Utama

Surat Terbuka Buat Sdr Ismail Wahid

Tanggapan Surat Terbuka

*Surat Galau Seorang Anak Durhaka*

Menanggapi isi surat terbuka sdr Ismail Wahid yg dipublish sekira 16 yg dimuat di www.ujungjari.com Mei 2019, yg ditujukan kepada Bpk. H. Bahrum Daido dan Bpk. Frederick Battisorring, maka sy sebagai org yg merasa peduli dengan keberlangsungan proses demokrasi dan pemilu yg sehat, berkualitas, jujur, adil dan rahasia, menyampaikan bahwa apa yg menjadi isi dan muatan di dalam surat itu menunjukkan pandangan yg keliru oleh sdr. Ismail Wahid terhadap proses yg sementara berlangsung, oleh karena siapapun  peserta/caleg yg merasa dicurangi akan melakukan langkah2 dan upaya hukum untuk mencari sebuah keadilan, bukankah dalam penyelenggaraan pemilu ini memiliki regulasi yg jelas (UU. No. 7 thn 2017 ) bilamana terdapat permasalahan terkait dgn penyelenggaraan, khususnya terdapat “kecurangan” maka ada koridor penyelesaian dengan segala konsekwensinya.

Sudah menjadi rahasia umum bagi kita di Luwu Raya khususnya Kab Luwu, setiap kali dalam pelaksanaan pemilu/Pilkada maka daerah pemilihan yg dianggap rawan untuk melakukan kecurangan ada di wilayah yg menjadi objek sengketa kedua pihak ini, (Walenrang Barat & Walenrang)
Stigma ini sdh melekat pd dua wilayah kecamatan yg diklaim sbg basis besar dan militan terhadap oknum tertentu. Kembali sy tekankan bahwa ini bukan persoalan menang kalah, akan tetapi kita ingin mengembalikan marwah penyelenggaraan pemilu yg sehat dan bermartabat tanpa intervensi oknum tertentu sehingga bukan hanya kita yg merasakan tetapi dpt dicontoh oleh anak cucu kita.

Sungguh mengherankan bg sebahagian dr mereka yg merasa kaget dan penuh kecemasan serta dgn perasaan panik mengeluarkan surat terbuka terkait laporan tentang dugaan kecurangan melalui penggelembungan dan memanipulasi data, padahal bukan itu yg menjadi substansi. Biarkanlah proses ini berjalan, toh kalaupun ini tanpa kecurangan tentu juga akan menuju Senayan.

Menerima kecurangan bukanlah sikap legowo dan menunjukkan kematangan politik seseorang akan tetapi lebih memperlihatkan jati diri sebagai seorang pecundang yg membiarkan segala kemungkaran terjadi. Semoga saja sy tdk salah dengan segala kesaksian bisu oleh yg merasa sebagai saksi ini. Apalagi sepengetahuan sy, saksi tersebut juga sekaligus tim pemenangan Caleg yg diperkarakan.

Pula, kedua beliau yg memperkarakan hasil pileg tsb, bukanlah figur instan. Keduanya adalah tokoh yg mempuni & memiliki integritas yg sdh dipahami. Keduanya adalah eks Bupati. Tentu atas segala pertimbangannya, tidak asal melangkah. Justru kedua beliau tersebut patut kita support, karena mereka pada prinsipnya, membela hak-hak demokrasi warga yg dijarah dgn cara² inskontitusional. Paling tidak, bhw setiap warga negara tidak ada yang merasa kebal hukum & sewenang² melakukan dugaan pelanggaran dlm proses pemilu yg sangat jelas memiliki koridor hukum yg jelas.

Dengan demikian, antara penulis surat terbuka dgn kedua beliau sangat jauh integritasnya. Penulis surat terbuka, tak etis melakukan tindakan demikian dan tak pantas utk memberikan masukan apapun, karena apa yg mereka lakukan adalah hal tidak melanggar etika spt yg saudara Ismail katakan. Boleh dikata, penulis adalah anak yang durhaka terhadap orang tua dan hal itu tentu bertentangan dgn nilai² moral yang intinya adalah “kurang bermoral”.

Wallahu a’lam bisawaf.

Luwu Selatan

Click to comment

Most Popular

To Top