Utama

Keterangan Saksi Utama Berubah-ubah

* Melacak Pembunuh Idaroyani

PALOPO — Tim penyidik Polres Palopo saat ini masih berupaya untuk mengungkap kasus pembunuhan Idaroyani (40) yang ditusuk gunting di dalam rumahnya, Jl Mengemudi, Kelurahan Temmalebba, Kecamatan Bara, Kota Palopo, hingga akhirnya meninggal dunia di rumah sakit.

Saat ini, polisi masih menemui kesulitan karena kesaksian anak korban masih berubah-ubah.

Terkadang ia menyatakan bahwa pelaku yang menusuk ibunya ada satu orang, tapi terkadang ia juga bilang jika pelakunya sebanyak tiga orang.

Menurut Kasat Reskrim Polres Palopo, AKP Ardy Yusuf dari keterangan saksi utama, yakni anak korban yang berusia 5 tahun memang kerap berubah-ubah dalam memberikan keterangan, sehingga Polisi butuh waktu yang tepat untuk memastikan keterangan bocah bernama Arun itu.

“Arun adalah bocah perempuan yang merupakan saksi utama karena melihat langsung ibunya dianiaya pelaku. Hanya saja, keterangannya sering berubah-ubah. Anak itu menyampaikan ibunya berkelahi dengan pelaku di dalam kamar.

Saat ditanya jumlah pelakunya, anak itu menjawab satu orang. Ditanya lagi ia menyebutkan ada tiga orang menggunakan topeng warna hitam,” kata Kasat Reskrim, saat ditemui Palopo Pos, Selasa 28 Mei 2019, siang kemarin.

Soal gunting yang diamankan polisi, anak itu ternyata ingat betul bahwa gunting itu memang di pegang pelaku menusuk ibunya. “Saat diperlihatkan, anak korban mengenal gunting warna hitam itu. Gunting itu sempat digunakan ibunya mengunting rambut pada malam hari sebelum terjadi pembunuhan,” kata Kasat Reskrim.

Walau keterangan anak korban berubah-ubah, namun polisi akan menyempurnakan proses penyidikan kasus pembunuhan ini, dengan memeriksa saksi-saksi lainnya, seperti tetangga korban bernama Ruslim, dan putranya. Ruslim adalah oknum guru salah satu SMA di Kota Palopo.

Ia yang mengantar korban ke rumah sakit menggunakan kendaraan pribadinya. “Bahkan tiga buruh bangunan yang baru dua hari bekerja di rumah korban juga diperiksa intensif. Apalagi Polisi menemukan ada puntung rokok jenis Sampoerna Mild di lantai rumah korban,” ungkap Kasat Reskrim.

Ditambahkan Kasat Reskrim, saol keterangan anak korban bahwa ibunya berkelahi dengan pelaku ada benarnya, karena melihat situasi dalam kamar korban memang berantakan dan berceceran darah segar di atas kasur dan bantal. “Namun apakah pelakunya satu atau dua orang, bocah itu masih belum bisa memastikan. Kadang bilang tiga kadang bilang satu,” katanya.

Terkait pengambilan sidik jari di TKP, Kasat Reskrim mengatakan sudah dilakukan namun untuk memastikan hasilnya masih akan diteliti dulu di Labfor Polda Sulsel. “Yang pasti, semua yang berkaitan dengan alat bukti dan barang bukti dikumpulkan untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Idaroyani (40) warga tanah kapling, Lorong Mengemudi, Kelurahan Temmalebba, Kecamatan Bara, tewas setelah mendarat 10 tusukan di tubuhnya, Senin 27 Mei 2019. Korban dihabisi oleh pelaku menggunakan gunting milik korban. Saat kejadian, suami korban, Ismail sedang berada di Kecamatan Burau, Pantai Lema, Kabupaten Luwu Timur.

Anilina, adik kandung korban mengatakan, bahwa rumah warna krem itu terkadang kosong, terkadang berisi satu keluarga, yakni suami dan kedua putri korban. Namun pada saat kejadian, korban hanya berdua dengan putri bungsunya bernama Arum (5), sedangkan suaminya di Burau, dan Fuji (15), putri sulung korban berada di Malili, rumah tantenya. (him/idr)



Click to comment

Most Popular

To Top