Ragam

CUKUP DUA PERIODE, SAJA !

Oleh: Armin Mustamin Toputiri

Hari ini, Juma’t, 17 Mei 2019, persis sebulan pasca hari pencoblosan Pileg dan juga Pilpres 2019. Saat yang bersamaan, KPUD Sulsel selaku penyelenggara pemilu, juga telah menuntaskan Rapat Pleno Rekapitulasi dan Penetapan Hasil Perhitungan Perolehan Suara Pemilu 2019, diantaranya mensahkan 85 orang yang terpilih dari perwakilan sekian partai politik, sebagai Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Periode 2019-2024, yang akan memulai bekerja 23 September 2019.

Sesuai pertimbangan saya sebelumnya, inilah momentum yang tepat secara konstitusional, dan juga sesuai fatsun politik, saya menyampaikan semacam testimoni ucapan selamat, baik kepada para saudara saya yang kembali dipilih oleh rakyat, maupun pada mereka yang baru kali ini, pun dipilih untuk menduduki kursi “yang terhormat” itu di tingkat provinsi, lebih khususnya pada 11 orang dari Daerah Pemilihan 11 Luwu Raya (Luwu, Palopo, Luwu Utara dan Luwu Timur).

Secara pribadi, meski sekian diantara mereka tidak saya mengenal secara dekat, tapi setidaknya saya mengetahui kapasitas dan kapabilitas mereka, lebih dari cukup kelak mengemban amanah rakyat untuk menunaikan fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan sebagai seorang legislator. Meski di sisi lain, dipahami bahwa untuk menjalankan fungsi-fungsi itu secara sempurna, sama sekali tak semudah dibayangkan, tetapi proseslah pada akhirnya yang kelak melengkapinya.

Saya memahaminya seperti itu, sebab sama seperti sediakala ketika saya mengemban amanah yang sama. Meski setengah usia saya ditempa dari ragam organisasi, baik regional maupun di tingkat nasional, bahkan mungkin internasional sekalipun, mulanya dianggap lebih dari cukup untuk mengemban fungsi secara baik di lembaga terhormat itu, tetapi saya sadari bahwa pada akhirnya tak bisa dipungkiri, jika gelinding proseslah yang kelak akan, minimal, melengkapinya.

Sisi lain pada momentum yang tepat di hari ini, saya juga serasa tak elok jika tak menyampaikan terima kasih, juga permohonan maaf, baik kepada mereka yang telah terjun langsung ikut serta membantu saya meraih dukungan, terkhusus kepada 11.446 orang, yang secara murni memilih mencoblos nama saya di sejumlah bilik TPS di wilayah Luwu Raya. Ucapan terima kasih, sebagai penghormatan. Dan memohon maaf, sebab dukungan mereka tak berhasil saya tunaikan.

Jumlah 11.446 suara dukungan, bukanlah jumlah yang sedikit. Apalagi diraih secara murni, tidak ada dukungan penguasa, dukungan penyelanggara, lebih-lebih tanpa politik uang. Tapi hasilnya (mungkin) diraih dari buah kerja keras 321 titik kunjungan sosialisasi yang selalu ramai pemilih. Mungkin, sebab dari jumlah kunjungan itu, tak berbanding lurus dengan jumlah suara diraih di TPS di titik kunjungan dimaksud. Lalu entah musabab apa? hingga kini saya belum paham!.

Terlepas dari dan dengan segala cara, kelebihan juga kekurangannya, sebagai orang yang cukup lama memilih jalur hidup sebagai pekerja politik, maka saya pun dituntut berdamai untuk mau tak mau, harus menerima realitas politik yang sudah terjadi. Sama sebelumnya ketika saya juga terpilih sebagai Anggota DPRD Sulsel, dua periode, selalu dengan raihan suara murni terbesar kedua seluruh caleg di dapil. Pemilu 2009 meraih 15.392 suara, dan 2014 menaik menjadi 17.076.

Dua periode, sepuluh tahun, waktu yang tak singkat. Penuh dedikasi berhasil menghantar Luwu Tengah ke pusat. Menyelamatkan nasib Bank Sulselbar, aset Pemprov terhadap lahan al-Markaz al-Islami, di Stadion Mattoanging, Gedung PWI. Lainnya menyelamatkan robohnya atap Istana Kedatuan Luwu, pembuatan jalan ke Rongkong dan Universitas Andi Jemma, menghantar lada Luwu Timur ke mancanegara, serta dedikasi lain yang diharap tak instan, tapi berkelanjutan.

Pada akhirnya, lebih tepat menyebutnya, “Cukup Dua Periode Saja”, seperti judul testimoni ini. Menambah kata “saja”, sebab demikian dimaui rakyat sebagai si pemilik kedaulatan demokrasi yang berlangsung terbuka. Banyak pihak menilai sistem pemilu kali ini “brutal”, dan walau saya telah lima kali mengikuti pemilu legislatif, bisa membedakan, tapi bukan saatnya menanggapi. Kali ini sebatas testimoni. Biarlah semua itu jadi bagian tulisan saya kelak kala mengisi masa “pensiun”. (*)

 

Click to comment

Most Popular

To Top