menonjolkan dalam menggunakan Bahasa Indonesia. Selain itu, juga perlua adanya pelestarian bahasa daerah dan aksara Lontara sebagai huruf asli Tana Luwu. Kenapa? menurutnya, ini sebagai simbol dan ciri khas Kota Palopo sendiri. Juga tidak menghilangkan martabat Bahasa Indonesia.

“Saya yakin, pasti masih banyak diantara kita yang tidak tahu membaca aksara Lontara. Nah, ini yang harus dilestarikan,” sebutnya.
Ia juga mengajak kaum milenial, agar dalam berkomunikasi lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa ibu. “Jangan malu pakai Bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Tunjukkan kebanggaan kita sebagai Wija To Luwu,” ajaknya.

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Palopo yang menguasai 3 bahasa ini. Yakni, Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris menceritakan, kalau lomba pemilihan Duta Bahasa yang diikutinya beberapa waktu lalu, menjadi lomba yang tersulit. Pasalnya, harus melewati serangkaian tes.

Setelah lolos 50 besar, ia lalu harus mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang tesnya mirip dengan tes TOEFL. “Ada standar nilai yang harus dicapai,” ungkapnya.

Setelah masuk dalam 12 besar, ia lalu harus mengikuti pembekalan sehari penuh dari para pakar Bahasa Indonesia. Mulai dari kelas cara membuat karya tulis ilmiah, kelas retorika, dan kelas bagaimana menjadi seorang duta.

“Di sinilah saya baru tahu, kalau banyak sekali kosakata baku Bahasa Indonesia. Seperti, gawai itu untuk gadget, samir itu ternyata slempang, lalu, pelantang atau mikrofon, serta kudapan atau makanan ringan,” jelasnya.(idr)

Data Diri

Nama : Enhana Tarbiatunnisa
TT: : Palopo, 18 November 1999
Ayah : Hairil Anwar, S.Ag M.Pd.I
Ibu : Een Sarimaksih
Saudara : Nur Fajriah
Muhammad Taufiqurrahman
Pendidikan : – SDN 231 Lakawali
– SMPN 3 Malili
– SMAN 12 Luwu Timur
– IAIN Palopo, Prodi Pend. Bahasa Inggris Sem. 4
Organisasi : IPEDS (IAIN Palopo English Debating Society)
Prestasi : – Juara 3 Ana Dara Daeng Kab. Lutim
– Juara 2 Ana Dara Kallolo Kota Palopo
– Terbaik 3Duta Bahasa Sulsel

Click to comment

Most Popular

To Top