Metro

Tiga Hektar Padi Gagal Panen

*Petani di Jaya Keluhkan Alat Pemanen

JAYA — Tiga hektar sawah di Kelurahan Jaya gagal panen. Hal ini diakibatkan, tidak adanya mesin pemanen (harvest combine) masuk ke areal persawahan tersebut, sehingga menyebabkan padi yang siap panen dibiarkan begitu saja.

Salah seorang petani yang biasa dipanggil Papa Demma kepada Palopo Pos, Kamis 16 Mei 2019 mengatakan, akibat tak adanya mesin combine yang masuk ke sawahnya, kerugian mencapai Rp80 Juta.

”Biaya yang telah kami keluarkan selama proses penanaman padi mencapai Rp10Juta dan seandainya padinya berhasil dipanen, maka hasil yang diperoleh bisa mencapai Rp70 Juta,” jelas Papa Demma kecewa.

Impian untuk mendapatkan penghasilan dari menanam padi ini hanya tinggal mimpi yang dialaminya. Sang pemilik sawah merasa diperlakukan tidak adil karena alat pemanen tidak mau melayani sawah miliknya.

Hanya sawah miliknya yang belum terjamah mesin pemanen. Padahal masa panen padinya sudah melewati batas panen, sedang sawah di sekitarnya sudah terpanen semuanya.

‘Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya besar apa yang sebenarnya terjadi. Bantuan alat untuk petani ternyata pemanfaatannya di lapangan belum merata.

Papa Demma mengatakan, jauh sebelum masa panen, dia sudah mendaftarkan sawahnya untuk dipanen menggunakan alat pemanen bantuan pemerintah lewat Kelompok Tani (Koptan) yang dia ikuti.
“Saat padi saya masih hijau, saya sudah mendaftarkan sawah saya untuk dipanen, jika tiba waktunya dipanen.

Namun ketika alat itu sudah disamping sawah saya memanen padi, saya meminta tolong agar sawah saya juga sekalian dipanen, namun sang operator mesin menolak dengan alasan bukan langganan. Langganan yang mana? saya sudah mengikuti semua prosedur namun kenyataannya sawah saya tidak dapat dilayani,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Palopo melalui Kepala Bidang TPH, Nasir saat dikonfirmasi menampik anggapan kalau sawah milik petani tersebut tak dilayani mesin combine. Yang sebetulnya terjadi, mesin alat pemanen atau combine telah masuk ke areal sawah milik Papa Demma, namun combine tersebut tenggelam di lumpur, sehingga harus ditarik dengan traktor empat roda.

”Kondisi sawah di Kelurahan Jaya memang berlumpur dan mengakibatkan combone tenggelam sehingga tak bisa memanen karena akses ke sawah tersebut tak memungkinkan,” jelas Nasir.

Ia melanjutkan, dirinya mengakui telah menerima laporan dari petani di Kelurahan Jaya, makanya pihaknya mengarahkan brigade ke sana, namun kondisi akses ke sawah tersebut tak bisa dilalui combine.
”Memang waktu panen ini bertepatan dengan musim hujan. Di Kelurahan Jaya memang sawahnya berair.

Tipe sawahnya begitu, tak seperti sawah lainnya yang jika sudah 15 cm sudah keras, namun di sana tidak malah berair, karena dasarnya rawa serta berlumpur,” tuturnya.

Solusinya, sebutnya untuk panen itu memakai tenaga orang, namun saat ini sangat sulit mencari tenaga orang.
”Dua combine telah diarahkan ke saya namun semuanya tenggelam dan akhirnya ditarik menggunakan traktor. Sehingga kalau dipaksakan maka panen di sawah lain akan terhambat,” terangnya.

Saat ini, sebutnya, armada combine milik Dinas Pertanian hanya berkisar 15 unit dan melayani 2.689 hektar sawah di Kota Palopo.
”Untuk memenuhi panen padi biasanya kami mengambil combine dari luar, namun tahun ini, jadwal panen bersamaan, sehingga tak bisa mengambil dari luar,” tandasnya. (rhm)



Click to comment

Most Popular

To Top