Utama

H+4 Lebaran, Tujuh Pemudik Tewas

* 27 Luka-luka Saat Mudik Lebaran

PALOPO — Angka kecelakaan lalulintas sebelum dan sesudah Idul Fitri 1440H mengalami penurunan signifikan. Jika pada lebaran 2018, lalu, pada malam takbiran saja, sudah tujuh nyawa melayang di jalanan. Tetapi, tahun ini, selama 12 hari libur lebaran, jumlah korban jiwa yang meninggal dunia sebanyak 7 orang.

“Menurun drastis jumlah kecelakaan dibandingkan tahun 2018, lalu. Dari 29 Mei hingga 9 Juni saja, korban meninggal dunia tujuh orang dan luka-luka 27 orang se Luwu Raya-Toraja,” kata Kepala Jasa Raharja Cabang Palopo, Rou Januar saat ditemui di ruang kerjanya, Senin 10 Juni 2019, kemarin.

Ia menjelaskan, dari tujuh korban meninggal dunia tersebut, sebanyak lima orang terjamin yang mendapat santunan dari PT Jasa Raharja (Persero) sebesar Rp50 juta per orang. Sedangkan dua orang tidak terjamin (tercover) lantaran, kendaraan yang digunakan mudik ternyata bukan kendaraan angkutan umum, melainkan mobil pribadi.

“Yang di Lutim dua orang meninggal dunia tidak terjamin. Setelah dicek, kendaraan itu mobil pribadi yang disewa orang dalam jangka waktu lama. Tahu-tahunya, dipakai mengangkut penumpang.

Kecelakaan, para korban pun tidak bisa kita jamin,” ujar Roy.
Selain itu, dari 27 korban luka-luka akibat kecelakaan, sebanyak tiga orang tidak terjamin lantaran hal yang sama.

Dari total lima korban meninggal dunia yang terjamin oleh Jasa Raharja, masih kata Roy, sebanyak tiga orang terbayarkan di wilayah Luwu Raya. Sedangkan satu orang meninggal di Luwu Raya, tetapi ahli warisnya di Pare-pare, sehingga dibayarkan di sana. Lalu, satu orang lagi warga Luwu Raya meninggal di Bone, santunannya dibayarkan di Luwu Raya.

Dari jumlah kasus kecelakaan di atas, daerah yang paling banyak terjadi kecelakaan ada di Luwu Timur, disusul Kota Palopo, dan Lutra. Sedangkan Kabupaten Luwu nihil.

Sulsel

Direktorat Lalu Lintas Polda Sulsel mencatat, sebanyak 35 kasus kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) dalam arus mudik dan balik lebaran 2019.

Dari 35 kasus Lakalantas selama operasi ketupat, terdapat 21 korban meninggal dunia, 8 korban yang mengalami luka berat dan 22 luka ringan.

Kasubdit Gakkum Dirlantas Polda Sulsel, AKBP Ade Rahmat mengatakan, kasus lakalantas hingga berujung kematian dominan disebabkan kelalaian dari pengendara.

“Rata-rata mereka yang meninggal dunia kelalaian, ada yang kecapean dan tidak berhenti untuk istirahat. Dan itu bukan dari faktor jalan,” ujar AKBP Ade Rahmat.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, pihak kepolisian sudah melakukan teguran dan penindakan terhadap pelanggar lalu lintas. Bahkan, pihaknya sudah mengimbau pengendara untuk tetap hati-hati.

“Kita sudah menyiapkan pos pengamanan Polri di setiap jalur mudik yang dimanfaatkan masyarakat untuk istirahat, juga kesadaran masyarakat yang pulang mudik untuk menggunakan transportasi umum seperti bus,” katanya.

“Kita juga aktif memberikan informasi lalu lintas dan imbauan melalui media sosial untuk mengajak masyarakat mematuhi peraturan lalu lintas,” tutupnya.

Secara nasional, menurut data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mencatat sebanyak 113 orang meninggal dunia selama pelaksanaan Operasi Ketupat pada arus mudik 2019.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari pelaksanaan Operasi Ketupat yang dimulai pada 29 Mei hingga 7 Juni.

Dalam periode itu, Korlantas juga mencatat sebanyak 78 orang mengalami luka berat dan 555 orang mengalami luka ringan dalam kecelakaan lalu lintas.

Untuk jumlah kecelakaan, Korlantas mencatat sebanyak 471 kejadian hingga H+1 Lebaran kemarin. Jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar 63 persen dibanding tahun lalu yang tercatat sebanyak 1.288 kejadian kecelakaan.

Sedangkan untuk kerugian materiil akibat kecelakaan tersebut, tercatat sebesar Rp183.450.000. Jumlah itu turun dibandingkan tahun lalu yang tercatat sebesar Rp271.150.000 atau turun sebesar 66 persen.(idr)

Click to comment

Most Popular

To Top