Toraja

DPRD Tator Keluarkan 7 Rekomendasi

* Tengahi Permintaan Warga Buakayu-PT Male

MAKALE — Komisi III DPRD Tana Toraja meninjau langsung mega proyek PT Malea Energy Hydropower (MEH) di Kecamatan Makale Selatan, Selasa (14/5), lalu.

Peninjauan ini berdasarkan tuntutan warga terhadap dampak yang terjadi akibat penyempitan Sungai Sa’dan, hingga mengakibatkan lahan kebun longsor, dan sawah warga Lembang Buakayu terendam banjir di sekitar bantaran Sungai Sa’dan, serta jembatan gantung yang berada di sekitar PT MEH rusak.

Selain kejadian tersebut berdampak bagi masyarakat juga berdampak bagi PT MEH dimana beberapa unit kendaraan serta alat berat PT MEH terseret oleh arus air salah satu nya alat pemecah batu yang rusak akibat bencana yang terjadi pada, (28/4) dimana kecepatan air saat itu mencapai 2.600 meter kubik per detik.

Site Maneger Mega proyek PT MEH, Muhamad Syakur tetap beranggapan bahwa peristiwa tersebut merupakan bencana alam.
“Kita tidak bisa memprediksi kapan bencana alam itu terjadi, karena di sini juga bukan hanya masyarakat yang merasakan dampaknya namun beberapa unit kendaraan serta alat berat kami (PT MEH,red) juga terseret air saat itu,” ucap Syakur menjawab tudingan selama ini.

Sependapat dengan hal itu pihak BMKG melalui Kepala Stasiun Meteorologi Klas IV Bandara Pongtiku Agung Sudiono memastikan banjir bandang di area PT MEH akibat cuaca ekstrem.

Lebih lanjut di jelaskan Agung, BMKG memberikan data monitor per 3 bulan kemudian merilis per 2 bulan lalu kemudian per bulan, per minggu, per hari, hingga warning, dan disitulah terjadi puncaknya.

“Saya sendiri monitor perjam dan itu tercatat curah hujan di Toraja 50-100 kubik per hari air berkembang terus tanpa orang sadari karena dari pagi sampai sore saat itu hujan terus,” jelas Agung.
Sementara itu Wakil Ketua DPRD Tana Toraja Andreas Tadan mengatakan, sebagai perwakilan Rakyat yang menampung aspirasi dari Rakyat akan mencari solusinya.

“Sebagai perwakilan Rakyat kita tetap berpihak kepada rakyat namun kita tetap menghargai keberadaan PT Malea yang merupakan investasi cukup besar di Tana Toraja yang merekrut ratusan tenaga kerja dan memberikan akses jalan bagi masyarakat setempat sehingga PT Malea akan tetap bersinergi dengan kita,” terang Andreas.

Adapun 7 rekomendasi kepada PT. Malea. Pertama merekomendasikan kepada pihak PT Malea Energy Hydropower untuk membangun kembali jembatan gantung Remba di Lembang Palesan.

Kedua merekomendasikan pihak PT Malea untuk membangun kembali jembatan gantung Balulang di lembang Buakayu. Ketiga, merekomendasikan pihak PT Malea membangun Talud /bronjong di jalan rusak yang terkena dampak bencana.

Keempat merekomendasikan PT Malea untuk memberikan aliran listrik gratis bagi masyarakat yang lahannya dibebaskan. Kelima, merekomendasikan PT Malea memberikan insentif bagi aparat lembang Buakayu. Keenam merekomendasikan PT Malea untuk pembangunan jalan khusus di lembang Buakayu berdasarkan proposal yang diajukan masyarakat. Ketujuh merekomendasikan PT Malea untuk melanjutkan tuntutan pemakaian nama Malea ke pimpinan di Jakarta.

Ketujuh rekemendasi tersebut dituangkan dalam bentuk berita acara dan ditanda tangani oleh ketua komisi 3, Kristian HP Lambe. Site Manager PT. Malea Energy Hydropower, Muh. Syakur kepala lembang Buakayu, Jonly dan tokoh masyarakat lembang Palesan, Paulus Paonganan.(mg2/idr)

Click to comment

Most Popular

To Top